
“Sudah hampir satu tahun ni, Ma. Kenapa kak Tia kok enggak hamil-hamil ya?” tanya Gaby pada mamanya.
“Entahlah. Mama juga tak habis pikir. Kenapa kakakmu itu kok masih mau sama perempuan mandul seperti Tia. Masih saja dia melindunginya jika Mama mulai memojokkan istrinya.”
“Kalau enggak bisa hamil, mendingin kak Gilang suruh ceraiin aja, Ma.”
“Mama juga berfikir seperti itu.”
Mama Ratna dan juga Gaby sedang mengobrol dihalaman belakang pinggir kolam renang. Tanpa mereka sadari jika Tia sudah pulang kerumah dan mendengarkan semua yang mereka bicarakan.
Hati Tia hancur berkeping-keping. Sungguh tidak pernah dia duga jika orang tua dan adik yang dianggapnya sebagai keluarga kandung begitu tega mengatakan hal itu dibelakangnya. Tia berusaha menenangkan hatinya yang kembali bergejolak. Ujung matanya sudah bertengger setetes air mata.
“Tidak apa-apa, jangan masukkan dalam hati, Tia. Selama ada Mas Gilang disisimu, semuanya akan baik-baik saja.” Ucap Tia pada dirinya sendiri. Dia terus mengucapkannya beberapa kali. Saat dirasa sudah mampu menenangkan hatinya, dia dengan penuh perjuangan membengkokkan bibirnya agar bisa tersenyum dan menyapa kedua orang yang duduk dihadapannya.
“Hai, Ma. Gaby.” Sapa Tia dengan senyumnya.
“Oh . . . Ka . . . Kak Tia sudah datang? Sejak kapan Kak Tia ada disitu?” tanya Gaby gelagapan. Dia takut jika obrolan dengan mamanya terdengar oleh Tia.
__ADS_1
“Baru saja. Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Tia saat dia mendekati adik dan mamanya.
Gaby terlihat menghembuskan nafas leganya, “Kami hanya mengobrol ringan saja, Kak.”
“Kenapa kamu menyembunyikan apa yang baru saja kita bicarakan, Gaby!” bantah mama Ratna.
“Kami sedang membicarakan tentang ketidak mampuanmu untuk memiliki seorang anak.”
Tia terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut mamanya, padahal dia sudah berusaha untuk berpura-pura tidak mendengar dan memilih untuk melupakannya. Tapi mama Ratna berfikir sebaliknya.
“Tapi Mama tahu sendiri dari hasil tes kesuburan Tia. Tia sehat, Ma. Tia normal.”
“Tia tidak mengatakan jika Mas Gilang yang bermasalah, Ma. Tia hanya mengingatkan Mama jika hasil Tia bagus. Tapi kenapa Mama masih menganggap Tia mandul!” jelas Tia dengan histeris. Dia sudah tidak mampu menahan emosinya.
“Kamu membentak Mama???”
“Harus bagaimana lagi Tia menjelaskan, Ma. Tia bingung karena selalu dipersalahkan. Tia juga ingin mempunyai seorang anak, tapi Tia tidak bisa menentukannya karena itu semua kehendak dari Tuhan.” Tia sudah berlinang air mata.
__ADS_1
“Itu berarti memang kamu yang tidak bisa. Jangan menyalahkan Tuhan. Bisa saja hasil tesmu kemarin itu salah.”
“Cukup, Ma. Tia mohon, cukup!” Tia meneriakkan rasa frustasinya.
“Lancang kamu!” dengan cepat mama Ratna melayangkan tangannya ke pipi Tia. Untuk kesekian kali Tia mendapatkan tamparan dan mertuanya.
Tia menangis sambil memegang pipinya yang memerah karena bekas tamparan yang kuat. Tangisnya terisak karena selalu mendapatkan perlakuan yang kurang baik.
“Makanya, Kak, jangan melawan Mama. Terima saja kalau Kak Tia mandul.” Tambahan perkataan kejam dari adiknya.
“Gaby? Kamu juga seperti ini ke Kak Tia?”
“Kan itu memang kenyataanya, Kak!” teriak Gaby. Gaby mendorong tubuh Tia hingga terjatuh kelantai. “Sadar diri dong, Kak. Jika Kakak tidak bisa memberikan keturunan, cepat cerai saja dengan Kak Gilang. Kak Gilang berhak mendapatkan yang lebih baik dari Kakak.”
Tia tidak mampu lagi bertahan, dia takut jika emosinya akan lebih meledak. Tia lebih memilih untuk pergi meninggalkan keduanya dan masuk kedalam kamarnya.
Tia melanjutkan tangisnya, dan meratapi semua yang dialaminya. Sambil terus memperhatikan jam yang sudah menunjukkan lewat sembilan, Tia menunggu suaminya yang tidak pulang-pulang dan juga tidak ada kabar. Sejak sore tadi Tia terus menghubungi suaminya tapi tidak ada jawaban.
__ADS_1
“Dimana kamu, Mas? Aku membutuhkanmu?” isak Tia dalam tangisnya.