CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 53


__ADS_3

“Ayo kita jalan.” Ajak Rio saat pria tampan itu sudah turun dan sudah mengganti bajunya.


“Tentu.” Tia mengikuti Rio keluar dari rumah. “Rumahmu sungguh nyaman.”


“Tinggalah disini bersamaku jika kamu sudah merasa nyaman dengan rumah ini.” Pinta Rio tulus.


“Rio . . . aku . . .”


“Iya, maafkan aku. Maafkan aku karena mengungkitnya lagi. Masuklah kemobil dan pakai sabuk pengamanmu, kita akan jalan.”


Rio mulai menekan tombol start dimobilnya, tapi setelah beberapa kali percobaan, mobil sport itu tidak mau hidup.


“Kenapa dengan mobilmu?”


“Aku tidak tahu. Tidak pernah seperti ini.”


“Jadi? Emmm . . . bagaimana jika memanggil montir untuk datang kesini?”


“Ini sudah larut malam, Tia, dan kondisinya juga sedang hujan lebat.”


“Apa taksi bisa masuk kedalam komplek ini? Tolong panggilkan taksi online saja.”


“Itu akan berbahaya, Tia. Bagaimana jika menginap saja dirumahku malam ini, besok saat pagi, aku akan memanggil montir untuk datang kesini dan memperbaiki mobil ini. Lagipula besok juga hari Sabtu, jadi kamu tidak perlu khawatir untuk cepat kembali kekontrakanmu dan mengganti bajumu dengan pakaian kerjamu.”


Tia terdiam sambil menimang-nimang keputusan apa yang akan ia ambil. Apakah akan menyetujui untuk menginap dirumah ini dengan pria yang beberapa waktu lalu selalu menyatakan ketertarikan padanya, atau nekat pulang dengan resiko yang lebih bahaya.

__ADS_1


“Aku tidak akan macam-macam, aku janji.” Ucap Rio cepat karena tahu jika Tia sedang merasa khawatir.


“Tapi . . . aku perlu baju ganti untuk tidur.” Ucap Tia ragu-ragu.


“Aku akan meminjamkanmu baju dan celana panjangku. Aku yakin muat ditubuhmu.”


“Tentu saja, karena badanmu sebesar raksasa.” Olok Tia saat dia turun dari mobil dan masuk kedalam rumah Rio lagi.


“Tidak sebesar itu. Tapi . . . yup, aku menguatkan otot-ototku untuk melindungi seseorang yang berharga bagiku. Paling tidak, dia bisa nyaman jika berada dipelukanku.”


“Dia?” tanya Tia penasaran.


“Aku harap adalah kamu, Tia.” Perkataan Rio hampir tidak terdengar oleh Tia karena suaranya yang pelan.


“Apa Rio?”


Setelah memberikan satu celana dan atasan berbahan kaos miliknya, Rio turun kebawah untuk memberi ruang Tia berganti pakaiannya. Rio menyiapkan teh hangat yang dia buat didapur yang letaknya tepat disebelah ruang keluarga. Ruang yang tadi dipakai Tia untuk menonton saluran acara.


Beberapa saat kemudian, Tia menuruni tangga untuk menghampiri Rio dibawah. Dan saat Rio melihat Tia menuruni tangga, pria tampan itu tersedak saat meminum teh hangatnya. Rio langsung menutup mulutnya karena terus terbatuk-batuk. Tia yang mengetahui itu langsung menghampiri Rio dan berusaha menepuk-nepuk punggung pria didepannya, berharap batuknya segera mereda.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Tia khawatir.


“Kemana celana yang kuberikan padamu? Kenapa hanya memakai atasannya saja?” jawab Rio setelah dia bisa mengatur nafasnya setelah tersedak hebat.


“Celana itu terus melorot dari pinggangku, jadi aku memutuskan untuk tidak memakainya.” Tia mengambil teh yang ada dimeja dapur dan duduk dikursi tinggi yang merupakan pasangan dari meja itu.

