CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 54


__ADS_3

“Sepertinya aku menggali kuburanku sendiri malam ini?”


“Hmmm . . . apa maksudmu?”


“Bagaimana jika kita tidur? Tidurlah denganku, Tia.”


“Apa!!!” jerit Tia.


“Bukan tidur seperti yang kamu kira, maksudku bagaimana jika kita tidur malam ini. Ini sudah larut malam, sudah lepas jam satu malam. Walau besok libur, kita tetap harus beristirahat.” Jelas Rio tergesa-gesa.


“Oh, Ok. Lalu aku harus tidur dikamar mana? Aku lihat kamar dirumahmu ada banyak.”


“Emmm . . . sebenarnya kamar itu semuanya kosong, tidak ada perabotannya sama sekali. Karena aku tidak pernah terfikir akan ada seseorang yang akan menginap dirumahku.”


“Belum ada yang menginap disini sebelumnya?” tanya Tia terheran-heran.


“Belum ada. Bahkan kamu tamu pertama yang datang kerumahku.”


“Apa kamu diasingkan dari keluargamu?”


“Tentu saja tidak. Jangan mulai berfikir yang aneh-aneh. Kami disini punya satu rumah utama, dan semuanya berkumpul disitu.”


“Wahhh . . . kamu memang orang yang beruntung.”


“Tentu saja aku beruntung, apalagi setelah bertemu denganmu.” Senyum Rio mengembang lebar, “Maksudku teman sepertimu.” Ralat Rio.


“Jadi hanya kamarmu yang bisa dipakai saat ini?”


“Betul sekali.”


“Kalau begitu, tidurlah, naiklah keatas. Aku akan tidur disofa ini saja. Sofa ini sangat nyaman melebihi kasurku dirumah.” Tia menunjuk kamar Rio yang berada dilantai dua dan mempersilahkan pemiliknya untuk segera naik.


“Tidak, tidak. Hari ini masih hujan deras, pasti kamu akan kedinginan jika tidur diluar, apalagi dengan penampilanmu seperti itu. Kamu akan masuk angin.”


“Berarti cukup berikan selimut yang tebal untukku.”


“Tidak bisa. Tidurlah dikamarku.”


“Kamu yakin?” tanya Tia memastikan.


“Tentu saja, naiklah keatas.” Rio dengan yakin mempersilahkan.


“Terimakasih.”

__ADS_1


Setelah itu Tia langsung naik keatas menuju kamar Rio, saat dia berusaha menutup pintu kamarnya tapi tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka lagi.


“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu masuk kesini, Rio?” tanya Tia penasaran.


“Tentu saja aku ingin tidur.”


“Apa!” sekali lagi teriakan Tia begitu keras.


Rio tidak memperdulikan protes dari Tia dan mendorong perempuan cantik itu dari belakang untuk naik keatas tempat tidurnya.


“Kenapa kamu ikut tidur didalam kamar ini? Bukannya kamu menyuruhku untuk tidur disini?”


“Betul, tapi aku tadi belum selesai berbicara. Maksudnya kamu tidur dikamarku tentu saja denganku. Aku tidak ingin mati kedinginan tidur diluar sana.” Jawab Rio yang sudah berhasil naik diranjangnya, disisi kanan Tia.


“Tapi . . . tapi . . .”


“Ssssttt . . . sudah tidurlah. Aku sudah berjanji tidak akan macam-macam, jadi kamu bisa tidur dengan nyenyak malam ini.” Rio menutupkan selimut sebatas dada Tia.


Tia sudah tidak mampu untuk protes karena sebenarnya dia sudah menahan kantuknya sejak dia mengeringkan rambut Rio. Tia tidur menghadap kearah Rio karena takut jika pria itu melanggar janjinya, menit pertama Tia berusaha membuka matanya untuk berjaga-jaga, karena melihat mata Rio yang sudah tertutup dihadapannya, Tia memutuskan untuk memenangkan rasa kantuknya dan tertidur pulas.


Rio merasa jika perempuan dihadapannya saat ini sudah tertidur pulas, dengan begitu dia dapat membuka matanya. Sedari tadi Rio sebenarnya hanya pura-pura tertidur agar Tia bisa tidur tanpa rasa khawatir.


“Bagaimana bisa kamu tertidur begitu pulas disebelahku? Kamu terlalu ceroboh Tia, bagaimana jika aku menyerangmu tiba-tiba?” ucap Rio dengan suara lirih. Rio membelai rambut Tia yang terurai. Rambutnya panjang dengan warna hitam legam, sangat lembut saat Rio menyentuhnya.


- - -


Pagi menjelang, sinar matahari mengintip dari celah-celah gorden berwarna dark blue itu. Tia mencoba menggerakkan badannya tapi tubuhnya terasa berat seperti ada yang mengekangnya. Saat dia mencari sumber masalahnya, matanya langsung terbelalak dan tersadar penuh dari tidurnya.


