CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 101


__ADS_3

 Setelah dua hari dirawat, Tia sudah bisa keluar dari rumah sakit. Rio menyewa kamar dihotel yang sama dengan tempatnya menginap selama berada di Singapura, hanya saja dia menyewa dengan tipe kamar yang berbeda. Rio tidak ingin membuat istrinya teringat kembali akan kejadian malam kemarin yang membuat rumah tangganya sempat diterpa badai.


Rio dan Tia berendam di bathub besar yang bisa digunakan dua orang. Tia memilih untuk bersandar didekapan suaminya sambil menikmati aroma terapi. Sesekali Rio meraba lembut perut datar Tia karena calon bayi mereka ada didalam sana. Mereka berdua memutuskan untuk bersantai dan melenyapkan rasa lelah dengan air hangat dan beberapa tetes esensial lavender setelah menyelesaikan semua ganjalan yang menjadi masalah dirumah tangga mereka berdua.  Rio mengucapkan syukur yang berlimpah saat sang istri mempercayainya dan mau memaafkannya, terlebih saat ini Tia sedang mengandung benihnya.


“Masih ada satu pertanyaan yang belum kutanyakan.” Tanya Tia saat masih bersandar didada kekar suaminya.


“Apa itu?”


“Kenapa kamu susah sekali dihubungi? Bahkan saat aku bertanya pada Alan, tetap saja aku tidak bisa terhubung denganmu.”


“Maafkan aku, Sayang. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku secepatnya agar bisa cepat kembali ke Indonesia untuk menemuimu. Tapi tanpa sadar aku malah tidak memberikanmu kabar berita. Sekali lagi maafkan aku.”


Tia berbalik menghadap suaminya, “Aku sudah berfikir jika kamu sudah tidak mencintaiku dan ingin pergi dariku dengan perlahan. Apalagi saat aku sampai disini aku melihat pemandangan yang membuatku ingin membunuh orang saat itu juga. Menurutmu harus bagaimana aku bereaksi jika kamu berada di posisiku?”


“Jika aku berada di posisimu? Entahlah, aku tak berani membayangkannya. Aku tak akan mampu jika melihatmu bersama dengan laki-laki lain. Kurasa hatiku akan hancur berkeping-keping.”


“Berarti kamu tahu bagaimana perasaanku.”


“Maafkan aku, Tia. Sungguh maafkan aku.” Rio memeluk kembali istrinya dan mengecup kening Tia beberapa kali. “Aku berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Aku sudah tahu siapa dalang dibalik ini semua. Kamu akan terkejut jika mendengarnya.” Rio mengurai pelukannya dan mengecup singkat bibir istrinya.

__ADS_1


“Siapa mereka?”


“Kamu masih ingat Reza? Seseorang yang berusaha melecehkanmu dipesta pernikahan Cindy?”


“Dia?”


“Iya, betul. Pria brengsek itu dalang semua kejadian ini. Setelah perlakuannya padamu dulu, dengan koneksiku, dia kehilangan jabatannya sebagai wakil direktur perusahaan percetakan. Karena itu dia menyimpan dendam padaku. Dan entah bagaiman caranya dia bisa menjalin kerjasama dengan Gilang untuk menjatuhkanku. Perempuan yang kamu temui dikamarku malam itu juga termasuk rencana mereka. Perempuan itu sudah mengaku.”


“Gilang juga? Bukankah dia ada disini karena menemani adiknya berobat?”


“Adiknya memang berobat disini. Dan kamu tahu? Uang hasil penjualan apartemen dan mobilmu dulu  yang mereka gunakan untuk membiayai semua pengobatan adiknya Gilang disini.


“Biar saja. Aku sudah mengikhlaskan uang itu sejak aku bercerai dengan Gilang.”


“Mungkin Gilang yang mengatakannya pada Reza. Aku bertemu dengan Gilang saat keluar dari ruang HRD setelah mengurus cuti. Mungkin Gilang mendengarkan aku berbicara secara diam-diam.”


“Berarti memang Gilang pelakunya. Tapi apa yang kamu lakukan pada perempuan itu? Pagi saat kamu pergi meninggalkanku, aku melihat cleaning servis membersihkan baju perempuan itu dikamar.”


“Kamu tidak melihatnya di CCTV?”

__ADS_1


“Tidak. Aku hanya meminta Alan mencari rekaman CCTV disaat perempuan itu datang sampai kedatanganmu setelahnya.”


“Aku mengusirnya dan hanya memberikannya selimut saja. Dia perempuan tak tahu malu karena mencoba menggoda suami orang. Biar sekalian saja dia mati karena malu dengan penampilannya yang seperti itu.”


“Waahhh . . . ternyata istriku cukup kejam.”


“Aku bisa lebih kejam dari itu. Andai saja malam itu saat aku masih terbaring dirumah sakit tidak ada penjelasan dan bukti dihadapanku, aku sudah pergi meninggalkanmu tanpa menoleh kebelakang sekalipun. Aku tidak akan mentolelir sebuah penghianatan Rio. Jika sekali saja kamu melakukan itu, aku tidak akan segan-segan pergi darimu.”


“Kumohon jangan katakan hal itu, Tia. Aku sudah bilang berkali-kali jika aku tidak bisa hidup tanpamu.” Rio memeluk istrinya sekali lagi. “Aku juga akan menemanimu membesarkan anak-anak kita kelak. Aku akan mendampingi mereka sampai beranjak dewasa.”


Tia tersenyum lebar melihat suaminya antusias dengan kehamilannya, dia membalas pelukan suaminya dengan memeluknya erat, tubuh Tia melekat secara langsung menyentuh tubuhnya. Ada desiran tersendiri yang tiba-tiba membangunkan sesuatu dibagian bawah Rio karena bersentuhan secara langsung dengan kulit Tia.


“Rio?” tanyanya, karena terkejut ada yang tiba-tiba menegang dibawah dan menusuk perutnya.


“Emmmm . . . Tia! Boleh minta?” tanya Rio hati-hati. Pria itu tidak bisa membendung hasratnya karena melihat istrinya tanpa mengenakan apapun didalam bathub.


“Dokter mengatakan jika kita harus hati-hati dalam berhubungan intim, Rio. Kehamilanku masih rentan.”


“Aku akan pelan-pelan, Sayang. Aku juga akan hati-hati.”

__ADS_1


“Kamu yakin bisa?” tanya Tia ragu, karena hafal betul bagaimana Rio bertindak dalam setiap permainan panas itu.


“Kita coba saja dulu.” Dengan cepat Rio menyambar tubuh Tia dan mulai melampiaskan hasrat kelaki-lakiannya.


__ADS_2