CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 74


__ADS_3

Gilang mengantarkan mamanya pulang dan meminta cuti setengah hari. Semua barangnya dia tinggalkan dimejanya dan meminta Toni untuk membawakannya nanti saat pulang.


Selepas meninggalkan kantor sampai masuk kedalam rumah, Gilang sama sekali tidak mengeluarkan satu patah katapun, dia dilingkupi amarah yang sangat besar, tapi akal sehatnya sebagai seorang anak masih berjalan, dia tidak ingin membentak mamanya yang sudah lanjut usia itu. Mama Ratna merasa khawatir karena sedari tadi Gilang terduduk dikursi teras belakang dengan pandangan kosong.


“Gilang? Kamu tidak apa-apa? Maafkan Mama, Lang. Mama hanya . . .”


“Apa Mama memikirkan Gilang saat Mama datang kekantor hari ini?” wajahnya berubah sendu karena pikiran yang berat.


“Apa Mama tahu jika Mama telah membuat malu Gilang? Harus kutaruh dimana mukaku ini, Ma? Bagaimana caraku menghadapi teman-teman dan karyawan lainnya besok? Mama sudah menghancurkanku.” Gilang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan menggosoknya dengan kasar. Dia tak mampu membayangkan bagaimana besok dia akan kembali kekantor itu.


“Mama ingin mengembalikan apa yang harusnya menjadi milikmu, Gilang. Mama mau memberi pelajaran pada wanita itu.”


“Gilang sudah pernah bilang, Ma. Bukan Tia yang salah atas gagalnya promosi jabatanku. Tapi aku! Aku sendiri yang menghancurkannya, Ma!” Gilang mulai berteriak frustasi dan memukul dadanya.


“Cukup, Gilang. Maafkan Mama. Mama hanya ingin yang terbaik untukkmu.”


“Sudah, Ma. Hidup Gilang sudah hancur. Biarkan Gilang sendirian.” Gilang pergi meninggalkan Mamanya yang merasa bersalah sendirian, dan lebih memilih untuk mengunci diri dikamar.


---


Tok . . . tok . . . tok . . .


“Toni?” ucap Mama Gilang saat mengetahui tamunya.


“Sore, Tante. Saya mau mengantarkan barang-barang Gilang yang tertinggal dikantor.” Toni menyerahkannya kepada Mama Gilang.


“Kalau begitu, Toni langsung pamit ya, Tante.”


“Tunggu, Ton.” Cegah Mama Gilang

__ADS_1


“Ya, Tante?”


“Apa menurutmu tadi Tante keteraluan saat dikantor?”


“Emm . . . emmm, Toni rasa tak punya hak untuk menilai, Tante. Maaf.” Toni memberikan jawaban teraman untuknnya.


“Oh, baiklah kalau begitu. Maafkan Tante karena sudah bertanya. Tapi sebelum kamu pergi, bisakah menemui Gilang dulu sebentar. Sejak pulang siang tadi, dia mengunci diri dikamar dan tidak mau keluar. Tolong ya, Ton.” Pinta Mama Gilang dengan sungguh-sungguh.


“Ba . . . baiklah, Tante.” Toni tidak bisa menolak permintaan mama Gilang.


Toni masuk dan mengetuk beberapa kali pintu kamar Gilang. Setelah beberapa kali ketukan dan panggilan, pintu itu terbuka dan Gilang keluar dengan tampilan yang sangat kacau.


“Hey, apa yang kamu lakukan?” tanya Toni dengan berpura-pura ceria. Padahal dia tahu jelas jika temannya itu pasti berada pada keadaan yang kurang baik.


“Ayo kita duduk dikursi teras depan. Aku ingin menghirup udara segar.” Ajak Gilang.


“Kenapa kamu sangat kacau sekali? Lihatlah penampilanmu.” Toni memprotes penampilan temannya yang saat ini awut-awutan. Wajah dan rambutnya sama sekali tidak terkondisikan. Saat keduanya sudah duduk dikursi teras, Toni langsung menanyakan kabar temannya.


“Hey, mau kemana lagi kamu jika resign dari perusahaan? Di kota besar ini tidak ada perusahaan yang lebih bagus selain S&D Group. Kuatkan hatimu, masalah seperti itu akan hilang seiring waktu.” Toni menguatkan teman sedivisinya itu.