“Apa yang kamu lakukan?” karena rasa terkejutnya membuat Tia mampu menendang badan besar milik Rio terjatuh dari kasurnya.


“Aduhh . . . apa yang kamu lakukan Tia?” protes Rio yang masih setengah sadar dari mimpinya.


“Kenapa kamu memelukku? Bukannya kamu sudah berjanji tidak akan macam-macam padaku?”


“Aku tidak melakukan apapun padamu. Dan perlu kamu tahu, kamu sendiri yang mendekat padaku dan memelukku.” Rio bangun dari lantai dan naik keatas ranjangnya lagi. “Aku berjanji padamu jika tidak akan macam-macam, tapi aku tidak berjanji untuk tidak memberikan respon, Tia. Kamu memelukku, dan aku membalasnya dengan pelukan yang sama. Aku tidak mau jika hanya kamu yang mengambil keuntungan saat memelukku.”


“Mengambil keuntungan darimu? Aku?” Tia tidak bisa mengontrol volome suaranya pagi ini.


“Sejak kamu menginjakkan kakimu dirumahku, kenapa kamu selalu saja berteriak!”


“Maafkan aku jika itu mengganggu. Aku hanya terkejut. Dan aku rasa perilakuku saat tidur tidak pernah seperti itu.”


“Siapa yang tahu? Kamu tidur, jadi yang tahu pasti orang disebelahmu.”

__ADS_1


“Maafkan aku. Apa sakit?” tanya Tia pada Rio yang masih menyentuh perutnya bekas tendangan kaki Tia.


“Nyeri rasanya.”


“Mau kuambilkan air hangat? Atau kita perlu kerumah sakit?” tanya Tia khawatir karena itu adalah salahnya.


“Tidak perlu. Sebentar lagi pasti hilang rasa nyerinya. Hanya saja aku tidak menyangka, kaki kecilmu itu bisa mendorong tubuh besarku.”


“Yahh . . . mungkin itu yang dinamakan kekuatan terkejut? Sama halnya dengan situasi saat kita takut akan hantu, kecepatan lari kita pasti lebih cepat dibandingkan pelari profesional.”


“Aku tahu bagaimana rasanya?”


“Apa kamu takut dengan hantu?” tanya Tia penasaran.


“Saat ini, tidak lagi, karena aku bisa berfikir secara rasional. Kalau dulu, iya. Karena aku adalah anak yang paling kecil dilingkunan keluargaku, sepupuku sering mengerjaiku dengan berbagai ide buruk. Seperti saat mengajakku berjalan dimalam hari dan berlari kencang meninggalkanku. Saat itu aku hanya menangis dan ketakutan, tapi saat ini aku mampu membalas mereka dengan pukulan yang cukup keras.”


“Jangan seperti itu. Segala hal yang kita lalui saat kecil itu akan menjadi memori terindah untuk kita. Walaupun ingatan menyedihkan ataupun membahagiakan, semuanya akan menjadi cerita tersendiri untuk kita saat dewasa kelak.”


“Hahh . . . kurasa kamu benar.” Desah Rio.


“Aku akan turun dan menyiapkan sarapan untukmu. Semalam aku melihat beberapa bahan makanan yang bisa dimasak dikulkasmu. Dan kamu bisa mulai menelepon montir untuk memperbaiki mobil.”


“Oke, sebentar lagi aku akan turun.”


Setelah mampir kekamar mandi sebentar, Tia turun untuk memasak sarapan yang akan dia makan bersama Rio. Tia mengeluarkan beberapa telur dan sayuran yang akan dia campurkan untuk membuat omlet telur. Tia juga mengeluarkan daging yang bisa ia tumis bersama bahan lainnya. Tapi sebelum mengolah menu utama, Tia sudah memasak nasi didalam penanak nasi. Dia ingin menyiapkan makanan yang bisa dimakan Rio sekaligus saat siang.


“Ini semua kamu yang belanja, Rio?” tanya Tia saat melihat Rio turun kebawah.


“Tidak. Itu pasti bibi yang membawanya. Bundaku pasti yang meminta bibi untuk membelinya. Beliau tidak mau aku terus makan makanan instan atau makan diluar.”


“Kamu bisa memasak?”


“Sedikit. Hanya menu sederhana saja.”


“Lalu, dimana bibi yang membantumu? Aku tidak melihatnya sejak kemarin.”


“Bi Ina datang kesini saat aku bekerja, dan pulang jika sudah selesai membersihkan semuanya. Sabtu dan Minggu, aku liburkan. Aku ingin bersitirahat dirumah tanpa ada orang lain.”


“Lalu aku? Aku ada disini saat hari liburmu.”


“Tentu saja kamu berbeda. Aku kedepan dulu untuk mengecek mobilku.”


Tia melanjutkan memasaknya sambil menunggu Rio selesai memanggil montir dan memperbaiki mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2