CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 69


__ADS_3

“Permisi, Pak Erwin.” Sapa Gilang setelah ia mengetuk ruangan pimpinannya yang sudah paruh baya itu,


“Masuklah Gilang.” Pak Erwin mempersilahkan.


“Maaf, Pak. Saya ingin menanyakan sesuatu.”


“Silahkan.”


“Dulu, saya pernah mendengar dari Toni, jika nama saya pernah masuk dalam nominasi penerima promosi jabatan diperusahaan ini.”


“Itu benar.” Jawab Pak Erwin dengan santai.


“Tapi, Pak, kenapa kemarin nama saya tidak tercantum dalam daftar?”


“Apa kamu masih belum tahu alasannya?”


“Apa gara-gara Pak Rio? Gara-gara saya memiliki pribadi dengan Pak Rio?”


“Apa kamu memiliki masalah pribadi dengan Pak Rio?” Pak Erwin menegakkan duduknya dan serius mendengarkan Gilang.


“Oh . . . bukan, Pak. Bukan masalah yang serius. Jadi kalau bukan gara-gara Pak Rio, lalu apa Pak kesalahan saya?”


“Ok, saya akan menjelaskan. Sebenarnya saya tidak ingin mengungkapkan ini, tapi karena kamu sudah bertanya, maka saya akan menjelaskan.”


Gilang menyiapkan telinganya untuk menangkap penjelasan yang akan diberikan oleh laki-laki berumur 51 tahun itu.

__ADS_1


“Jujur saja, dulu kamu mempunyai kinerja bagus setelah beberapa bulan pernikahanmu, tapi setelah itu apa kamu tidak pernah merasa jika pekerjaanmu semakin mundur? Banyak laporan yang terbengkalai, semua pekerjaanmu diambang deadline, sampai-sampai saya pernah diminta Pak Raka untuk menghadap karena sering adanya laporan keterlambatan. Karena data dari bagian marketing terlambat, maka pekerjaan ditim saya juga terhambat. Apa kamu masih berfikir pantas untuk mendapatkan promosi?”


Gilang terdiam mendengarkan penjelasan yang dirasa masuk akal walau menyakiti harga dirinya karena dia dipersalahkan atas kegagalan seluruh tim.


“Belum lagi kasusmu bersama anak magang itu.”


“Saya tidak punya hubungan apa-apa, Pak, dengan Dera.”


“Mau sekeras apapun kamu menyangkal, toh semuanya sudah terlanjur. Kamu ketahuan jika sedang berciuman dengan perempuan yang bukan istrimu didalam kantor ini. Dan statusmu juga masih beristri. Bagaimana pandangan karyawan lainnya kalau management memberikanmu kenaikan jabatan, Gilang?”


“Maafkan saya, Pak.”


“Bagus. Sekarang kamu sudah tahu kesalahanmu. Silahkan keluar dari ruangan saya dan mulailah bekerja dengan baik jika ingin mendapatkan promosi jabatan dua tahun mendatang.”


“Gilang?” sapa Tia saat dia berpapasan dengan mantan suaminya.


“Tia.” Gilang mengangkat wajahnya dan memberikan senyumnya.


“Apa yang kamu lakukan diruangan ini? Ini sudah jam istirahat, segeralah beristirahat. Sebelum jam ini habis.”


“Aku ada sedikit urusan denga Pak Erwin.”


“Apa sudah selesai urusanmu dengan Pak Erwin?”


“Sudah. Aku sudah selesai bertemu dengan Pak Erwin.”

__ADS_1


“Baiklah, giliranku untuk menemuinya.”


“Tunggu, Tia!” Gilang menahan Tia dengan menggenggam tangannya.


“Lepaskan tanganku, Gilang!” perintah Tia dengan suara tertahan.


“Aku sangat terpuruk hari ini, aku memerlukanmu, Tia. Aku perlu tempat bersandar. Aku . . . aku sangat merindukanmu.”


Tia melepaskan genggaman Gilang dengan paksa, “Itu bukan lagi urusanku, Gilang. Kamu bukan siapa-siapaku.” Tia bersiap pergi meninggalkan Gilang.


“Aku sudah berpisah dengan Dera, bisakah kamu kembali padaku, Tia?” pinta Gilang dengan putus asa. Gilang berani mengungkapkan isi hatinya karena diruangan itu sedang kosong, semua karyawan sedang berada dikantin kantor.


“Kamu tidak kehilangan akal sehatmu kan karena kehilangan kesempatan untuk naik jabatan?”


“Kamu tahu?”


“Tentu saja aku tahu. Aku juga manager diperusahaan ini. Dan aku termasuk kedalam management yang memutuskan siapa saja yang berhak untuk naik.”


“Apa kamu yang membuatku gagal mendapatkan promosi jabatan itu, Tia?”


“Sebelum kamu bertanya, lebih baik berfikir dahulu. Kamu bukan berada dibawah kepemimpinanku, mana aku tahu bagaimana kinerjamu. Yang berhak menilaimu adalah Pak Erwin, bukan aku!” jelas Tia secara tegas.


“Maafkan, aku. Kurasa aku memang sedang dalam kondisi pikiran yang tidak bagus.”


“Sehatkan dulu mentalmu itu, dan jernihkan pikiranmu dari prasangka buruk.” Tia meninggalkan Gilang yang masih berdiri tegak ditempatnya.

__ADS_1


__ADS_2