
“Hay Yose.” Tia menyapa Yose yang sedang mengobrol dengan Cindy diruang keluarga. Tia baru saja pulang dari kantornya. “Sejak kapan kamu ada disini? Kalian sudah makan?”
“Aku sudah disini sejak siang tadi. Karena kamu sudah datang, sebentar lagi aku akan pulang, Tia.” Jawab Yose.
“Jangan lakukan itu. Lanjutkan saja obrolan kalian. Jangan merasa terganggu karena kehadiranku.” Tia merasa tidak enak. “Sebentar lagi aku akan memasak untuk kalian berdua.”
“Aku takut jika kehadiranku akan mengganggu istirahatmu.” Tambah Yose.
“Tentu saja, tidak. Aku sama sekali tidak masalah dengan kehadiranmu. Justru aku senang kamu menemani Cindy dirumah ini. Tapi aku ingatkan Yose . . .” Tia berhenti sejenak untuk menatap Yose “Cindy sedang hamil. Jadi jangan, em . . . kamu pasti tahu maksudku. Paling tidak sampai kehamilannya sudah diusia yang aman.”
“Tadi aku sudah memintanya, tapi dia tidak mau melakukannya denganku, Tia.” Bisik Cindy.
“Ternyata bukan Yose yang harus aku khawatirkan, tapi kamu Cindy.” Tia memelototi Cindy yang duduk disebelah Yose.
“Jangan marah padanya Tia, aku hanya tidak mau kamu terkejut saat kamu menangkap basah kami.” Ucap Yose khawatir.
“Baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian. Sepasang merpati yang sedang jatuh cinta memang tidak bisa dipisahkan. Sepertinya aku harus segera mencari rumah agar kalian bisa menggunakan kamar dengan sepuasnya.” ucap Tia sembari dia melangkah masuk kedalam kamar untuk mengganti bajunya.
***
Tok . . . Tok . . .Tok . . . seseorang mengetuk ruangan Tia
“Masuk.” Tia mempersilahkan tanpa melihat siapa tamunya
“Tia, kita harus bicara.”
__ADS_1
Suara seseorang itu membuat Tia menghentikan kegiatannya didepan laptop, dengan tatapan tajam Tia menatap tamunya yang sudah berdiri didepannya.
“Apa lagi yang mau kamu bicarakan, Gilang!”
“Gilang? Kamu tak memanggilku ‘Mas’ lagi?” tanya Gilang.
“Untuk apa aku memanggil kekasih orang lain dengan sebutan seperti itu?”
“Kamu masih istriku, Tia.”
“Secara hukum, iya. Tapi aku sudah menganggap jika kita sudah berpisah. Dan aku akan segera mengurusnya secara hukum jika kamu tidak segera mendaftarkan perceraian kita.”
“Secepat itu kamu ingin berpisah denganku?”
“Kenapa lucu sekali bicaramu. Tak ingatkah seperti apa kalian menghancurkanku?”
“Apa? Membalas dendam? Aku tidak seperti kalian yang memiliki pemikiran jahat. Memangnya apa imbasnya padamu setelah aku kembali keperusahaan ini? Aku tidak mengusikmu sama sekali. Dan aku kembali keperusahaan ini karena aku perlu untuk melanjutkan hidupku yang sudah hancur oleh kamu dan keluargamu, Gilang. Aku harap kamu tidak melupakan itu.”
“Tapi kenapa harus keperusahaan ini lagi? Kenapa tidak ketempat lain?” Gilang mulai meninggikan suaranya. “Kamu tahu? Karyawan lainnya berusaha menjatuhkanku, mereka semua mencemoohku, Tia.”
“Aku yakin jika mereka melakukan itu bukan atas dasar kesalahanku. Tapi karena kelakuanmu sendiri Gilang. Berhentilah menyalahkan orang lain atas tindakan yang kamu lakukan sendiri. Dan tolong cepat keluar dari ruanganku karena kehadiranmu membuat kegaduhan.”
Beberapa karyawan sudah mulai berkerumun, walau tidak tepat didepan ruangan Tia, tapi terlihat jelas oleh Tia bahwa mereka sedang memasang mata dan telinga atas pembicaraannya dan Gilang.
“Ada apa ini?” Rio masuk keruangan Tia karena memperhatikan beberapa kerumunan yang tertuju pada ruangan Tia.
__ADS_1
“Saya yakin jika atasanmu bukan Tia, tapi Erwin. Bukan begitu?” tanya Rio pada Gilang.
“Maaf, Pak. Tapi saya sedang ada urusan dengan istri saya. Dan ini masalah pribadi kami.”
“Jika itu urusan pribadi, silahkan selesaikan diluar kantor. Dan jika kalian masih sebagai suami istri seperti katamu, selesaikan saja dirumah.”
“Apa maksud Pak Rio?” tanya Gilang dengan wajah bingungnya.
“Bukankah kalian akan segera bercerai?”
“Oh, berarti benar yang dibicarakan orang-orang selama ini, jika kamu memiliki hubungan dengan Pak Rio, Tia. Apa karena ini alasanmu ingin segera bercerai padaku?” Gilang menatap sengit kearah Tia.
“Kamu menyalahkanku lagi atas kesalahanmu, Gilang?” Tia semakin tidak percaya akan setiap pernyataan Gilang yang mulai menyudutkannya. “Apakah aku harus mengatakannya disini apa kesalahmu yang membuat pernikahan kita hancur?”
“Dan satu lagi, aku tidak punya hubungan apapun dengan Rio?” tambah Tia.
“Rio? Kamu memanggilnya dengan namanya? Wah . . . kelihatannya kalian berdua memang dekat.”
“Jangan salahkan Tia, saya yang memintanya. Dan betul jika kami tidak memiliki hubungan apapun untuk saat ini. Tapi saya pastikan jika Tia akan berpaling pada saya.” Tatapan Rio tidak berubah dan tetap tajam.
“Rio, kumohon jangan menambah kegaduhan dikantor ini. Sekarang aku minta kalian berdua silahkan pergi dari ruangan ini sebelum kita semua mendapat surat peringatan dari atasan.”
Gilang yang sudah menahan emosinya berjalan keluar dengan terpaksa. Dengan ini dia berhasil mempermalukan dirinya sendiri dihadapan karyawan lainnya. Rio melihat Tia sedikit terguncang, tapi dia tidak bisa mencoba memberi penghiburan karena statusnya yang masih belum menjadi apa-apa bagi Tia. Akhirnya Rio memilih untuk keluar ruangan Tia dan menutup pintunya perlahan.
“Apa yang kalian tonton? Apa masih belum cukup menontonnya!” bentak Rio pada karyawan yang secara tidak sadar masih berkumpul.
__ADS_1
Karena peringatan Rio yang keras membuat mereka kalang kabut dan cepat-cepat kembali kemeja masing-masing, dan tidak lupa, jari mereka bekerja aktif di group chat disela-sela pekerjaan utama mereka tentunya.