CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 61


__ADS_3

Tok . . . tok . . . tok . . . Rio mengetuk pintu kamarnya sendiri.


“Tia? Apa kamu sudah bangun?” Rio membuka pintu kamarnya secara perlahan dan mendapati Tia duduk diatas tempat tidur sambil melipat kedua kakinya dan memandang keluar cendela.


“Bagaimana kondisimu? Minumlah ini.” Rio memberikan cokelat hangat untuk Tia.


Tia menerima gelas pemberian dari Rio dan meminumnya secara perlahan.


“Terimakasih, Rio. Terimakasih banyak atas bantuanmu. Aku tidak tahu siapa yang harus aku hubungi secepatnya. Jika kamu tidak segera datang, aku . . .” mata Tia sudah lembap karena teringat apa yang dialaminya semalam.


“Sudah, jangan mengingatnya. Istirahatlah. Aku senang jika kamu menghubungiku terlebih dahulu.” Rio mengambil gelas Tia dan meletakkannya di nakas. “Tidurlah lagi, aku sudah meminta izin pada kantor untuk dua hari kedepan, jadi kamu bisa beristirahat sekarang.”


“Aku ada dibawah jika kamu membutuhkanku. Panggil saja, jangan sungkan. Aku sudah pernah mengatakannya, jika aku akan selalu berada disampingmu kapanpun kamu perlu.” Tambah Rio. Dan setelah itu, dia keluar dari kamarnya untuk memberikan Tia waktu lebih untuk beristirahat.


Selama Tia beristirahat, Rio berada dilantai bawah dan menyiapkan beberapa makanan ringan untuk berjaga-jaga jika Tia merasa lapar.


“Kamu lapar?” tanya Rio saat mengetahui Tia turun dari kamar.


“Aku tidak merasa lapar sama sekali, Rio.”


“Makanlah, kamu akan sakit. Jika kamu tidak mau makan makanan berat, tunggu sebentar aku akan membuatkanmu roti bakar keju.”


“Tidak perlu, Rio.”

__ADS_1


“Ssstt . . . jangan menolak. Duduk saja disofa dengan nyaman. Roti bakarmu akan segera siap.”


Rio membuat beberapa roti bakar dengan alat pemanggang, tak lupa dia juga membuatkan jus apel untuk Tia. Hari ini cukup terik setelah beberapa hari diguyur hujan lebat. Tia terus memperhatikan Rio yang sibuk didapur, merasa jika ada yang memperhatikannya, membuat Rio semakin salah tingkah.


“Jangan memperhatikanku terus. Aku bisa salah memasukkan roti kedalam jusser.”


“Kenapa kamu mau menolongku, Rio? Padahal aku sudah jahat padamu.”


“Kamu tidak mempunyai salah apapun padaku, Tia. Yang kamu lakukan tempo hari adalah hal yang benar. Memang aku yang keterlaluan padamu.”


“Dan aku sudah berkali-kali mengatakannya padamu, apapun yang terjadi aku akan selalu berada disampingmu, membantumu, dan melakukan apapun yang kamu inginkan.” Tambah Rio yang masih berkutat dengan roti bakarnya.


“Terimakasih sudah menjagaku juga perasaanku.”


“Hmmm?” Rio tidak mengerti masksud Tia.


“Tidak perlu berterimakasih. Kesehatan mentalmu itu lebih penting. Aku tidak mau menambah ketakutanmu. Aku ingin kamu nyaman berada didekatku.”


“Aku sudah tidak apa-apa sekarang, Rio. Kamu bisa tenang sekarang.” Tia mencoba menjelaskan karena Rio masih sangat berhati-hati berada didekatnya.


“Baguslah jika kondisimu sudah baik-baik saja, tapi aku tidak melakukannya secara gratis, Tia. Semua hal didunia ini berdasarkan hukum take and give. Memberikan dan juga menerima.” Rio sudah menyelesaikan membuat roti bakar dan jus apelnya, saat ini pria itu sudah membawa makanan itu kehadapan Tia dan meletakkanya dimeja.


“Aku akan membalas kebaikanmu ini. Aku berhutang budi padamu.”

__ADS_1


“Aku memintamu untuk membayarnya sekarang?”


“Sekarang? Sebutkan apa yang kamu mau, jika aku bisa memberikannya saat ini juga, aku pasti melakukannya. Tapi jika kamu menginginkan uang, emmm . . . bolehkah aku mencicilnya, karena aku tidak punya cukup uang saat ini.”


“Aku tidak memerlukan uangmu. Uangku cukup banyak melebihi apa yang kamu kira.”


“Lalu apa?”


“Tinggalah disini bersamaku. Jika kamu tidak ingin tinggal denganku tanpa ikatan, maka menikahlah denganku. Aku akan menjagamu, dan aku akan memastikan kamu tidak akan melalui hal yang mengerikan lagi seperti malam itu.” Rio menggenggam kedua tangan Tia.


“Rio, aku . . . aku baru saja bercerai tiga bulan yang lalu, aku belum terfikirkan untuk memulai sebuah komitmen lagi, apalagi pernikahan bukan hanya kita berdua yang akan melaluinya. Ada keluargamu, dan juga yang lainnya.”


“Aku juga belum yakin dengan perasaanku selama ini padamu.” Tambah Tia.


“Kalau kamu belum yakin dengan pernikahan secara sah agama dan negara, maka menikahlah denganku secara agama. Berikan aku waktu 2 bulan untuk membuatmu jatuh cinta padaku, tapi jika waktu itu kamu masih belum memiliki perasaan apapun padaku, aku akan ikhlas dengan semua keputusanmu. Tapi, jika kamu memiliki perasaan cinta untukku, tunjukkan padaku, maka aku akan membawa kedua orang tuaku untuk menjadikanmu menantu yang paling berharga dikeluarga kami, Tia.”


“Rio . . . aku tidak yakin dengan hal ini.”


“Yakinlah, dan aku pastikan semua janjiku padamu bukan hanya sekedar dibibir saja. Kamu sudah bisa menilaiku dengan semua yang kulakukan untukmu. Menikahlah denganku, Tia. Kumohon.” Suara Rio terdengar begitu putus asa untuk meminta Tia menerimanya.


Tia menatap kedua mata Rio mencari celah ketidak yakinan dimatanya, tapi yang Tia temukan hanyalah tatapan mata yang penuh rasa tulus dan keyakinan dari pemiliknya. Tia terdiam dan berfikir untuk beberapa saat, dia mengingat-ingat hal apa saja yang Rio lakukan beberapa bulan ini untuknya, pria itu selalu ada disisinya, pria itu juga yang sudah menyelamatkannya. Setelah meyakinkan hati, Tia menganggukkan kepalanya dengan pelan dan memberikan senyuman yang manis untuk pria yang saat ini berlutut dihadapnnya.


“Betulkah? Kamu menerimaku, Tia? Kamu tidak sedang berbohong?”

__ADS_1


“Iya, Rio.”


“Terimakasih, Tia. Terimakasih.” Rio memeluk erat tubuh Tia. Senyumnya terus melengkung dibibirnya, dia sangat bahagia, akhirnya dia mendapatkan apa yang selama ini ia dambakan. Yaitu berada disisi Tia.


__ADS_2