CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 102


__ADS_3

Sudah empat bulan berlalu sejak kejadian di Singapura. Pembangunan cabang baru sudah berjalan 75% dan direncanakan pertengahan tahun depan akan selesai. Gilang sudah dikeluarkan dari tahanan sejak setengah bulan yang lalu dan sudah kembali ke Indonesia. Mantan suami Tia itu secara tidak langsung sudah dikeluarkan dari perusahaan dan Gilang tidak bisa mendapatkan pekerjaan dikantor manapun karena catatan hitamnya. Akhirnya dia memilih berdagang untuk menyambung hidupnya dan keluarganya, karena seluruh tabungannya sudah habis untuk membantu pengobatan adiknya. Sedangkan Reza, sudah tidak terdengar kabarnya. Tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Rio pada pria itu, tapi Rio memastikan jika dia tidak membunuh pria bernama Reza itu.


Kini usia kandungan Tia sudah memasuki bulan ke 6. Perutnya sudah memperlihatkan perubahan karena bayi yang dikandungnya. Dengan sedikit memaksa, Tia berhasil mendapatkan izin dari suaminya untuk tetap bekerja dan berjanji tidak akan kelelahan. Orang tua Rio yang berada di Amerika juga sudah mendapatkan kabar jika Tia sudah mengandung. Rio langsung memberikan kabar sesaat dia mengetahuinya dari dokter yang memeriksa Tia. Betapa bahagianya kedua orang tua Rio. Bahkan Bunda Rio sudah mengirimkan uang yang cukup banyak agar bisa membelikan keperluan untuk cucunya nanti. Beliau tetap mengirimkan uang itu walaupun Rio memastikan jika uangnya lebih dari cukup untuk bisa membelikan semua keperluan calon buah hatinya. Tapi Rio mengerti betapa besarnya kebahagiaan kedua orang tuanya yang akan mendapatkan cucu pertama.


“Selamat siang, Pak!” sapa mereka serentak saat mengetahui jika wakil direktur utama perusahaan besar ini turun kelantai divisi mereka. Karyawan lainnya sudah paham kemana arah Rio melangkah.


“Sudah waktunya. Dokter Rena sudah menunggu kita.” Ajak Rio saat dia memasuki ruangan Tia.


Tia tersenyum melihat suaminya sudah turun menjemputnya. Tia memasukkan ponselnya kedalam tas dan berusaha untuk bangun dari duduknya.


“Awas, hati-hati, Sayang. Awas jika perutmu terkena meja.”


“Aku baik-baik saja, Rio. Jangan lebay ah.” Protes Tia.


“Biarkan aku lebay. Aku ingin memastikan istri dan anakku baik-baik saja.” Balas Rio pasti. Rio merangkul pinggang Tia dan mengikuti istrinya berjalan keluar.


“Devi, saya keluar dulu, ya. Mau cek ke dokter kandungan.” Tia memberitahukan tujuannya pada bawahannya.

__ADS_1


“Siap, Bu. Semoga semuanya baik-baik saja ya, Bu. Sehat ibu dan dedek bayinya.”


“Aminn.” Tia dan Rio menjawabnya berbarengan.


“Ayo, Tia.” Ajak Rio, dan dijawab anggukan oleh Tia.


Karyawan lainnya hanya memandang iri melihat Rio yang begitu memperhatikan dan menyayangi istrinya sedemikian rupa. Banyak mata memandang saat Rio berjalan sambil merangkul pinggang istrinya dan mengelus lembut perut Tia yang sudah membesar.


***


Rio melindungi istrinya saat mereka melewati keramaian itu. Tapi tiba-tiba kaki Tia terhenti karena ada yang memegang erat kakinya. Hampir saja Tia terjatuh karena gerakan yang tiba-tiba, tapi dengan tanggap Rio menahan agar istrinya tidak terjatuh.


“Apa yang Anda lakukan? Hampir saja Anda melukai istri saya yang sedang hamil.” Rio membelalakkan matanya kepada perempuan tua yang sekarang masih memegangi pergelangan kaki Tia.


“Tia? Itu kamu?”


Tia melihat perempuan tua yang memanggil namanya, “Tante Ratna? Kenapa Tante ada disini? Bangun dulu, Tante.” Tia membantu orang tua Gilang untuk berdiri.

__ADS_1


“Biar aku saja yang membantunya.” Rio mengambil alih membantu Ibu Gilang untuk berdiri. “Siapa dia, Tia?”


“Mamanya Gilang.” jawab Tia singkat. “Jika Tante ada disini, berarti yang menangis itu . . .”


“Gaby, Tia. Itu Gaby.” Tante Ratna menangis sesenggukan dihadapan Tia dan melihat perut Tia yang mulai membuncit. “Maafkan Tante, Tia. Maafkan aku. Maafkan juga anak Tante. Kami sudah mendapat karmanya. Tolong maafkan kami.”


“Kenapa Tante mengatakan hal seperti itu?”


“Gaby, Tia. Rahim Gaby harus diangkat karena ada tumor dan membahayakan jiwanya, kemanapun kami berobat tapi tetap hanya itu pilihannya. Gaby akan cacat, Tia!” teriak Tante Ratna ditengah tangisnya, “Maafkan perlakuan Tante yang dulu pernah mengataimu sebagai perempuan mandul. Maafkan Tante, Tia. Tante sudah mendapatkan karmanya.” Tante Ratna mengatupkan kedua tangannya untuk memohon ampun kepada mantan menantunya.


“Sudah, Tante. Tia sudah memaafkan Tante. Sekarang cukup temani Gaby didalam agar dia bisa menerima keadaannya. Dan perlu Tante tahu, anak adalah hal terpenting bagi orang tua, Tante juga dipercaya untuk memilikinya. Jadi jangan pernah mengucapkan jika Gaby cacat hanya karena dia tidak memiliki rahim ditubuhnya. Masih banyak cara, Tante. Masih banyak cara untuk memiliki malaikat kecil walaupun bukan dari rahim sendiri. Jadi tolong semangati Gaby, Tante. Semangati dia agar bisa menjalani hidupnya kedepannya. Dan yakinkan pada Gaby, bahwa suatu hari pasti ada seseorang laki-laki yang tepat yang bisa menerima keadaanya. Sama seperti Tia, yang mendapatkan suami yang sangat menghargai apapun keadaan Tia.” Tia tersenyum memandang suaminya yang juga sudah tersenyum hangat karena ucapan bijak yang Tia keluarkan. Betapa besar hati istrinya walaupun sudah pernah disakiti, tapi hatinya bisa memaafkan tanpa syarat.


“Terimakasih, Nak. Terimakasih.” Ucap Tante Ratna dan setelah itu beranjak masuk keruangan Gaby yang sudah tenang setelah menerima suntikan obat penenang.


Tia dan Rio akan melanjutkan perjalanannya menuju ruangan Dokter Rena. Baru melangkahkan kaki beberapa langkah dari depan ruangan Gaby, Tia dan Rio memandang seorang laki-laki yang berdiri sambil tertunduk diam. Tapi keduanya tahu jika pria itu adalah Gilang walaupun penampilannya sudah jauh berbeda, lebih lusuh tak terawat. Gilang menundukkan kepalanya karena merasa bersalah akan tindakannya yang dia lakukan kepada Tia, dan juga rasa takutnya terhadap Rio karena tatapannya sangat mengintimidasi.


Pasangan suami istri itu melewati Gilang tanpa mengatakan sepatah katapun, mereka lebih memilih cepat menemui dokter Rena karena sudah rindu melihat bayi mereka didalam kandungan Tia.

__ADS_1


__ADS_2