
“Kamu sudah siap?” tanya Rio saat dia sudah selesai mengenakan pakainya. Rio memakai celana pendek berwarna putih dan atasan kemeja pantai dengan warna biru muda. Kancingnya dilepaskan sampai kancing kedua, membuat aura ketampanannya meningkat dua kali lipat.
“Wah . . . tampannya suamiku.” Puji Tia.
“Tentu saja. Suami tampanmu ini hanya milikmu.” Balas Rio. Rio berjalan menghampiri Tia dan memeluknya dari belakang. Tangannya tidak sengaja menyibak rok Tia yang ternyata mempunyai belahan kaki sampai keatas.
“Apa-apaan bajumu ini?” Rio membalik tubuh Tia menghadapnya. Sekarang yang dilihatnya adalah istrinya sedang menggunakan off shoulder two piece dress dengan model rok slit. Belahan rok yang memanjang sampai keatas membuat kaki Tia terlihat lebih jenjang. Dress yang berwarna kuning cerah itu sangat cocok berpadu dengan kulit putih Tia.
“Bagaimana? Apakah cocok?” Tia memutar badannya dihadapan suaminya yang saat ini merasa terkagum-kagum tapi juga sudah merasakan kecemburuan yang besar. “Dan terakhir, aku harus memakai ini. Bukankah penampilanku ini sudah sempurna?” tanya Tia saat dia menambahkan topi pantai dikepalanya.
“Kamu sungguh cantik menggunakan baju ini. Tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikanmu. Tapi kamu bisa memakainya jika hanya bersamaku. Sekarang gantilah dengan baju yang lebih tertutup.” Rio mendorong Tia menuju kelemari pakaian.
“Apa?” Tia memaksa berhenti dari dorongan Rio. “Bukannya kamu sudah melihatnya tadi. Kupikir kamu baik-baik saja karena diam melihatku saat aku berias didepan meja rias.”
“Aku kira ini dress tertutup penuh. Dan aku kira bisa menaikkan lenganmu yang turun ini.”
“Ini kan modelnya, Rio. Kamu tidak pernah melihat orang berpakaian tertutup dipantai kan? Kecuali jika orang itu berhijab.”
__ADS_1
“Tapi bagaimana jika nanti pahamu ini dilihat oleh laki-laki lain. Lihat belahanmu sampai paha atas.”
“Aku sudah memakai hot pants didalam. Jadi tenang saja. Tidak akan ada yang melihat tubuhku. Asal kamu tahu saja, karyawan perempuan lainnya akan memakai pakaian lebih terbuka lagi dari pada aku. Mereka akan memakai bikini dan memperlihatkan lekukan tubuh yang indah.” Tia meleok-leokkan tubuhnya menirukan bentuk tubuh perempuan.
“Aku tidak perduli dengan mereka. Yang aku perdulikan hanya istriku saja.”
“Aku janji mereka tidak akan melihatku. Mana berani mereka melihat istri pimpinan perusahaan.” Tia mencoba mencari alasan agar Rio memperbolehkannya memakai baju itu.
Rio terdiam melihat istrinya yang sudah bergelayut manja dihadapannya. Dia tahu betul jika Tia sedang merayunya agar mengijinkannya memakai baju itu. “Baiklah. Bagaimana bisa aku kecolongan dengan baju itu.” Lagi-lagi Rio menggerutu sendiri.
“Jangan menyebutku manis. Aku sudah pernah bilang, jika kata itu tidak cocok untukku.”
“Siap, Bos. Ayo kita keluar. Hari ini aku tidak ingin ikut snorkeling dengan yang lainnya. Aku ingin menikmati tepi pantai saja dengan berjalan-jalan denganmu.”
Dan benar saja, apa yang dikhawatirkan oleh Rio terjadi. Saat pintu pondoknya terbuka dan Tia mulai keluar dari dalam pondok, banyak mata laki-laki tertuju padanya. Bahkan perempuan lainnya juga ikut mengagumi tubuh indahnya, tentu saja setelah mengagumi ketampanan pimpinan laki-laki mereka.
“Tutup mata kalian semua jika tidak ingin mendapatkan SP3 (Surat Peringatakan terakhir) setelah kalian kembali ke perusahaan!” ancam Rio pada karyawan laki-laki yang tanpa sadar melotot memperhatikan Tia.
__ADS_1
Tia menepuk ringan tubuh Rio agar dia bisa mengendalikan kecemburuannya didepan publik. “Sudah ah, Rio. Jangan tunjukkan kecemburuanmu itu secara terang-terangan.” Tia menggandeng tangan Rio untuk berjalan berjajar dengannya.
“Biar saja. Biar mereka tahu jika kamu milikku.” Rio merangkul pinggang Tia dengan posesif.
“Mereka sudah tahu semua sore kemarin. Setelah kamu memberikan pengumuman secara langsung.”
“Hahahaha . . . aku senang sekarang bisa memelukmu didepan umum. Aku ingin seluruh dunia tahu kalau kamu istriku.”
“Iya . . . iya, semua sudah tahu sekarang. Sudah marahnya. Ayo kita bersenang-senang.”
“Aku akan membawamu kepantai sebelah resort ini. Kemarin saat aku berjalan-jalan kesana untuk menenangkan pikiran, aku tidak sengaja menemukan pantai itu. Pantai itu lebih indah.”
“Pantai tempat kamu menolong orang yang tenggelam?”
“Betul. Disana lebih sepi. Kamu bisa lebih menikmati keindahan pantainya. Ayo!” Rio menggandeng tangan Tia yang tersenyum bahagia disebelahnya.
__ADS_1