CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 36


__ADS_3

“Apa!” Tia merasa lebih terkejut dengan kabar kehamilan Cindy dibanding kabar perselingkuhan yang dilakukan suaminya. Tia menyeka sisa air matanya dan menatap sahabatnya yang duduk disebelahnya.


“Kamu yakin? Sejak kapan?”


“Aku mengetahuinya sesaat sebelum kita bertemu dicafe siang itu. Aku menggunakan tes kehamilan sebelum berangkat menemuimu.”


“Kenapa kamu tidak cerita padaku?” kalimat Tia terdengar sangat khawatir.


“Bagaimana aku bisa menambah bebanmu disaat masalah rumah tanggamu yang sedang dilanda kehancuran. Aku tak mau menambah pikiranmu, Tia.”


“Oh, Cindy.” Tia memeluk hangat tubuh Cindy dan mengusap punggungnya. “Kamu pasti menderita sendirian karena tidak ada yang bisa mendengarkan kesedihanmu.”


“Kamu tahu jika hanya dirimu yang kupercaya. Aku tak percaya yang lain karena mereka selalu bermuka dua didepanku.” Cindy melepaskan pelukan Tia perlahan. “Dan aku tidak apa-apa. Sekarang yang terpenting adalah masalahmu. Kamu harus menyelesaikan masalahmu dulu, Tia.”


“Sudah berapa minggu kehamilanmu?” Tia tidak mendegarkan perkataan sahabatnya.


“Aku belum tahu, tapi jika kuhitung dari terakhir kali aku menstruasi, ini sudah minggu ke empat.”


“Berarti kemungkinan kamu sudah hamil sekitar dua bulan, Cind. Dari artikel dulu yang pernah kubaca, biasanya hari sebelum menstruasi berikutnya itu juga ikut terhitung usia kandungan. Bagaimana jika aku mengantarmu periksa hari ini. Mumpung juga kamu sedang izin.”


“Hey . . . hey . . . apa-apaan ini? Bukankah masalahmu saat ini yang lebih penting? Kenapa malah mengurusi kehamilanku.”


“Apa kamu sekarang semakin bodoh setelah hamil, Cindy? Tentu saja kehamilanmu lebih penting. Kamu akan melahirkan seorang anak yang harus kamu pertanggung jawabkan kedepannya, kesehatannya yang terpenting.”


“Sudah, istirahatlah dulu. Lagi pula aku sudah memberikan surat dokter ke kantor agar bisa izin untuk tiga hari kedepan. Kita masih punya waktu untuk memeriksakan kandunganku. Tidurlah dulu dikamarku. Kita akan mengobrol lagi nanti.”

__ADS_1


Tia mengikuti saran dari sahabatnya. Tia masuk kedalam kamar Cindy dan merebahkan tubuhnya kekasur empuk itu. Perlu waktu untuk membuat matanya tertidur karena terlalu banyak pikiran yang bertengger di otaknya. Belum lagi rasa sakit hati yang masih begitu kuat dirasanya. Dengan susah payah akhirnya Tia bisa terlelap dengan bantuan lilin aroma terapi yang baru saja Cindy taruh didalam kamarnya. Cindy menyadari jika Tia kesulitan untuk tidur. Lilin itu cukup ampuh untuk menenangkan segala pikiran yang sedang dilanda kekhawatiran dan kesedihan.


“Sudah bangun? Tidak menangis lagi?” tanya Cindy pada Tia. Cindy masuk kedalam kamarnya dengan membawa beberapa roti isi dan teh hangat.


“Aku terlalu lelah untuk menangis. Rasanya mataku mau copot karena bengkak.” Tia duduk bersandar di tempat tidur.


“Makanlah.” Cindy memberikan nampan makanan dan ikut duduk bersandar diatas tempat tidur.


“Roti isi untuk makan siang?”


“Jangan banyak protes, makan saja. Kamu cukup cerewet untuk seseorang yang akan segera menjadi janda.”


“Haahhh . . . itukah statusku berikutnya?” Tia menghembuskan nafas beratnya.