__ADS_1


Panjang kaos berlengan pendek yang Tia kenakan itu hanya sebatas diatas lututnya, dan saat dia duduk, kaos itu tertarik sampai diatas pahanya. Pemandangan itu membuat Rio menggila sejadi-jadinya. Dalam benaknya berderet bermacam-macam pertanyaan. Tentang kenapa perempuan cantik itu tidak waspada dengan dirinya? Apakah dia tidak melihat Rio sebagai laki-laki dewasa? Atau apakah karena tadi dia sudah berjanji jika tidak akan macam-macam? Yang artinya bahwa Tia sudah memberikan kepercayaan padanya.


Tapi tetap saja, serigala yang ada didalam diri Rio terus saja meronta dan semakin buas. Rio sekuat tenaga menahannya, tapi saat pikirannya mulai memikirkan yang tidak-tidak, bahwa jika kaos itu terlepas atau  tersingkap, maka hanya pakaian dalam milik Tia yang akan terlihat menempel ditubunya.


Rio segera meletakkan gelasnya dan berlari kekamarnya. Tia yang memperhatikan Rio tiba-tiba berlari hanya terdiam karena kebingungan. Setelah menghabiskan tehnya, Tia beranjak kekursi nyamannya lagi yang berada didepan TV. Sesuai instruksi dari pemiliknya tadi, setelah ia menekan tombol yang berada dibawah kursi, bawah kursi itu dengan perlahan bergerak  keatas membentuk kasur yang nyaman dipakai untuk menonton.


“Dari mana saja kamu?” tanya Tia saat Rio sudah turun kebawah dan duduk disampingnya.


“Kamu habis mandi? Selarut ini? Apa tidak dingin? Sekarang sedang hujan lebat.” Tia menodong dengan pertanyaan.


“Malam ini tidak terasa dingin sama sekali. Sebaliknya tubuhku sangat panas. Aku bahkan sangat kepanasan.” Rio mengibas-ngibaskan tangannya berusaha mendinginkan tubuhnya.


Tia sama sekali tidak menyadari arti perkataan yang Rio ucapkan, dia tidak sadar bahwa dirinyalah yang membuat pria 31 tahun itu kepanasan.


“Dan jika kamu tidak mengeringkan rambutmu, kamu akan masuk angin, tunggu sebentar, tadi aku melihat handuk kecil dikamar mandi kamarmu.” Tia naik keatas dan mengambilkan handuk yang akan dia pakai untuk mengeringkan rambut Rio yang masih basah kuyup. Bahkan ditiap helai rambut Rio, masih menetes air sisa dari pendinginannya dikamar mandi.


“Aku akan membantumu mengeringkan rambutmu.” Tia mulai mengeringkan rambut Rio secara perlahan. Rambutnya berwarna coklat gelap dengan beberapa helai berwarna pirang, tapi rambut itu begitu lembut saat Tia tak sengaja menyentuhnya.


Rio merasa nyaman disentuh oleh Tia, sekarang suhu tubuhnya sudah mulai menurun. Rio menonton saluran TV berbayar yang didalamnya menampilkan film dengan genre humor. Beberapa kali Tia dan Rio tertawa karena gurauan yang aktornya lakukan. Sekarang Rio jauh lebih rileks saat dia mulai mengunyah kue coklat yang tadi dibelinya saat menunggu Tia sedang mengukur gaunnya.


“Berikan aku satu kue coklat itu.” Ucap Tia sembari mengambil toples yang ada dalam pangkuan Rio. Secepat itu tubuh Rio merespon apa yang baru saja terjadi. Saat Tia mengambil kue itu dengan cara menunduk karena dia sedang berdiri dibelakang Rio, tidak sengaja dada milik Tia menyentuh sisi wajahnya. Sangat lembut dan kenyal sehingga Rio menghentikan aktivitas mengunyahnya walaupun masih ada sisa kue didalam mulutnya. Dan kini, tubuhnya kembali merasakan gairah yang tidak sepatutnya ada untuk saat ini.


“Sepertinya aku menggali kuburanku sendiri malam ini?”


“Hmmm . . . apa maksudmu?”

__ADS_1


“Bagaimana jika kita tidur? Tidurlah denganku, Tia.”


__ADS_2