“Aku tak menyangka jika mamaku akan kekantor siang tadi. Kemarin malam aku hanya bercerita sedikit tentang kembalinya Tia kekantor setelah berpisah denganku dan juga tentang kegagalanku mendapatkan promosi jabatan itu. Aku tak pernah menyangka jika mamaku menyimpulkan jika Tia adalah penyebabnya.” Gilang terus saja menggosok mukanya dengan kedua tangannya.


“Tapi jujur, aku sangat takjub dengan mantan istrimu itu.”


“Kenapa?” tanya Gilang dengan serius. “Ceritakan semua padaku apa yang terjadi dikantin siang tadi.”


“Maaf sebelumnya, aku tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan mamamu, Lang. Tapi kurasa, ucapan mamamu memang cukup keterlaluan. Mamamu menghina Bu Tia didepan banyaknya karyawan, bahkan mamamu sampai mengumumkan jika Bu Tia merupakan perempuan yang tidak benar karena tidak bisa memberikanmu keturunan.”


“Sampai seperti itu???” Gilang membelalakkan matanya, tak percaya akan apa yang didengarnya.

__ADS_1


“Betul. Bahkan kalau aku tak salah ingat, mamamu menuduh jika Bu Tia memalsukan tes kesuburannya dan juga dengan sengaja membuatmu lebih menderita saat kembali bekerja lagi.”


“Lalu, apa yang Tia lakukan?” Gilang sudah mencondongkan badannya kearah Toni. Wajahnya sudah menegang, menanti jawaban yang akan Toni ceritakan.


“Bu Tia tidak melakukan apa-apa. Perempuan baik itu bahkan mengajak mamamu untuk berbicara diluar kantin agar mamamu tidak malu, tapi semuanya ditepis sendiri oleh mamamu. Kamu sungguh tidak beruntung karena bisa kehilangan perempuan sebaik itu, Lang. Sungguh disayangkan.”


“Kamu benar, Ton. Itu yang menjadi penyesalan terbesarku. Aku terlena akan rayuan perempuan lain.” Gilang menggosok wajahnya lagi.


“Tapi, Lang.” Toni menghentikan kalimatnya menimbang apakah perlu mengatakannya pada Gilang.


“Ada apa, Ton. Apa masih ada yang belum kuketahui? Katakan semua padaku.”


“Ini bermula dari mamamu yang mengumumkan masalah Bu Tia keseluruh karyawan yang ada diruangan itu, dan Sinta, anak buah Bu Tialah yang berperan sebagai pelindung. Didepan semua karyawan, Sinta dengan jelas mengatakan jika kamu yang telah berkhianat, itu adalah balasan dari perkataan mamamu yang sudah menghina pimpinannya. Dan . . .”


“Dan???”


“Dan juga, Sinta membeberkan jika uang hasil penjualan apartemen dan juga mobil milik Bu Tia telah kalian rebut tanpa memberikan sepeserpun untuk Bu Tia.”


“Dari mana Sinta tahu itu semua?”


“Ini yang paling membuatku terkejut saat mendengarnya. Ternyata Dera-lah yang sudah menceritakan semuanya. Selingkuhanmu itu menyombongkan dirinya dihadapan perempuan-perempuan lainnya dan membanggakan dirinya karena kamu telah memilihnya dan meninggalkan Bu Tia.”


“Perempuan sialan!!!” Gilang mengepalkan tangannya menahan amarah saat tahu jika Dera menjadi salah satu penebar berita aibnya.


“Tapi semua yang terjadi biarlah terjadi, Lang. Sekarang saatnya kamu memperbaiki semuanya secara berlahan. Aku tahu jika Bu Tia mungkin masih memiliki perasaan padamu, terbukti karena dia tidak membalas semua ucapan mamamu.”


“Terimakasih, Ton, atas dukunganmu.”


“Sama-sama, teman. Oh iya, kamu dapat Surat Peringatan langsung kedua. Jadi hati-hati, jangan sampai kamu mendapat kartu merah dan harus pergi dari perusahaan. Aku pamit dulu, sampaikan salamku pada mamamu.” Toni bersiap-siap untuk pergi.

__ADS_1


“Ok. Terimakasih atas bantuanmu.”


“Sama-sama kawan.” Toni meninggalkan ruman Gilang yang masih tertekan karena apa yang baru saja terjadi siang ini.


__ADS_2