“Tapi aku sungguh tidak menyangka. Kukira selama ini kamu begitu mencintai laki-laki brengsek itu.”


“Dan kamu dengan mudah mau melepasnya?”


“Bukan aku yang mau melepasnya. Tapi Mas Gilang yang tidak memilihku, Cindy. Untuk apa aku mempertahankan seseorang yang sudah tidak menginginkanku. Itu akan membuatku lebih terpuruk.”


“Aku sangat terkejut dengan Gilang yang bisa begitu mudah meninggalkanmu.”


“Apalagi denganku, rasanya aku tak ingin percaya, tapi semua itu terjadi dikehidupanku. Dan kamu tahu, Cindy. Pagi ini saat aku akan meninggalkan rumah, Dera sudah ada didalam rumah itu dan bercanda gurau dengan seluruh orang yang ada didalam rumah itu.”


“Gila!!! Seisi rumah itu memang gila. Mereka sama sekali tidak memikirkan perasaannmu.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Cindy. Dengan begitu aku bisa lebih yakin untuk melangkah pergi dari rumah itu. Aku begitu rapuh, aku bisa saja langsung luluh jika mas Gilang meminta maaf dan memintaku kembali. Tapi berkat itu aku memantapkan pilihanku untuk pergi.” Tia mulai meneteskan air matanya.


“Sudah, Tia. Hapus air matamu. Pilihanmu sudah benar. Kamu memang harus meninggalkan laki-laki sampah seperti Gilang. Akan kubuat dia menderita dikantor.”


“Jangan, Cindy. Jangan kamu melakukan hal itu. Jika kamu melakukannya, berarti kamu sama saja dengan mereka. Berhati kejam.” Tia menatap Cindy dan mencari kebenaran dimatanya akan ucapan yang baru saja Cindy lontarkan.


“Iya . . . iya, aku tak akan melakukannya. Kamu tenang saja.” Jawab Cindy dengan geram.


“Lalu, apa yang akan kamu lakukan berikutnya?”


“Sambil menunggu perceraian, aku akan mencari pekerjaan. Aku sudah tidak punya apa-apa, Cind. Semua yang kumiliki telah hilang. Rumah, mobil, uang penjualan keduanya, bahkan aku tidak diperbolehkan membawa barang milikku sendiri selain tas dan koperku. Termasuk motorku, tetap berada didalam rumah itu.”


“Kamu bisa tinggal dirumahku sesukamu. Atau selamanya pun tak masalah bagiku.”


“Dan lihat!!! Betul kan perkataanku dulu. Andai saja . . . “ tiba-tiba emosi Cindy memuncah.


“Ssssttt! Aku belum siap menerima ocehanmu, Cindy.” Tia menutup mulut Cindy dengan tangannya.


Cindy melepaskan tangan Tia dengan kasar, “Aku tidak perduli. Kali ini aku ingin marah padamu. Andai saja kamu mendengarkanku dan tidak menjadi gadis bodoh.”


“Iya, aku memang gadis bodoh. Sudah puas! Dan atur emosimu. Kamu sedang hamil, jangan sampai calon anakmu meniru kebiasaan burukmu. Berhati-hatilah dalam berbuat dan berbicara. Itu bisa mempengaruhinya. Dia tidak berdosa. Jangan sampai tertular penyakit jelek emaknya.” Tia membelai perut Cindy yang mulai sedikit membesar.


“Enak aja, lo!” Cindy membuang tangan Tia jauh-jauh dari perutnya. Mereka berdua tertawa bersama karena bersyukur bisa melewati kesedihan satu sama lainnya.


“Terimakasih karena sudah menjadi sahabatku, Tia.” Cindy kali ini menggenggam erat kedua tangan Tia dan berbicara dengan lembut.

__ADS_1


“Aku yang harus lebih banyak berterimakasih padamu. Karena kamu masih mau menjadi sahabatku.” Tia memeluk Cindy dengan perasaan penuh syukur.


__ADS_2