
Tok . . . tok . . . tok . . .
Tia mengetuk jendela mobil Gilang karena lelaki itu sedang asik dengan ponselnya. Beberapa detik kemudian, Tia sudah duduk didalam mobil dan berhasil mengencangkan sabuk pengamannya.
“Kuharap kita tidak akan ketempat yang formal, karena penampilanku tidak akan cocok untuk itu.” Kata Tia didalam perjalanan.
“Penampilanmu sangat menakjubkan, sayang. Seperti biasa, kamu selalu tampil cantik.”
“Kamu serius akan membawaku ketempat formal dengan penampilan ini?” tanya Tia dengan membelalakkan kedua matanya.
“Hahahahahaha . . . jangan khawatir, sayang! Hari ini aku akan membawa gadis cantikku ketepi pantai?”
“Tepi pantai???” tanya Tia penasaran.
“Ada yang ingin aku bicarakan, tapi aku ingin dengan suasana yang santai.”
“Ok, aku tidak keberatan. Anggap saja juga bisa membuatmu isirahat sejenak dengan rutinitas pekerjaanmu yang padat itu.”
__ADS_1
“Pokoknya hari ini kamu harus menemaniku. Agar seninku lusa nanti, bisa semangat lagi.”
“Tapi kamu cukup membuatku kalang kabut, Lang. Kenapa malam sebelumnya tidak memberitahuku jika ingin mengajakku keluar pagi ini.”
“Karena pagi ini aku baru tahu suatu hal.” Wajah Gilang berubah menjadi sendu.
“Ada apa, Lang? Kenapa tiba-tiba kamu terlihat sedih?”
“Aku tidak apa-apa.” Gilang membuat senyum selebar mungkin diwajahnya.
“Kamu yakin?” Tia mencoba memastikan.
“Go . . . go . . . go!!!” jawab Tia dengan semangat. “Tapi bisakah kita mencari sarapan dulu, perutku sangat lapar, Lang.” pintanya tiba-tiba.
“Hahahahaha, Tia . . . Tia, kamu memang mood bosterku.” Kata Gilang sambil tangan kirinya mengusap lembut kepala kekasihnya yang duduk manis disampingnya.
Setelah mengosongkan satu mangkuk besar soto betawi, Tia dan Gilang melanjutkan perjalanannya. Perlu beberapa jam yang ditempuh untuk menuju pantai indah yang berada di kota Bandung. Sesampainya disana, keduanya langsung melepas dahaga denga es kelapa muda yang begitu segar, airnya berhasil melewati kerongkongan mereka yang kering selama perjalanan. Tia dan Gilang duduk ditengah hamparan pasir pantai dan diiringi suara deburan ombak yang menggulung perlahan.
__ADS_1
“Ahhh . . . sangat nyaman disini rasanya.” Tia menikmati suasananya.
“Pasti hari-harimu sangat membosankan setelah kamu resign dari pekerjaanmu. Dari Ibu Manager yang selalu sibuk dengan pekerjaannya sekarang menjadi seseorang yang pengangguran.”
“Tidak juga. Tidak tepat seperti itu. Memang benar jika pada awalnya aku merasakan kekosongan karena rutinitasku tiba-tiba saja berganti. Aku mencoba mencari sesuatu yang baru yang bisa dikerjakan dirumah, selama menunggu persiapan pernikahan kita, ada banyak hal yang bisa aku coba.”
“Benarkah? Apa saja itu?” tanya Gilang.
“Emmm . . . seperti menambah ketrampilanku dalam memasak menu yang penuh akan rempah dan santan, lalu aku belajar menjahit dengan tangan tapi dengan hasil yang bagus, agar aku bisa menjahit bajumu jika sobek, dan aku juga bisa menghabiskan beberapa novel terjemahan kesukaanku, dan masih banyak lagi yang kulakukan selama aku dirumah.” Jelas Tia lengkap.
“Kamu memang gadis yang mandiri. Aku sangat bersyukur ada kamu yang akan menemaniku, menemani hidupku, sampai kita tua kelak. Terimakasih, sayang.” Gilang mengecup kening Tia dengan lembut.
Tia tiba-tiba menutup wajahnya denga kedua tangannya. Hal itu membuat Gilang keheranan dengan yang dilakukan gadis cantik yang ada didepannya.
“Tia? Kamu kenapa, sayang? Apa ada sesuatu yang masuk kematamu?”
“Aku malu . . . kenapa kamu menciumku ditengah banyak orang.” Jawab Tia yang masih menutupi wajahnya.
__ADS_1
“Hahahaha . . . tidak apa-apa. Biar mereka tahu jika gadis cantik ini akan segera menjadi istriku.” Gilang mencoba membuka tangkupan kedua tangan Tia yang menutupi wajahnya.
“Ayo kita berjalan menyisiri tepi pantai, tidak syah jika kita sampai disini tapi tidak melangkahkan kaki di atas pasir pantai yang terkena ombak.” Ajak Gilang dan dia mengulurkan tangannya untuk menarik Tia yang masih duduk.