CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 93


__ADS_3

Sudah satu minggu ini Rio tidak pulang kerumah karena adanya masalah dalam pembangunan kantor cabang baru di Singapura. Tia juga sedikit kesusahan menghubungi suaminya karena sering kali ponsel Rio tidak aktif. Terkadang saat dia putus asa, Tia harus meminta pertolongan Raka untuk mencari tahu bagaimana kondisi Rio. Tapi Raka memastikan pada Tia jika suaminya pasti baik-baik saja, hanya saja sedang sibuk menyusun rencana untuk bisa mengembalikan rencana pembangunan cabang seperti  semula.


“Tenang saja Tia, Rio pasti baik-baik saja. Dia masih mengirimkan laporan melalui email padaku tadi malam. Seharusnya kondisinya masih baik-baik saja.”


“Tapi Rio sangat sulit dihubungi, Kak. Dia bahkan belum menghubungiku satu minggu ini. Aku sangat mengkhawatirkannya.” Keluh Tia pada Raka saat dia menemuinya diruangan direktur.


“Apa kamu ingin menyusulnya kesana? Paling tidak kamu bisa tenang setelah berbicara dan melihatnya.” Raka memberikan solusi pada Tia yang terlihat sangat khawatir.


“Apa boleh, Kak?” mata Tia berbinar-binar mendengar solusi dari Kakak ipar sepupunya.


“Tentu saja. Aku minta maaf jika kamu harus membagi Rio dengan perusahaan. Tapi saat ini dia sedang ditempa untuk bisa menjadi pemimpin yang lebih hebat. Dia harus mampu menyelesaikan dan mencari solusi dari masalah yang dihadapinya di luar negeri sana. Kelak Rio yang akan memegang kendali atas perusahaan yang sedang diperjuangkannya saat ini, Tia.” Tambah Raka.


“Iya, Kak. Tia mengerti. Tapi . . .” Tia menghentikan kalimatnya karena merasa takut jika dia dianggap sebagai penghalang Rio menuju masa depannya yang lebih baik. “Bolehkah aku cuti untuk menyusul Rio ke Singapura, Kak?”

__ADS_1


“Pastikan dulu pekerjaanmu beres disini. Walaupun kamu menjadi anggota keluarga Dewanto sekarang, tapi kamu mempunyai tanggung jawab tersendiri diperusahaan ini. Setelah semuanya selesai, baru kamu boleh ambil cuti.”


“Terimakasih, Kak. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dan langsung mengurus cutiku. Aku pamit dulu, Kak Raka. Salam untuk Kak Ara dan sikecil Naya.”


Raka membalas Tia hanya dengan anggukan dan senyuman. Raka memperbolehkannya memanggil kakak jika mereka berada diluar perusahaan ataupun berada diruangan tanpa karyawan lainnya. Raka selalu memperlakukan Tia dengan baik walaupun perempuan itu belum menjadi bagian keluarga Dewanto. Kemampuannya dalam mengambil keputusan dan mencari solusi yang tepat pada setiap masalah, menjadikan perempuan cantik itu mendapatkan penilaian lebih dari Raka.


Setelah turun dari ruangan Raka, Tia langsung mampir keruangan HRD untuk mengurus cutinya. Dia tahu jika pekerjaannya akan selesai dalam tiga hari mendatang, jadi dia bisa langsung mengurus cutinya sekarang. Dari luar ruangan, diam-diam ada seorang pria yang mendengarkan pembicaraan Tia didalam. Samar-samar pria itu bisa mendengar jika Tia akan mengambil cuti selama dua minggu untuk menyusul suaminya di Singapura. Setelah mendapatkan informasi, pria itu mengirimkan pesan pendek yang berisikan informasi yang dia dapatkan kepada seseorang.


“Gilang? Apa yang kamu lakukan disini?”


“Oh, aku diminta Pak Erwin untuk mengambil beberapa data karyawan dari ruang HRD. Kamu . . . kenapa masuk keruangan ini?” Gilang menunjuk arah ruangan HRD berada.


“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengobrol dengan Bu Mila.” Tia berbohong karena tidak mau jika Gilang mengetahui rencananya.

__ADS_1


“Kalau begitu aku masuk dulu, ya.” Pamit Gilang. Setelah itu dia meninggalkan Tia sendirian diluar ruangan.


***


Setelah pekerjaannya selesai, Tia langsung memesan tiket pesawat menuju Singapura. Barang keperluannya sudah dikemasnya malam sebelumnya. Jadi malam ini dia bisa langsung terbang menemui suaminya. Tia sengaja tidak mencoba menghubungi suaminya beberapa hari ini karena ingin memberikan kejutan kepada Rio. Alamat hotel tempat Rio menginap juga sudah dia dapatkan dari Raka. Bahkan Raka sudah mengatur sedemikian rupa agar iparnya itu bisa langsung mendapatkan akses kunci kamar Rio tanpa harus menunggu persetujuan dari Rio.


Dari Jakarta, Tia menempuh perjalanan 1 jam 45 menit untuk sampai di bandara udara Changi Singapura. Sesampainya disana, Tia memesan taksi bandara agar bisa diantarkan ketujuannya, Marina Bay Sands, disanalah sementara ini suaminya menginap.


Sesampainya dilobi hotel, Tia langsung menemui resepsionist dan tentu saja dengan mudah Tia mendapatkan kunci akses kamar Rio berkat koneksi yang Raka punya. Perempuan cantik itu langsung menuju kelantai dimana kamar Rio berada. Sesaat sebelum berangkat dari bandara, Tia mencari tahu dahulu tentang hotel dan jenis kamar yang saat ini menjadi persinggahan Rio. Berbekal dari informasi yang dia dapatkan dari Raka, Tia mengetikkan kalimat di mesin pencari “Merlion Suite Marina Bay Sands” setelah itu semua informasi terhampar dilayar ponselnya. Tia sampai berdecak kagum dengan ruangan yang memiliki luas 387 meter persegi itu. Didalam ruangan itu terdapat 2 kamar tidur, yang satunya berukuran king dan double queen dikamar keduanya. Terdapat ruang tamu yang bisa Rio gunakan untuk rapat dadakan. Pemandangan dan juga furniture yang ada didalamnya dipastikan memiliki kualitas yang terbaik dikelasnya. Dan segala fasilitas mewah bisa Rio nikmati andai saja dia tidak sesibuk itu. Istrinya saja dia lupakan, pikir Tia dalam hati.


Sesampainya didepan kamar, Tia menempelkan kartu akses untuk bisa membuka pintu ruangan tersebut. Saat dia masuk kedalamnya, penerangan diruangan itu tidak terang. Hanya beberapa lampu redup yang menyinari ruangan itu. Cendela besar ruangan itu juga tertutup rapat dengan gorden sehingga tidak menampakkan pemandangan indah yang berada diluar. Perlahan Tia menaruh kopernya disebelah sofa, dia melangkahkan kakinya menuju kamar utama berharap bisa mengejutkan suaminya. Karena informasi yang Tia peroleh dari asisten Rio selama di Singapura, jika saat ini suaminya sedang berada dikamarnya.


Pelan-pelan Tia melangkah agar kedatangannya tidak diketahui Rio, dan saat membuka kamar utama, berharap jika suaminya terkejut akan kedatangannya namun nyatanya dirinyalah yang mendapatkan sebuah kejutan besar yang bisa mempengaruhi kehidupan pernikahannya dimasa depan. Seorang perempuan telah duduk diatas tubuh suaminya tanpa benang sehelaipun yang menutupi tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2