
besar itu dikelilingi oleh kertas mewah berwarna hitam dan di ikat pita berwarna merah. Disepanjang jalan banyak gadis yang terpukau dan bertanya-tanya akan kemana buket bunga besar itu tertuju. Banyak yang berdecap kagum bahkan iri dengan perhatian pengirimnya. Pembawa bunga itu dengan langkah pasti menuju kesebuah ruangan yang berada ditengah. Saat berada didepan ruangan itu, dengan perlahan dia mengetuk pintu kaca dan meminta ijin untuk masuk.
“Silahkan masuk.” Jawab pemilik ruangan itu setelah mendengar ruangannya diketuk oleh seseorang.
“Ada kiriman buket bunga untuk Bu Tia.” Jono, seorang OB muda yang baru saja bergabung dengan perusahaan mengantarkan buket bunga itu dengan aman keruangan Tia. Sesuai dengan perintah pengirimnya.
“Hm? Dari siapa?”
“Didalamnya ada suratnya, Bu. Silahkan dibuka. Kalau begitu saya permisi dulu.”
“Terimakasih ya, Jon.”
“Sama-sama, Bu.” Jono melangkahkan kakinya pergi dan saat tangannya akan menutup pintu ruangan Tia, pintu itu tertahan dan dipaksa untuk terbuka karena ada seseorang yang menahannya. Pak Erwin sudah berdiri diambang pintu, menahan pintu tersebut dan membiarkan karyawan lainnya melihat kedalam ruangan.
“Cieeee . . . ibu bos kita, dapat kiriman bunga pagi-pagi. Romantis sekali Pak Rio itu ternyata.” Seru beberapa karyawan lain yang berada dilantai yang sama dengan Tia.
“Hust! Udah sana kerja. Jangan macam-macam.” Protes Tia dengan senyumnya.
“Sedih, deh. Bu bos kita sekarang ikutan kejam dengan kita.” Goda Sinta dan Devi bersamaan.
“Sinta, Devi, kalian tahu apa hukuman bagi provokator? Balas Tia dengan berpura-pura serius.
__ADS_1
“Ampun, Bu Tia. Kami mohon ampun.” Mereka melipat kedua tangannya memohon ampun dan diiringi tawa karena tahu jika pimpinan mereka hanya bercanda.
“Wah, ada yang dapat bunga dari suaminya sepagi ini.”
“Pak Erwin? Bapak juga seperti mereka?”
“Saya tak akan lama. Saya tak ingin mengganggu seseorang yang ingin menikmati sebuah moment manis. Sangat menyenangkan saat masih muda. Dulu saya juga seperti Pak Rio, muda dan bersemangat.” Kenang Pak Erwin.
“Bapak masih muda kok.” Tia mengacungkan kedua jempolnya. “Emm, untuk kejadian dua hari lalu, saya minta maaf ya, Pak. Kepada kawan manager yang lainnya juga. Keadaannya sungguh diluar kendali saya.” Tia merasa tidak enak karena Pak Erwin beserta lainnya turut menyaksikan pertengkaran antara keluarga yang terjadi dipernikahannya.
“Tidak masalah. Walau saya tidak tahu apa alasan sebenarnya dibalik pertengkaran itu, tapi kamu harus bersyukur karena memiliki mertuamu yang memasang badan untuk melindungimu.”
“Betul, Pak. Saya sangat bersyukur dengan kebaikan kedua orang tua, Rio.”
Setelah Pak Erwin pergi dan menutup pintu ruangannya, Tia terlebih dulu menghirup harum khas bunga mawar merah yang mulai menyebar keseluruh ruangannya, setelahnya dia membuka surat kecil yang terselip diantara rangkaian bunga mawar merah itu.
“Untuk istri tercintaku. Semoga hari ini kamu selalu dilimpahi dengan kebahagiaan, Sayang. Dari suami tampanmu, Rio.” isi pesan singkat itu.
Tia tersenyum mendapati suaminya yang tak pernah berhenti melakukan hal romantis untuknya. Sekarang Rio semakin terang-terangan memberikan perhatian padanya dikantor karena hubungan mereka sudah diketahui semua orang.
Dimenit berikutnya, ponselnya sudah berdering dan ada nama seseorang yang sangat dicintainya terpampang dilayar ponselnya.
__ADS_1
“Halo, Rio?” sapa Tia dengan suara yang sangat ringan karena senyumnya masih mengembang.
“Apa kamu sudah menerima hadiah dariku?”
“Untuk apa bunga ini?”
“Untuk permintaan maafku karena telah mengacaukan tidurmu semalaman. Dan untuk ucapan terimakasihku karena kamu telah mencintaiku.”
“Tapi bunga ini sangat besar, Rio? Bahkan bisa menyembunyikan wajah orang yang mengirimnya tadi.”
“Kamu bisa meletakkannya divas bunga dan menaruhnya dikamar kita nanti. Atau kamu juga bisa menghias tempat tidur kita dengan serpihan bunga mawar itu. Kamu tahu kan jika kita masih pengantin baru.” Goda Rio dari seberang sana.
“Apa? Kamu masih ingin setelah kemarin malam?”
“Salah siapa kamu begitu menggoda. Aku tak pernah merasa cukup untuk menyentuhmu dan memberikanmu kepuasan, Sayang.”
“Ihhhh . . . jangan ngomong vulgar sepagi ini. Merinding jadinya.”
“Hahahahahaha . . . ada-ada saja kamu. Kalau begitu nanti tunggu aku dirumah, ya. Aku akan segera pulang setelah meeting dengan client malam nanti.”
“Hati-hati, ya. Cepat pulang, aku akan menunggumu nanti dirumah.” Balas Tia.
__ADS_1
“Oke, Sayang. Aku pergi dulu, ya. Bagas sudah menungguku diluar. Bye sweety.”
“Bye . . .” Tia menutup panggilannya dengan perasaan yang berbunga-bunga.