CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 77


__ADS_3

“Apa ada yang ingin kamu beli untuk lusa nanti?”  tanya Rio pada istrinya. Sore ini mereka sedang bersantai diteras belakang rumah yang sejuk dan dingin karena sedang mendung.


“Untuk ke Raja Ampat?”


“Betul. Aku dengar beberapa karyawan lainnya sibuk mencari baju pantai yang ingin mereka gunakan nanti.”


“Apa kamu ingin aku memakai bikini nanti?”


Rio melebarkan kedua matanya dan menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Tentu saja tidak. Aku tidak ingin tubuh istriku ditonton oleh laki-laki lain.”


“Lalu? Maksud pertanyaanmu apa tadi?”


“Yaaa . . . mungkin saja kamu memerlukan baju baru yang ingin kamu pakai saat kita ada disana atau barang lainnya.”


“Bajuku semuanya masih bagus. Apalagi dengan beberapa baju yang kita beli tempo hari. Semuanya masih bagus dan aku bisa memakainya.”


Rio menarik Tia dari tempat duduknya dan membuat Tia duduk dipangkuannya, “Kenapa kamu tidak seperti perempuan lainnya yang ingin menghamburkan uang suaminya? Suamimu ini banyak uang, Tia. Sesekali boroslah, biar uangku tidak beku.”


“Aku sudah cukup memakai uangmu, Rio. Aku sungguh berterimakasih untuk itu.”


“Kamu hanya memakai uangku untuk belanja bulanan saja, Tia. Bukan yang lain.”


“Kamu sudah membantuku untuk melanjutkan memberikan bantuan kepada panti asuhan tempatku dibesarkan dulu. Dan bantuan yang kamu berikan itu sangat besar, Rio. Aku sangat bersyukur saat mengetahui jika kamu diam-diam memberikan uang itu melalui orang lain.”


“Bagaimana bisa kamu mengetahuinya?” Rio terkejut saat Tia mengetahui tindakan baiknya.


“Ibu panti asuhan yang mengatakannya padaku. Beliau bertanya padaku apakah aku mengenal seseorang bernama Bagas. Dan aku tahu jika kamu ada dibalik tindakan yang Bagas lakukan.”


“Maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu.”


“Kenapa kamu membantu panti asuhan itu?”


“Karena mereka berarti bagimu. Tempat itu adalah tempat yang sangat penting untukmu. Maka dari itu aku melakukannya. Aku tahu jika mereka sedang mengalami kesulitan. Dan aku berharap bantuanku bisa sedikit membantu.”


“Itu sangat membantu, Rio. Ibu panti menitipkan ucapan terimakasih untukmu.”


“Sampaikan ucapan terimakasih kembaliku padanya.” Ucap Rio lembut sembari membelai pipi Tia yang bersemu.

__ADS_1


“Tapi kenapa hanya 3 hari 2 malam saja? Sangat disayangkan jika hanya sebentar saja berada disana.”


“Kamu ingin lebih lama? Kita bisa tetap tinggal disana lebih lama saat yang lainnya pulang. Tapi kalau harus membawa semua karyawan untuk tinggal lebih lama, aku bisa pulang tak bernyawa saat Raka mengetahuinya. Perusahaan sudah kehilangan ratusan juta dalam satu hari saat kita berada di Raja Ampat, Raka tak akan membiarkan perusahaan kehilangan pendapatan lebih banyak lagi.”


“Tidak. Aku tidak mau kita tinggal disana lebih lama. Tidak asik jika hanya kita berdua yang berada disana. Dan tentunya aku ingin suamiku kembali dengan selamat tanpa takut ancaman dari pimpinan utama perusahaan.”


“Anggap saja kita sedang berbulan madu.”


“Bukankah bulan madumu bisa kita lakukan dirumah?”


“Oh, iya. Betul juga.” Jawab Rio dengan patuh.


“Setelah ini aku akan pergi kerumah Tante Mega. Mau ikut?” ajak Rio.


“Tante Mega? Siapa?”


“Mama Raka. Tante ingin menemuiku, tapi aku belum tahu apa yang ingin dibicarakan.”


“Lebih baik aku dirumah. Aku takut jika itu masalah keluarga.”


“Kamu istriku. Berarti kamu juga keluargaku dan keluarga mereka. Tapi kamu tak akan bisa bertemu dengan Kak Ara, karena mereka punya rumah terpisah dengan Raka.”


