
“Untuk apa kita masuk ke hotel ini, Rio?” tanya Tia khawatir.
“Kamu harus segera membuka bajumu didalam kamar itu, atau aku akan membukanya didepan umum dan mengganti bajumu dengan paksa.” Jawaban Rio terdengar sangat mengerikan karena pria itu masih diliputi emosi.
Rio membuka kamar itu dengan cepat dan memaksa Tia untuk cepat masuk dan mengikutinya menuju kamar mandi. Sesampainya didalam kamar mandi, Rio langsung membasuh punggung Tia yang tersentuh oleh tangan Reza.
“Bilang padaku, bagian mana saja yang disentuh laki-laki brengsek tadi, Tia. Aku akan membasuhnya hingga bersih.”
“Apa yang kamu lakukan, Rio. Gaunku basah semua.” Tia histeris karena Rio sudah menyiramkan air kebagian tubuhnya. Rio tidak memperdulikan protes Tia dan terus mengguyur punggung Tia dan membuat semua gaunnya sudah basah kuyup.
“Rio! Sadarlah!” Tia membuang shower dari genggaman tangan Rio.
Sadar jika dia sudah bertindak gegabah dihadapan Tia, Rio menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang besar dan meratapi kesalahannya. Dia terjatuh diatas kloset duduk dan Tia masih berdiri dihadapannya.
“Maafkan aku, Tia. Maafkan aku. Sungguh berat menahan amarah yang sudah memuncah dikepalaku.”
Tia melepaskan tangan Rio dari wajahnya, “Lihat aku, Rio. Aku tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.”
__ADS_1
“Kenapa kamu tadi diam saja saat laki-laki brengsek itu menyentuhmu? Rasanya ingin kuhajar sampai mati saat itu juga. Tapi aku tidak mau merusak hari bahagia sahabatmu.”
“Kamu benar, dan itulah jawabanku. Kalau aku berada pada tempat yang berbeda, aku akan langsung menghajarnya, tapi dipesta itu, sebisa mungkin aku akan menghindar saja, aku juga tidak mau merusak hari bahagia Cindy.”
“Tapi wajahmu tadi, adalah wajah yang penuh ketakutan.”
“Tentu saja aku takut. Aku disentuh oleh laki-laki asing.”
Rio menarik Tia untuk mendekat dan memeluk pinggang Tia yang ramping.
“Apa yang kamu lakukan, Rio!” tanya Tia kebingungan.
Dengan lembut, Rio mengecup punggung bawah Tia yang tadi tersentuh oleh Reza. Dia ingin menghapus jejak Reza yang menempel pada tubuh Tia sepenuhnya. Karena kecupan yang tiba-tiba, membuat Tia terperanjat dan terkejut atas apa yang dirasakannya.
“Rio! Apa yang kamu lakukan? Ahhh . . .” Tia merasakan perasaan yang menggelitik menjalar keseluruh tubuhnya. Tia merasa aneh dan tidak nyaman karena perlakuan Rio.
“Rio, lepaskan aku!” perintah Tia kesekian kalinya, tapi Rio tak memperdulikannya dan terus mengecup tubuh Tia.
__ADS_1
Dengan kakinya, Tia mengambil shower yang tergeletak dilantai dan menyiramkannya kekepala Rio dengan tangannya.
“Kamu harus mendinginkan kepalamu jika mau tetap menjadi temanku, Rio. Jangan menyalahi wewenangmu sebagai teman. Ingat itu!” Tia meninggalkan Rio yang terdiam dengan tubuh basah didalam kamar mandi.
Saat Rio keluar dari kamar mandi setelah mendinginkan kepalanya dan hanya memakai handuk hotel, dia melihat jika Tia sudah berganti pakaian menggunakan gaun yang lebih tertutup dari atas sampai menutup mata kakinya.
“Aku sudah memesankan setelan jas baru untukmu, semoga saja cukup, aku hanya mengira-ngira saja ukuranmu.” Ucap Tia tanpa melihat kearah Rio. “Pakailah, setelah ini aku akan keluar dan kembali kepesta Cindy.”
Rio sudah merasa jika Tia sengaja menghindar, karena Tia sama sekali tidak memandangnya saat berbicara. Rio mendekat kearah Tia saat perempuan cantik itu sedang merapikan rambutnya.
“Maafkan aku, Tia. Aku tahu jika aku salah, aku makin membuatmu takut. Maafkan aku, sungguh aku sangat menyesal.”
“Baguslah jika kamu tahu jika salah.” Jawab Tia tetap membelakangi Rio.
“Untuk saat ini saja, kembalilah kepesta Cindy bersamaku. Aku tidak ingin Cindy khawatir karena kita tiba-tiba saja terpisah setelah kejadian tadi.”
“Bersiaplah aku akan menunggumu.” Tia mempersilahkan Rio untuk segera bersiap.
__ADS_1
Rio mengambil setelan jas lengkap yang sudah disiapkan oleh Tia, dan bersiap untuk segera kembali ketempat Cindy.