CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 100 [3 MORE EPS TO THE LAST]


__ADS_3

“Uukkh . . .” lenguh Tia setengah sadar karena merasa nyeri dikepalanya. Cukup lama Tia tertidur efek obat yang diterimanya.


“Hei, bagaimana keadaanmu, Sayang? Apakah ada yang kurang nyaman? Aku bisa memanggilkan dokter kesini untuk memeriksamu.”


“Tidak. Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Hanya kepalaku yang masih nyeri.” Tia memperhatikan ruangan tempatnya terbaring. Ruangan itu didominasi cat berwarna putih bersih.


“Kamu ada dirumah sakit, Sayang. Sore tadi kamu pingsan didalam kamar.”


Tia teringat kenangan buruknya dan langsung terduduk panik.  Diwajahnya timbul rasa ketakutan karena tindakan pemaksaan Gilang.


“Apakah . . . apakah aku sudah . . . sudah . . . Gilang, dia . . . dia.” Tia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena air matanya sudah mengucur deras. Tahu istrinya sedang ketakutan dan terisak, Rio langsung memeluk Tia sambil menenangkannya.


“Tenang, Sayang. Tidak ada yang terjadi sore itu. Aku datang tepat saat Gilang belum sempat melakukannya. Tenanglah, ya. Tenangkan pikiranmu, jangan sampai mengganggu perkembangan anak kita dirahimmu, Sayang.”


“Anak? Apa maksudmu, Rio?” Tia mengehentikan tangisnya seketika karena terkejut akan kalimat yang Rio  ucapkan.


Rio memegang tangan Tia dan menyentuhkannya diperutnya, “Disini. Disini ada janin yang kelak akan terlahir bayi yang lucu. Kamu hamil, Sayang. Sudah 8 minggu.”


“Benarkah? Kamu tidak sedang membohongiku?” tanya Tia dengan tergesa-gesa menginginkan sebuah jawaban.


“Iya, Sayang. Kita akan menjadi Papa dan Mama. Aku sangat bahagia. Terimakasih Tia. Terimakasih karena mengijinkanku dipanggil Papa nanti oleh malaikat kecil kita.”

__ADS_1


Tia menitihkan air matanya kembali. Tapi kali ini air mata bahagia yang jatuh meleleh membasahi pipinya. Tia memeluk suaminya dengan perasaan penuh syukur kepada Sang Pencipta. Akhirnya Allah mengizinkannya untuk menjadi seorang ibu. Rio memeluk istrinya dan tersenyum merasakan kebahagiaan tiada tara. Rio menghujani kening Tia dengan kecupan.


“Maafkan aku, Sayang. Kamu harus melalui hari ini dengan penderitaan. Tapi tunggu sebentar.” Rio keluar memanggil Alan, memintanya untuk masuk membawa laptop yang didalamnya berisikan rekaman CCTV hotel.


“Selamat malam, Bu Tia. Selamat atas kehamilannya, Bu.” Ucap Alan dengan tulus saat memasuki ruang perawatan Tia.


“Terimakasih, Alan.”


Alan membuka laptop dan memasukkan beberapa video kedalam playlist pemutar video. Video itu ditunjukkan kepada Tia agar bisa mengurai kesalah pahaman antara pimpinannya dan istrinya itu.


“Taruh saja laptopnya diatas tempat tidur, Lan. Aku akan menjelaskannya pada Tia terlebih dahulu.”


“Baik, Pak.” Turut Alat.


Rio menjelaskan awal mula perempuan itu bisa masuk kedalam kamarnya, dan ucapannya didukung oleh rekaman CCTV yang Alan bawa. Tia memilih untuk mendengarkan penjelasan suaminya dulu sebelum mengambil langkah berikutnya.


“Hm? Ruangan ini?” tanya Tia yang penasaran kenapa didalam ruangan Rio juga terdapat CCTV.


“Aku memang meminta pihak hotel untuk memasang CCTV diruang tamu. Beberapa minggu ini ruangan ini sering kugunakan untuk rapat ataupun bertemu client yang diadakan secara mendadakan. Ini hanya jenis peningkatan keamanan saja jika ada sesuatu hal yang tidak di inginkan, maka pihak kita bisa dengan mudah mengatasinya dan mendapatkan bukti.”


