CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 65


__ADS_3

“Mas Gilang, jika kamu masih menghindariku, aku tidak akan segan-segan mendatangimu kekantor. Temui aku dirumahku malam ini. Jika tidak, kamu akan tahu akibatnya.” Isi pesan singkat yang dikirimkan Dera pada Gilang.


“Perempuan si*ting. Berani-beraninya dia mengancamku.” Gumam Gilang.


“Kita jadi ngopi-ngopi dulu setelah pulang kerja, Lang?” tanya Toni dan Ciko.


“Maaf, Ton. Tiba-tiba aku ada keperluan mendadak, aku harus pergi menemui seseorang.”


“Oh, Ok. Aku bisa lanjut dengan Ciko. Aku duluan ya.” Toni berpamitan dan Ciko mengikutinya dari belakang.


Gilang membereskan pekerjaannya dengan suasana hati yang tidak karuan. Setelah pekerjaannya selesai, Gilang langsung mengendalikan kemudinya menuju rumah Dera. Dia tahu betul jika perempuan satu itu memiliki keberanian untuk benar-benar melakukan tindakan sesuai yang dikatakannya.


Gilang sudah pernah terpuruk karena hubungannya ketahuan, Dera terlalu sembrono menciumnya didalam kantor, dia tidak ingin semakin malu jika sampai Dera datang kekantor dan melampiaskan kemarahannya karena Gilang tidak bertanggung jawab pada Dera.


Tok . . . tok . . . tok . . . Dera membukakan pintu rumahnya saat seseorang mengetuknya malam ini.


“Mas Gilang . . .” Dera langsung menghambur kepelukan Gilang. Malam ini Dera menggunakan baju tidur yang super tipis dan transparan, berharap Gilang akan tergoda.


“Lepaskan aku! Aku tidak ingin digerebek tetangga karena ketahuan memelukmu ditengah malam.”


“Mas masih ketus padaku?” tanya Dera saat Gilang masuk dan duduk diruang tamu.

__ADS_1


“Dengan tindakanmu mengancamku? Iya, aku memang harus ketus padamu.”


“Aku harus bagaimana lagi, Mas? Mas Gilang dengan sengaja menghindariku, Mas sudah tidak perhatian lagi padaku. Aku telah memberikan semuanya padamu, Mas. Apalagi yang kurang padaku?”


“Aku tidak mencintaimu, Dera. Dan kamu sendiri yang memprovokasiku untuk berhubungan badan denganmu. Sejak awal kamu tahu bukan bagaimana perasaanku?”


Dera mulai meneteskan air matanya, “Tapi kukira, setelah hubungan kita beberapa bulan ini, Mas akan memiliki perasaan cinta untukku. Dulu, kita selalu bersama, kita bahagia, tapi kenapa masih belum ada perasaan untukku, Mas?”


“Kamu tahu yang membuatku tidak bisa mencintaimu? Kamu berbeda dengan Tia. Tia menghormatiku diatas segalanya, dia menghormati mamaku dan mencintai Gaby layaknya adik kandungnya sendiri. Tapi apa yang kamu lakukan, hah? Kamu tidak pernah menghormati mamaku.”


“Sekarang kamu membanding-bandingkan aku, Mas?”


“Tapi bagaimana bisa aku diam saja jika mama Ratna terus saja mendesakku, Mas. Dia terus saja bertanya kenapa aku belum juga hamil setelah berhubungan denganmu. Sedangkan statusku saja belum jelas dikeluarga itu. Mana mungkin aku mau mengambil resiko besar tanpa adanya status pernikahan. Dia juga selalu saja mengacuhkanku dan berusaha menempatkanku sebagai pembantu dirumah itu!” Dera mulai histeris.


“Dia? Panggil mamaku dengan sopan, Dera!”


“Sopan? Dia saja tidak punya sopan santun sebagai orang tua. Dia mulai mengataiku jika aku mandul, Mas! Mama yang kamu sanjung-sanjung itu tidak bisa menjaga perasaan orang lain.”


“Cukup, Dera!”


“Atau jangan-jangan memang Mas yang mandul, dan bukan Bu Tia yang . . .” belum sempat Dera menyelesaikan kalimatnya, tapi pipi kanannya sudah menerima tamparan yang keras dari Gilang.

__ADS_1


Plakk . . . “Jaga mulutmu, Dera.” Gilang mencoba sekuat mungkin untuk menahan tangannya berbuat yang lebih kejam.


“Lalu apa, hah? Nyatanya setiap kita berhubungan, kita hanya sesekali memakai pengaman. Dan ini sudah 5 bulan berjalan sejak kita melakukannya pertama kali. Sampai sekarang aku masih belum juga hamil padahal dulu kita sering melakukan hubungan itu.”


“Bisa saja kamu yang mandul.”


“Mana mungkin aku mandul, Mas. Dulu aku sudah pernah keguguran saat masih SMA.”


“Apa? Kamu sudah pernah hamil? Dan bukan yang pertama kali denganku?”


“Hah? Bagaimana mungkin Mas mengira jika denganmu adalah yang pertama kali. Apa kamu tidak menyadari kehebatanku diatas ranjang sejak pertama kali kita berhubungan, Mas?”


“Kamu membohongiku, Dera!” bentak Gilang.


“Hubungan kita memang terbangun atas dasar kebohongan, Mas. Aku membohongi Mas Gilang, dan kamu membohongi istrimu. Jadi kita impas.”


“Jangan pernah lagi datang kehadapanku, aku muak melihat perempuan kotor sepertimu?”


“Apa? Perempuan kotor? Berkacalah dulu, Mas. Agar kamu lebih tahu diri. Sekarang silahkan keluar dari rumahku.” Perintah Dera yang sudah tidak memperdulikan Gilang lagi.


Gilang keluar dari rumah sambil membanting pintu rumah keras-keras. Selama perjalanan, dia terus mengutuk perempuan yang pernah menjadi selingkuhannya itu. Dia juga memaki diriya sendiri karena telah melakukan kesalahan yang teramat besar, sehingga membuatnya harus kehilangan seseorang yang benar-benar mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2