CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 86


__ADS_3

“Hai, dari mana kamu?” tanya Tia saat suaminya masuk kedalam pondok. Perempuan cantik itu masih mengemas barang miliknya dan suaminya. Siang ini mereka akan kembali ke Jakarta beserta seluruh karyawan yang mengikuti tour perusahaan.


“Habis ditelepon sama Bunda. Bunda minta kita langsung kerumah utama saat sampai di Jakarta. Bunda besok akan pulang ke Amerika, jadi beliau minta kita untuk menikah sah secara negara, agar pernikahan kita juga tercatat di catatan sipil. Hari ini dirumah sudah di adakan pengajian, dan nanti malam acaranya. Hanya keluarga besar dan beberapa kolega saja yang di undang.


“Apa! Kenapa mendadak sekali?”


“Bunda mau kita menikah secara sah. Bunda takut jika suatu saat kamu hamil dan melahirkan tapi kita masih menikah dibawah tangan. Bunda takut hak anak itu tidak secara langsung terakui karena kita belum mempunyai buku nikah. Dan karena besok Bunda dan Ayah sudah balik ke Amerika, jadilah malam ini semuanya diselesaikan.”


“Kenapa tidak membicarakannya dulu denganku?”


“Kenapa? Kamu tidak mau menikah denganku secara sah agama dan negara?” wajah Rio berubah sendu.

__ADS_1


“Bukan begitu. Tentu saja aku menginginkan hal itu. Hanya saja aku merasa belum menyiapkan hatiku dengan benar untuk bertemu dengan keluarga besarmu. Aku sedikit takut. Aku takut tidak diterima dikeluarga Dewanto.”


“Jangan takutkan hal itu. Cukup yakinkan pada dirimu jika Bunda dan Ayah sudah menerimamu, bahkan menganggapmu layaknya anak kandung mereka sendiri. Jika ada respon yang kurang menyenangkan dari orang lain, acuhkan saja mereka. Yang terpenting adalah keluarga kita, Tia. Jangan terpengaruh dengan ucapan orang lain. Aku tahu seperti apa dirimu yang sebenarnya.”


“Benarkah begitu? Apa aku bisa?”


“Kamu pasti bisa. Jika kamu mengalami kesulitan menghadapi keluarga besarku, tenang saja, ada aku, ayah, bunda yang akan selalu disisimu. Dan juga ada Kak Ara. Kamu bisa bertanya dengannya. Kurasa masa lalu Kak Ara hampir sama sepertimu, bahkan itu lebih buruk kurasa. Tapi Kak Ara bisa bertahan dikeluarga besar kami. Memang tidak semua keluarga besar kami memiliki sikap yang ramah, terutama dari  keluarga-keluarga jauh yang masih memegang teguh kedudukan tinggilah sebagai orang yang berhak di hormati. Tapi aku pastikan jika dikeluarga dengan nama Dewanto dibelakangnya, akan menyambutmu dengan tangan terbuka. Keluarga kami yang berjuang dari bawah hingga bisa sesukses ini, sedangkan yang lainnya hanya tinggal menikmati dan menumpang keuntungan dari usaha yang orang tuaku dan orang tua Raka rintis sampai sebesar ini.”


Rio tersenyum lebar melihat keluguan istrinya, “Bukan, Kak Ara masih gadis saat menikah dengan Raka. Hanya saja Kak Ara juga memiliki masa lalu yang tergolong tidak mudah dengan silsilah orang tuanya. Intinya masa lalu biarkan saja menjadi masa lalu, yang terpenting adalah masa kini dan masa depan kita, Sayang.”


“Tapi tetap saja ada ketakutan dalam diriku. Lihatlah aku! Asal usulku tak jelas karena aku dibesarkan dipanti asuhan. Aku juga bukan seorang gadis lagi Rio, aku seorang janda. Kita juga berasal dari lingkungan keluarga yang jauh berbeda. Aku yang harus merangkak dari bawah untuk berjuang hidup, berbeda jauh dengan dirimu yang sudah memiliki segalanya saat dirimu ada. Dari awal kita berdua terpisah oleh jurang yang membentang luas, Rio.”

__ADS_1


“Apa salahnya dengan predikat janda. Aku yakin, semua janda dinegeri ini pasti tidak menginginkan menyandang status itu. Mereka semua, termasuk dirimu berada di status itu karena keadaan yang memaksa. Betul bukan? Lagi pula bukan status gadis atau janda yang dipakai tolak ukur kuatnya sebuah hubungan pernikahan, Tia. Tapi hati. Hati dan keyakinan akan komitmen yang kita bangun dan perjuangkan berdua sampai akhir nanti. Itu yang akan mengiringi kehidupan rumah tangga kita berdua.” Rio memeluk tubuh istrinya yang masih dilingkupi rasa kekhawatiran. “Memang betul jika saat aku lahir, aku sudah memiliki segalanya. Tapi sekarang juga aku berusaha keras bekerja untuk bisa menghidupimu dan anak kita nanti kelak. Aku bukan pria yang menunggu hasil dirumah tanpa bekerja.”


“Dan jangan kamu mempermasalahkan status sosial dihadapanku. Persetan aku dengan itu. Yang penting untukku, kamu selalu berada disisiku setia menemaniku. Dan jangan pernah berhenti untuk mencintaiku, Tia. Aku sangat mencintaimu.” Tambah Rio. Selanjutnya pria tampan itu sudah mengecup kening Tia lembut.


Tia yang mendapatkan semangat dari suaminya, mendapatkan sedikit keberanian dalam dirinya untuk bisa melangkah kedalam keluarga besar Dewanto malam nanti. Semenjak Tia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Rio, ia sadar betul betapa besarnya rintangan yang akan ia lalui karena status sosial mereka yang berbeda jauh. Tapi mulai sekarang, ia akan berjuang dan bertahan demi bisa berada disisi Rio. Orang yang dicintainya.


“Bagaimana? Sudah tenang sekarang? Aku akan selalu berada disisimu. Kamu tenang saja.”


Tia menganggukkan kepalanya dengan pasti saat masih didalam pelukan erat Rio. Dia merasa sangat nyaman setiap kali tubuh besar itu memeluknya dan membuatnya menghilang diantara dekapan kedua tangan Rio.


“Kalau begitu aku akan melanjutkan mengepak semua barang-barang kita.” Ucap Tia saat dia melonggarkan pelukannya.

__ADS_1


“Aku akan membantumu.” Balas Rio dengan senyum hangatnya.


__ADS_2