CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 25


__ADS_3

“Kopi, Pak Gilang.”


“Terimakasih, Dera.” Gilang menerima satu cangkir kopi panas yang Dera antarkan kemejanya pagi ini.


“Ada apa, Pak? Kenapa wajah Bapak seperti sedang ada masalah?”


“Bukan apa-apa, Dera. Hanya permasalahan rumah tangga saja.”


“Apa ada masalah dengan istri Bapak? Bu Tia ya kalau tidak salah namanya.”


“Biasa, hanya masalah kecil saja.”


“Bapak bisa cerita dengan saya jika mau. Saya akan menjadi pendengar setia untuk Bapak.” Dera menawarkan jasanya.


“Terimakasih, Dera. Terimakasih juga kopinya. Kamu bisa kembali ke mejamu dan melanjutkan pekerjaanmu.”


“Baik. Pak. Panggil Dera saja jika memerlukan sesuatu.”


Dera merupakan anak magang yang baru bekerja dua bulan. Gadis ini cukup cantik dengan perawakan yang mungil. Banyak yang menyukai keramahan Dera.

__ADS_1


Dera bekerja dibagian yang sama dengan Gilang. Dan Gilang di utus untuk menjadi mentornya selama magang. Dengan demikian, Dera lebih dekat dengan Gilang dari pada karyawan yang lainnya.


“Dera, coba buatkan laporan ini dan setelah itu kembalikan kepada saya sebelum diserahkan pada Pak Erwin.” Gilang menyerahkan berkas yang harus diselesaikan.


“Baik, Pak!” Dera mengambil berkas itu segera dan mengerjakannya di mejanya.


“Emm . . . Pak Gilang, maaf. Dera mau bertanya?” ucap Dera saat dia selesai menyerahkan laporannya.


“Ada apa, Dera?”


“Apa Bapak pulang nanti ke arah wilayah Y, Pak?”


“Iya, saya pulang melewati wilayah itu. Kenapa?”


“Lalu, tadi bagaimana caramu datang kekantor?”


“Oh, tadi Dera meminjam uang teman magang Dera juga yang ada dibagian lain. Dera malu kalau harus meminjam dua kali.”


“Berapa ongkos taksimu?”

__ADS_1


“Apa, Pak?”


“Ini.” Gilang menyerahkan uang satu lembar seratus ribuan kehadapan Dera. “Apa ini cukup untuk naik taksi?”


“Cukup si, Pak. Tapi Dera tidak ingin meminjam, Dera hanya ingin menumpang, Pak.”


“Lebih baik kamu naik taksi saja, saya sudah berkeluarga Dera. Tidak enak jika dilihat orang.” Gilang melanjutkan mengecek laporan yang tadi diserahkan oleh Dera.


“Ok, laporannya sudah benar. Langsung antar saja kepada Pak Erwin dilantai tiga.”


“Baik, Pak. Dan ini uangnya tidak perlu, Pak. Saya bisa menumpang dengan teman saya.” Dera menyerahkan kembali uang itu dan pergi dari meja Gilang.


Dera sepanjang jalan menuju ruangan Pak Erwin menggerutu sendiri karena gagal ikut Gilang untuk pulang. Sejak pertama kali menjadi anak magang diperusahaan itu, Dera memang tertarik dengan Gilang. Tapi saat tahu jika Gilang sudah mempunyai istri, apalagi istrinya juga cukup terkenal di perusahaan tempatnya magang, Dera memilih mundur dari perasaannya. Namun karena setiap hari intensitas bertemu lebih besar, Dera membiarkan hatinya bergerak sesuai keinginannya. Tanpa ia sadari, ia telah mendekati seorang laki-laki beristri.


“Ini, Pak, laporan dari Pak Gilang.” Dera menyerahkan satu berkas laporan kepada Pak Erwin.


“Ok, terimakasih. Dera jangan lupa senyum, jangan lipat wajah cantikmu. Tak enak dipandang mata.”


“Betulkah saya cantik, Pak? Tapi kenapa orang itu tidak melihat kecantikan saya?” omelnya dengan suara pelan.

__ADS_1


“Siapa yang kamu maksud?” tanya laki-laki setengah baya itu.


“Bukan, Pak. