
Selama perjalanan setelah meninggalkan rumah Pak Ahmad, Tia terus memandang kearah Rio. Perempuan cantik itu merasa kagum akan kenyataan yang baru saja dia ketahui.
“Aku tahu jika aku memang tampan, Tia. Tapi tak perlu kamu tergesa-gesa untuk memandangku. Kamu bisa melakukannya nanti setelah kita berada dirumah.”
“Aku tidak menyangka jika hatimu juga mulia.”
“Hmmm? Maksudnya?”
“Pesantren itu. Kata Pak Ahmad, kamu banyak memberikan bantuan kepada mereka.”
“Bantuanku tak seberapa untuk mereka. Yang lebih berhati mulia adalah Pak Ahmad dan Bu Lastri, meskipun mereka membuka pesantren, tapi tempat itu layaknya seperti panti asuhan. Banyak orang tua yang menitipkan anak mereka tanpa memberikan imbalan apapun, bahkan bulan lalu ada yang menaruh bayi yang masih merah didepan rumah mereka. Tapi Pak Ahmad dan istrinya tidak pernah mengeluh, mereka berdua merawat anak-anak orang lain layaknya anak kandung. Aku sangat salut dan bersyukur bisa mengenal mereka berdua.”
“Ya, terlihat jelas bahwa mereka berdua orang yang baik.”
“Betul itu.” Balas Rio.
“Jadi . . . sebelum pulang, adakah tempat yang ingin kamu datangi? Atau kita makan siang saja sekalian diluar?”
“Boleh, perutku juga sudah lapar. Tapi sebelum itu, tolong antarkan aku ketoko furniture dijalan AZ.”
“Toko furniture? Untuk apa?”
__ADS_1
“Kamu akan tahu nanti.” Tia mengeluarkan senyum liciknya.
‘Restauran H’
“Makanlah, Rio. Kenapa kamu tidak menyentuh makananmu?”
“Aku tidak menyangka jika aku menyetujui permintaanmu tadi pagi. Harusnya aku menolak jika tahu akan jadi seperti ini.”
Senyum Tia mengembang karena melihat pria dihadapannya merajuk, “Kan kamu sendiri yang berjanji akan mengabulkan semua yang aku minta.”
“Tapi bukan begini juga, Tia. Bagaimana bisa aku membuatmu mencintaiku jika kamar kita saja berbeda. Kita sudah sah menjadi suami istri, kita harus satu kamar. Ya . . . ya, Tia. Aku masih bisa membatalkan pesanan furniture tadi.” Pinta Rio.
“Iya, aku tahu. Kamu belum mencintaiku.” Sahut Rio. Wajahnya dalam sekejap berubah sendu.
“Dan satu lagi, aku tidak mau orang kantor tahu jika kita menikah?”
“Apa??? Tidak, tidak, tidak, tidak bisa, Tia. Aku mau mereka semua tahu jika kamu sekarang adalah istriku. Agar tidak ada lagi lalat yang mencoba mendekatimu.”
“Kamu masih ingat perjanjian kita selama dua bulan, Rio? Jika kemungkinan terburuk yang terjadi, aku tidak mau dicap sebagai janda dua kali.”
__ADS_1
“Kamu tidak akan menjadi janda untuk kedua kalinya. Aku akan hidup disisimu sampai tua nanti.”
“Aku akan percaya itu, tapi turutilah keinginanku. Kamu sudah berjanji.”
“Waahhh . . . aku baru tahu jika kamu juga memiliki sifat pemaksa sepertiku. Lagi-lagi aku menggali kuburanku sendiri.”
“Aku belajar darimu, Rio. Kamu guru yang hebat. Hahahaha.” Tia tertawa karena Rio saat ini sudah semakin melipat wajah tampannya.
“Jangan mempelajari hal buruk dariku.”
“Kurasa itu memang pesonamu, Rio. Makanlah, dan antarkan aku untuk mengambil barang-barangku dikontrakan lamaku.”
“Aku sudah menyuruh orang untuk mengemas semua barangmu. Harusnya saat ini barangmu sudah ada digarasi rumahku.”
“Lalu kuncinya?”
“Aku suruh untuk mengembalikan kunci itu kepada pemiliknya. Tenang saja, barangmu juga tak banyak, tak perlu berterimakasih karena sudah merepotkanku.”
“Wow . . . kamu bisa membaca pikiranku. Baiklah aku akan menerima bantuanmu dengan senang hati. Dan jangan lupa tersenyum. Aku tak mau mereka semua mengira jika aku berbuat jahat padamu.” Tia mengarahkan pandangannya pada tamu restaurant sekitar.
“Kamu memang wanita jahat.”
__ADS_1
“Hahahahaha . . . sudah lama aku tidak tertawa lepas seperti ini. Terimaksih Rio.”
“Kembali kasih.” Jawab Rio dengan ketus yang membuat Tia semakin melebarkan senyumnya sampai-sampai dia harus menahannya dengan kedua tangannya karena tamu sekitar sudah mulai memperhatikannya.