CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 79


__ADS_3

“Apa tidak apa-apa kalau kita meninggalkan Bunda dan Ayah lebih dulu? Bukannya kita harus menunggu mereka sampai supir datang menjemput, Rio?”


“Kalau Bunda dan Ayah sudah berkata untuk duluan, kita harus mengikuti kata mereka. Jika tidak, Bunda akan marah besar.” Rio membuat alasan.


“Bunda? Marah? Tapi sepertinya Bunda tidak bisa marah. Wajah Bunda begitu kalem dan menenangkan.”


“Tentu saja Bunda begitu kalem. Bunda itu asli putri Solo. Setelah menikah dengan Ayah, Bunda langsung diajak Ayah untuk tinggal di Amerika. Tapi kamu jangan salah, walaupun Bunda tinggal lama di Amerika, dulu saat berhubungan dengan almarhum nenek yang ada di Solo, logat jawa Bunda masih begitu kental. Aku saja tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.”


“Ayah?”


“Ayah? Tentu saja sepertiku. Tidak tahu apa-apa. Jadi setiap kali aku dan Ayah berbicara dengan almarhum nenek dulu, kami selalu menggunakan Bahasa Indonesia. Terkadang aku sedikit tahu kalau Bunda sedang berbicara menggunakan bahasa Jawa, tapi aku tidak bisa membalasnya dengan bahasa yang sama.”

__ADS_1


“Kalian berdua tidak pernah belajar bahasa Jawa?”


“Pernah! Dulu kami pernah diajarkan oleh Bunda. Tapi bahasa kami berantakan dan terbalik-balik. Akhirnya Bunda menyerah mengajarkan bahasa Jawa padaku dan pada Ayah.”


“Hahahahaha . . . pasti Bunda sangat tertekan waktu itu.”


Rio sesekali memandang wajah istrinya yang sedari tadi tersenyum lepas saat mereka membicarakan kedua orang tua Rio.


“Kenapa? Kenapa kamu dari tadi memandangiku terus? Fokus saja kejalan, aku tak mau kita sampai kecelakaan.”


“Aku yang harusnya berterimakasih padamu, Rio. Berkat dirimu, aku bisa merasakan mempunyai orang tua yang menyayangiku, menerimaku yang tak punya siapa-siapa didunia ini. Bahkan Bunda dengan tangan terbuka menerimaku dan menyayangiku seperti anak kandungnya. Aku bahagia sekali hari ini.” Tia membalas genggaman tangan Rio dengan menggenggamnya lebih erat.

__ADS_1


“Jujur aku sangat bingung dan terkejut saat tahu mereka berdua adalah orang tuamu. Aku bingung dengan tindakan apa yang harus aku lakukan didepan Bunda dan Ayah. Aku takut melakukan kesalahan. Tapi kenyataan bahwa mereka berdualah yang menciptakan suasana nyaman saat aku mulai merasakan kekhawatiran. Saat kamu belum sampai dirumah, Ayah beberapa kali harus mengalihkan topik pembicaraan karena aku tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan dari Bunda. Bunda juga tidak mengejar jawaban dari pertanyaan yang tidak bisa kujawab. Mereka berdua memang orang tua yang berharga. Sekarag aku tahu kenapa kamu bisa menjadikan orang tuamu sebagai titik balik kehidupanmu dimasa lalu. Kasih sayang yang mereka berikan memang mampu mengubah setiap pemikiran yang negatif.”


“Kamu tahu? Saat tante Mega mengatakan jika ia disuruh Bunda untuk membuatku meninggalkan rumah, aku langsung berbalik tanpa berpamitan. Aku takut jika kamu akan tertekan jika tahu kedua orang tuaku datang tanpa pemberitahuan. Aku sudah pernah mengatakan jika akan mengenalkanmu pada mereka saat kamu sudah memiliki hati untukku. Tapi siapa disangka jika Bunda dan Ayah memiliki rencananya sendiri.”


“Tapi berkat Bunda dan Ayah, nampaknya aku tahu keputusan yang akan kuambil dimasa depan.”


“Benarkah? Bisakah kamu memberitahuku apa itu?” Rio begitu penasaran.


“Aku akan memberikan jawabannya nanti saat kita berada di Raja Ampat. Bukankah saat itu tepat dua bulan pernikahan kita?”


“Aku sudah tidak sabar ingin mengetahui jawabanmu. Tak bisakah kamu memberitahuku sekarang, Tia?” bujuk Rio.

__ADS_1


“Nanti saja. Bersabarlah.”


“Baiklahhhhh.” Rio mengecup tangan Tia sambil tetap terfokus dijalan.


__ADS_2