CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 22


__ADS_3

“Apa yang kalian bicarakan tadi?” Tanya Gilang saat mereka bersiap untuk tidur.


“Aku dan Cindy?”


“Kamu bertemu dengan orang lain lagi sore tadi?”


“Tentu saja tidak. Hanya saja tadi aku juga mengobrol dengan Gaby. Jadi aku hanya memastikan Mas Gilang penasaran dengan obrolanku yang mana.”


“Dengan Cindy. Apa dia membicarakan yang tidak-tidak tentangku?”


“Tentu saja tidak. Mana berani dia menyinggungmu didepanku. Cindy hanya bercerita tentang pengganti posisiku diperusahaan. Dia menggebu-gebu saat menceritakan jika orang itu begitu seksi dimatanya. Dan biasalah, Cindy berbicara yang tabu. Aku sampai malu mendengarnya.”


“Bagaimana bisa dia membicarakan laki-laki lain dihadapan perempuan bersuami?” Gilang sedikit cemburu.


“Dia hanya membicarakannya dihadapanku, Mas. Bukan mengajakku untuk membicarakan laki-laki itu. Dan aku hanya sebagai pendengar saja, tanpa memberikan komentar lainnya.”


“Kamu yakin???”


“Apa Mas tidak percaya denganku?”


Gilang memeluk tubuh istrinya. “Aku hanya cemburu jika ada laki-laki lain yang tampak lebih bagus dihadapanmu. Aku tak ingin kehilanganmu.”


“Kamu tahu jika aku begitu mencintaimu, Mas. Aku tak akan meninggalkanmu.”


“Aku lega mendengarnya.” Gilang mengecup bibir Tia, “Aku saja sebagai laki-laki menganggap Pak Rio terlalu sempurna. Dia tampan dan juga berwibawa. Kamu tahu Dwayne Johson? Setampan dan segagah itulah dia, hanya saja Pak Rio memiliki rambut yang lebat.” Tambahnya setelah memberikan kecupan manis pada istrinya.


“Benarkah? Berarti benar apa yang dikatakan Cindy. Kata Cindy Pak Rio itu begitu hot!” Tia menggunakan ekspresi nakalnya untuk menggoda Gilang.


“Ada apa dengan ekpresi itu? Kenapa kamu menyebut nama laki-laki lain dengan wajah seperti itu?”

__ADS_1


“Katanya dia seksi, Mas. Kamu juga mengakuinya bukan.”


“Berhenti, Tia. Atau aku akan menghukummu!” Gilang memperingatkan istrinya untuk berhenti memuji laki-laki lain.


“Jika kamu tidak berhenti, aku tidak akan membuatmu bisa tertidur malam ini.” Ancam Gilang.


“Betulkah, Mas. Apa Pak Rio setampan itu dan seseksi itu? Sehingga membuat semua wanita ingin membuka apa yang dipakainya?” Tia melanjutkan menggoda suaminya yang sangat cemburu.


“Aku akan menghukummu sekarang!” Gilang langsung mencium bibir Tia dengan ganas karena terbakar rasa cemburu. Tangannya dengan cepat melepaskan semua yang menempel ditubuh istrinya. Dengan ganas Gilang mencumbu semua lekukan tubuh Tia. Hal itu membuat Tia meronta dan tak bisa menahan desahan yang keluar dari mulutnya.


Tia merasakan hukuman termanis yang diberikan oleh Gilang dimalam itu. Hukuman yang membuatnya tak menyesal karena kenikmatan yang dia dapatkan.


***


“Tia, siapkan makan malam lebih banyak ya. Karena Tante Meri akan datang dengan suami dan anaknya.”


“Tante Meri siapa, Ma?”


“Baik, Ma. Apa ada makanan khusus yang harus Tia siapkan?”


“Tidak perlu. Siapkan saja makanan yang biasa. Tante Meri tidak suka makanan berdaging. Perbanyak sayuran saja. Tumis sayuran dan juga tempe tahu goreng.”


“Hanya itu, Ma?”


“Iya, cukup hanya itu.”


“Baik, Ma.” Jawab Tia walaupun dia kurang yakin dengan informasi yang dia peroleh dari mamanya.


Tia menyiapkan makanan seperti yang diperintahkan Mamanya. Dia memasak tumis aneka sayuran dan menggoreng tempe dan tahu yang dibalut dengan tepung bumbu serbaguna. Tak lupa Tia menambahkan sambal jika dirasa masakannya kurang pedas.

__ADS_1


“Selamat datang, Tante. Perkenalkan saya Tia, istri Mas Gilang.” Tia memperkenalkan diri kepada Tante Meri dan suami beserta anaknya yang datang pas di jam makan malam.


“Oh, ini istri Gilang. Cantik ya.” Puji tante Meri.


“Yuk langsung kemeja makan saja. Masakan sudah disiapkan oleh Tia.” Mama Ratna mengajak para tamunya untuk ebralih kemeja makan.


Tante Meri dan lainnya berjalan mengikuti Mama Ratna menuju meja makan. Diikuti oleh Gilang dan Gaby dibelakang.


Setelah mereka duduk dikursi masing-masing, Tia mengeluarkan lauk pauk yang sudah disiapkannya.


“Silahkan dimakan, Tante dan Om. Tia ambilkan air minum dulu dibelakang.” Tia berjalan kearah dapur untuk mengambilkan gelas dan air putih untuk para tamunya.


“Ehm . . . Kak Ratna, apa hanya ini, Kak? Tumis sayur dan juga tempe tahu goreng?”


“Ahhh . . . itulah, padahal Kakak tadi sudah menyuruh Tia untuk memasak masakan spesial untuk kalian. Tapi aku juga terkejut dengan makanan yang dia sajikan.”


“Tia!!! Tia!!!” mama Ratna berteriak untuk memanggil menantunya.


“Iya, Ma. Sebentar!” Tia datang kemeja makan dengan senampan gelas yang berisikan air putih.


“Kenapa kamu memasak seperti ini? Padahal Mama sudah menyuruh untuk memasak makanan yang spesial karena Tante Meri dan keluarganya akan datang.” Marah Mama Ratna.


“Tapi Mama tadi . . . “


“Cukup, jangan memberi alasan. Langsung minta maaf saja kepada Tante Meri dan keluarganya.” Perintah Mama Ratna.


“Kamu sungguh tidak menghargai Tante, Tia. Bukankah kita baru hari ini bertemu, tapi kenapa kamu memperlakukan kami seperti ini. Makanan ini sungguh tidak pantas disajikan kepada tamu.” Timpal Tante Meri.


“Sudah, Ma. Tia masih muda, mungkin Tia belum tahu apa yang harus dimasak.” Suami Tante Meri mencoba mengurai suasana.

__ADS_1


Mata Tia berkaca-kaca karena dia dipersalahkan didepan orang banyak. Gilang yang duduk disebelah mamanya hanya terdiam dan memandangnya dengan sorot mata tajam.


“Maafkan Tia, Tante, Om, dan lainnya. Tia akan perbaiki lagi mendatang.”


__ADS_2