Tia memperhatikan rekaman CCTV dimulai saat perempuan itu datang sampai bisa berada didalam kamar Rio. Semuanya cocok dengan yang dikatakan suaminya.

__ADS_1


“Rekaman ini selesai sampai disini? Tidak ada yang memperlihatkan didalam ruangan kamarmu? Bagaimana aku tahu jika kalian sudah melakukannya atau belum?” ketus Tia.


“Aku pastikan tidak ada yang terjadi baik sebelum kedatanganmu malam itu. Kamu bisa memastikannya dengan waktu yang ada direkaman CCTV ini.”


Tia menatap kedua mata Rio ingin mencari sebuah kebenaran dimatanya, tapi tidak Tia temukan sebuah kebohongan dari tatapan tulus Rio.


“Bagaimana tubuhmu pagi tadi, Sayang? Walau aku terpengaruh obat kemarin malam, tapi aku masih ingat betul jika aku berperilaku layaknya hewan buas padamu.”


“Aku tidak apa-apa. Aku bisa menanggungnya. Hanya saja aku tidak bisa menanggung apa yang kulihat kemarin malam. Suamiku sedang dikendalikan oleh perempuan lain tanpa busana.” Jelas Tia masih dengan wajah seriusnya.


“Kumohon maafkan aku, Sayang. Aku sudah menjelaskannya semua padamu. Aku juga sudah memberikan bukti jelas padamu.” Rio menggenggam jemari Tia dengan kedua tangannya. “Aku bersumpah tidak ada yang terjadi malam itu. Aku sungguh-sungguh menahannya dengan sekuat tenaga. Aku yakin kamu mengetahuinya karena kamu yang menanggung pelampiasanku semalam.”


“Tapi bagaimana jika aku tidak datang malam itu? Tidak ada jaminan jika kalian berdua tidak akan melakukannya. Melihat keganasanmu tadi malam, aku yakin jika kamu akan menyerah ditangan perempuan itu.”


“Tidak akan, Tia. Aku pastikan tidak akan. Aku tidak akan menyentuh perempuan lain selain dirimu. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan berani menghianatimu. Aku takut kehilanganmu, Sayang.” Rio mendekap tubuh istrinya dengan erat. Malam itu saja Rio tidak pernah melepaskan pelukannya disaat Tia terlelap. Betapa takutnya Rio jika Tia pergi meninggalkannya.


Dalam pelukannya, tangis Tia pecah. Tia mencurahkan segala ketakutan dan kegelisahannya. Luluh sudah pertahanan yang dia rancang dalam malam itu. Sekuat apapun Tia terlihat dari luar, ada hati yang rapuh dalam dirinya setelah mendapatkan penghianatan dimasa lalunya. Saat Tia memergoki Rio dan perempuan lain malam itu, sekelebat kenangan tentang masa lalunya terbayang jelas. Dimana Tia bisa membayangkan saat-saat Gilang berselingkuh dengan kekasih gelapnya. Tapi Tia membulatkan tekadnya untuk menghadapi situasi malam itu dengan kejam.


Mengetahui jika istrinya merasakan kesedihan yang mendalam membuat Rio menyalahkan dirinya sendiri. Andai saja dia tidak menolong perempuan itu, dan andai saja dia lebih teliti dan tidak lengah sehingga perempuan itu bisa memasukkan obat perangsang dalam minumannya. Rio sudah mendapatkan dalang dibalik ini semua. Dia berjanji didalam hatinya tidak akan memafkan orang-orang yang dengan sengaja mencoba memecah pondasi pernikahannya.


“Jangan menangis lagi, Tia. Dokter mengatakan jika kamu tidak boleh stres demi perkembangan janin didalam rahimmu. Aku juga berjanji tidak akan membuatmu sedih lagi, Sayang. Maafkan aku atas kesalahanku dimasa lalu, ya.”

__ADS_1


Tia mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan suaminya yang begitu tulus dan sangat mencintainya.


__ADS_2