CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 13


__ADS_3

‘Hari pesta pernikahan’


“Aduh cantiknya calon pengantin kita ini?” puji Cindy saat memasuki kamar rias Tia.


“Duhhh . . . rasanya deg degan, Cind!” Tia terus-terusan menarik nafasnya dalam-dalam dan membuang rasa gelisahnya.


“Sudah tenang saja, nanti yang akan berjuang mengucapkan kalimatnya kan si Gilang.”


“Tetap saja, Cind. Aku juga gelisah rasanya. Tapi terimakasih ya kamu mau datang menemaniku disini.” Tia menggenggam kedua tangan sahabatnya.


“Jangan menganggapku sebagai sahabat, anggap aku sebagai saudaramu. Kapanpun datanglah kepadaku jika kamu kesusahan.”


Tia memeluk sahabatnya itu dengan erat, bagaimanapun dialah yang selalu menemani perjuangan Tia dari bawah.


Diluar ruangan, prosesi ijab qabul yang dilakukan oleh Gilang dan wali nikah untuk Tia sudah selesai dilakukan. Akhirnya waktunya Tia diantarkan keluar dan dituntun oleh Cindy secara perlahan. Banyak yang berdecap kagum saat melihat wajah pengantin yang begitu cantik. Gaun putih yang menjuntai indah menambah kesempurnaan kecantikan dari mempelai wanita.


Cindy mengantarkan Tia duduk disamping Gilang yang sudah menunggunya. Setelah itu mereka berdua di arahkan untuk melanjutkan prosesi, dari bersalaman tangan, sungkeman sampai ke foto bersama. Para tamu undangan juga bisa menikmati makanan yang sudah tersedia, mereka semua bercengkrama di pesta pernikahan Gilang dan Tia.

__ADS_1


“Gila! Pestanya sangat mewah, bukan?” kata salah satu tamu undangan.


“Pasti pihak laki-lakinya menghabiskan banyak uang untuk pesta ini. Beruntung sekali istrinya itu.” Jawab tamu yang lain.


Diam-diam mama Ratna mendengarkan ucapan beberapa tamu yang terkagum-kagum dengan kemewahan pesta pernikahan anaknya. Timbul rasa bangga didalam hatinya karena dia bisa menyelenggarakan pesta yang begitu besar tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.


“Ma, ditunggu Tante Intan dan yang lainnya dimeja depan.” Ajak Gaby saat dia menghampiri mamanya yang berdiri sekitar tamu undangan. Mama Ratna dan Gaby berjalan menghampiri keluarga yang lainnya yang sudah menunggunya.


“Selamat ya, Kak Ratna. Punya menantu yang cantik sekali.” Ucap Tante Intan.


“Iya dong, Gilang tak akan pernah salah memilih istri.”


“Tentu saja harus besar pesta pernikahan Gilang, bagaimanapun kan kita dari keluarga yang berada.” Jawab mama Ratna kepada keponakannya itu.


“Pasti mahal ya, Kak. Habis berapa semua ini?” tanya Tante Intan lagi penasaran.


“Nggak banyak ko, syukurlah Gilang cukup punya tabungan. Biayanya diatas dua ratus lima puluh juta aja, sih.” Mama Ratna menyombongkan dirinya.

__ADS_1


“Wahhh . . . mantap rupanya, Gilang. Kita nggak pernah menyangka.” Kata Tante Intan.


“Silahkan dilanjutkan dulu, ya. Saya mau menemui tamu yang lain. Dicicipi semua makananannya, enak-enak menu yang disajikan.”


Mama Ratna ditemani oleh Gaby berjalan meninggalkan meja depan dan beranjak menemui tamu kenalan yang lainnya.


“Mana mungkin Gilang punya uang segitu banyak. Pasti dia menghutang kesana kemari untuk pesta ini.” Kata Tante Intan kepada penghuni meja depan yang berisikan anak, suami, dan sepupu lainnya.


“Kok ngomong gitu, sih. Siapa tahu Gilang memang punya tabungan banyak.” Jawab suami Tante Intan.


“Itu nggak mungkin, Pa. Kak Ratna itu orangnya sangat sombong, dulu pernah dengar-dengar kalau dia ikut arisan puluhan juta, padahal nggah bisa bayar. Akhirnya pinjam kesana-kesini untuk bayar arisannya, bikin malu nama keluarga saja. Setelah kakak laki-lakiku itu meninggal, semua biaya hidup Gilang yang menanggungya.”


“Tapi, Ma, dengar-dengar istri Kak Gilang itu dulunya atasan ditempat kerja Kak Gilang, loh.” Kata anak perempuan Tante Intan.


“Pasti dia yang membayar ini semua. Aku jadi kasihan dengan istrinya Gilang. Nanti hidupnya pasti merana karena punya mertua yang sifatnya seperti Kak Ratna.”


“Hustt, cukup! Nggak baik jika didengar tamu yang lain.” Ucap suami Tante Intan meminta untuk menghentikan obrolan yang mulai mengarah ke hal lebih sensitif.

__ADS_1


Tante Intan adalah adik perempuan dari almarhum ayah Gilang. Dari awal, keluarga ayah Gilang memang kurang suka dengan watak mama Gilang. Mereka menganggap alasan ayah Gilang sakit dan meninggal karena terlalu banyak tuntutan dari istrinya. Hal itu membuat timbulnya penyakit yang berbahaya dan sama sekali tidak dirasa oleh almarhum ayah Gilang, dan akhirnya baru diketahui saat penyakitnya berada pada stadium empat. Dan akhirnya ayah Gilang tidak dapat lagi tertolong. Hal ini menambah perasaan tidak suka dikeluarga besarnya, tapi mereka semua menahannya untuk Gilang dan Gaby.


__ADS_2