CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 81


__ADS_3

“Tia? Kamu marah padaku?” tanya Rio pada istrinya yang sudah terdiam sejak mereka masuk kedalam pondok.


“Kenapa kamu melakukannya, Rio?”


“Aku harus melakukannya agar mantanmu itu sadar diri dan bisa menjaga jarak darimu. Aku risih saat tahu dia masih mencoba mendekatimu lagi.”


“Tapi bukan seperti ini caranya, Rio. Kamu lihat bagaimana terkejutnya karyawan yang lainnya?”


“Kamu mengkhawatirkan karyawan lainnya atau mengkhawatirkan Gilang, Tia? Kamu masih punya perasaan padanya?”


“Bukan begitu, Rio. Aku sudah tidak punya perasaan apapun pada Gilang. Tapi kamu harus mengerti posisiku. Tiba-tiba saja kamu mengumumkan jika kita sudah menikah. Bagaimana aku harus menjawab semua pertanyaan yang akan mereka tanyakan padaku nanti?”


“Mereka tak akan berani bertanya aneh-aneh padamu, Tia. Aku pastikan itu.”


“Kamu sudah melanggar janjimu, Rio. Kita sudah sepakat untuk tidak mengumumkan pernikahan kita dulu sampai aku menyetujuinya. Tapi sepertinya ini sudah menjadi rencanamu. Aku mulai curiga saat tidak mendapat pasangan teman kamar untuk pondok ini.”


“Kamu pasanganku. Bagaimana aku bisa tidur terpisah darimu?”


“Tapi kita dirumah juga tidak satu kamar, Rio. Apa susahnya kita terpisah hanya untuk beberapa hari saja?”


“Apa itu mudah untukmu, Tia? Kamu tidak mempunyai perasaan apapun saat berada jauh denganku? Aku bisa gila membayangkan jika harus terpisah darimu walau hanya beberapa menit saja. Tapi kurasa itu berbeda dengan yang kamu rasakan. Kurasa aku juga tahu jawaban yang akan kamu berikan padaku.” Suara yang Rio keluarkan begitu dingin.


“Bukan begitu, Rio. Aku hanya . . .”

__ADS_1


“Aku akan mengabulkan keinginanmu, Tia. Bersenang-senanglah.” Rio keluar dengan perasaan yang kecewa.


Tia ingin mengejarnya, tapi dia takut jika dia mengejar Rio keluar, mereka akan menjadi pusat perhatian kembali. Tia memutuskan untuk diam dikamar dan mencoba menenangkan diri. Dia tak mau jika semakin tersulut emosi jika mereka melanjutkan perdebatan.


Sampai jam makan malam tiba, Rio tidak kembali juga di pondoknya. Tia menunggu diluar dengan rasa khawatir, apalagi sejak tadi ponsel Rio tidak bisa dihubungi.


“Bu Tia? Tidak kerestaurant? Jam makan malam sebentar lagi selesai, Bu.”


“Sebentar lagi saya akan kesana.” Jawab Tia pada beberapa karyawan yang menyapanya.


Semenjak Tia berada diteras pondoknya, Tia terus saja mendapatkan ucapan selamat dari beberapa karyawan yang lewat untuk menuju ke restaurant yang berada beberapa meter dibelakang pondoknya. Banyak sekali yang hanya mengucapkan selamat tanpa bertanya hal lainnya. Bahkan Devi dan Sinta yang biasanya lebih penasaran memilih diam dan hanya memberikan ucapan selamat berkali-kali untuk Tia yang telah menjadi istri dari pimpinan mereka.


Karena tepi pantai sudah mulai sepi, Tia memutuskan untuk kerestaurant. Dia berharap bisa menemukan Rio saat makan malam. Tapi sesampainya disana, tidak dia temukan wajah tampan khas milik Rio, bahkan sampai dia menyelesaikan makannya, belum juga terlihat ada Rio diruangan itu. Tia memutuskan untuk memanggil Bagas yang sedang mengobrol bersama Caca.


“Ya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Bagas saat dia sudah berada didekat Tia.


“Panggil saya seperti biasanya, Gas. Jangan bersikap formal didepanku.” Perintah Tia.


“Maaf, Bu. Tapi tidak bisa. Saya takut kena marah Pak Rio kalau saya bersikap tidak sopan.”


“Baiklah, terserah kamu. Apa kamu tahu dimana Rio?” tanya Tia khawatir.


“Pak Rio? Bukannya sedang bersama Bu Tia? Sejak sore tadi, saya tidak terhubung dengan Pak Rio.”

__ADS_1


“Saya tak bisa menghubunginya, Gas. Sejak sore tadi ponsel Rio tak aktif.”


“Sebentar, Bu.” Bagas mencoba menghubungi Rio. “Sama, Bu. Saya juga tidak bisa menghubungi Pak Rio.”


“Bagaimana ini, Gas? Saya khawatir sekali.”


“Bagaimana kalau kita coba tanya ke resepsionist penginapan? Siapa tahu mereka pernah melihat Pak Rio.” Ajak bagas.


“Ide bagus.”


Tia mengikuti Bagas menuju ke resepsionist, tempatnya berjarak 100 meter dari tempat penginapan mereka. Tia berjalan dengan perasaan was-was sambil tetap mencoba menghubungi ponsel Rio.


“Selamat malam, Kak. Ada yang bisa kami bantu?”


“Halo, Kak. Apa Kakak pernah melihat seseorang di foto ini?” Bagas menunjukkan foto Rio yang dia ambil di profil website perusahaan.


Resepsionist itu memperhatikan foto yang Bagas berikan, dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Maaf, Kak. Saya tidak melihat bapak ini.” Jawabnya.


“Siapa? Coba saya lihat.” Teman disebelahnya mencoba untuk ikut melihat foto yang ditunjukkan Bagas.


“Ah! Saya tahu bapak ini. Bukannya bapak ini yang tadi masuk kedalam berita resort sekitar dan dibawa kerumah sakit karena tenggelam.” Salah satu resepsionist mengenali wajah Rio.

__ADS_1


“Apa, Kak? Tenggelam? Dimana rumah sakitnya? Lalu bagaimana keadaannya? Antarkan saya sekarang! Tolong antarkan saya sekarang kerumah sakit. Saya ingin bertemu suami saya!” Tia panik dan mulai menangis histeris.


__ADS_2