“Baiklah kalau begitu. Aku akan pergi sekarang. Jika terjadi sesuatu, cepat hubungi aku.” Rio mengecup singkat bibir Tia yang lembut dan melepaskan pelukannya yang sedari tadi mengekang tubuh Tia.


Tia mengantarkan suaminya sampai depan pintu, tak lupa dia melambaikan tangannya dan memberikan senyum terbaiknya untuk Rio. Setelah Tia memastikan pagar rumahnya sudah tertutup rapat, Tia masuk kembali kedalam rumah dan membereskan gelas teh yang dia dan suaminya pakai tadi.


Baru saja Tia selesai mencuci gelas dan ingin beranjak naik masuk kedalam kamarnya, tiba-tiba saja ada yang menekan bel rumahnya. Tia bertanya-tanya siapa kira-kira orang yang datang, karena seingat Tia, tidak ada orang yang pernah datang kerumah itu.


Ting tong ting tong . . . bel beberapa kali ditekan kembali. Tia membukakan pintu kemudian setelah memastikan tamunya dari balik cendela.


“Selamat sore.” Sapa seorang wanita paruh baya. Dan disebelahnya berdiri seorang laki-laki yang sedikit lebih tua dari wanita disebelahnya, tapi wajah itu sedikit tak asing untuk Tia.


“Selamat sore. Maaf, Tante dan Om sedang mencari siapa?”


“Kami mencari Rio. Apa dia ada dirumah?”


“Rio? Rio baru saja pergi, Tante. Sekitar 5 menit yang lalu.”

__ADS_1


“Oh . . . kalau begitu, bolehkah kami menunggu Rio diluar?”


“Jangan, Tante. Om dan Tante jangan menunggu diluar, cuaca sedang dingin karena mendung, dan sebentar lagi akan gelap. Tunggu saja didalam. Mari masuk, Om, Tante.” Tia mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam.


“Mau minum apa Om dan Tante?” tanya Tia ketika kedua tamunya sudah duduk disofa.


“Sudah tidak usah repot-repot. Kamu duduk saja.” Jawab tamu laki-lakinya.


“Tidak repot kok, Om. Tunggu sebentar ya, saya buatkan minuman hangat buat Om dan Tante.” Tia meninggalkan kedua tamunya dan membuatkan minuman hangat untuk tamunya. Tiga menit kemudian, dua gelas minuman hangat sudah tersaji diatas meja.


“Silahkan diminum, Tante. Silahkan Om.”


“Terimakasih.” Balas perempuan itu dengan lemah lembut.


“Om dan Tante . . . “ Tia ragu ingin bertanya.


“Maaf kami bertamu sore-sore begini. Oh, iya, Tante sampai lupa memperkenalkan diri. Nama Tante, Ajeng. Dan ini suami Tante, panggil saja Om Gunawan.”


“Saya Tia, Tante, Om.”


“Kalau boleh Tante tahu, kamu siapanya Rio? Tante baru tahu jika ada perempuan dirumah ini.”


Tia kebingungan bagaimana harus menjawab statusnya dirumah ini. Dia ingin mengaku jika dia adalah nyonya dirumah ini, tapi Tia khawatir jika itu akan menimbulkan masalah karena pernikahan mereka masih dirahasiakan.


“Saya . . . saya . . .” Tia terus saja mengulang-ulang kalimatnya.


Tahu jika pemilik rumahnya sedang merasa gugup, Om Gunawan mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Kopi buatanmu ini sungguh enak. Kopi apa yang kamu pakai untuk membuatnya?” tanya Om Gunawan tiba-tiba memecah ketegangan Tia.


“Kopi? Oh, itu kopi merek X, Om. Memang enak kopinya, rasa asamnya sedikit dan kopinya lebih pekat.” Jawab Tia dengan lancar.


“Betulkah? Ada kopi seenak itu di Jakarta?” tanya tante Ajeng pada suaminya.


“Cobalah. Kopi ini enak sekali.” Om Gunawan menyodorkan gelas kopinya untuk dicicipi oleh istrinya.


“Emmm . . . betul. Ini enak sekali. Nanti Bunda harus mampir kesupermarket dan membelikannya untuk Ayah selama ada di Jakarta.”

__ADS_1


“Bunda???” Tia terkejut karena sapaan itu tidak asing ditelinganya. Rio pernah menyebut ibunya dengan sapaan itu.


__ADS_2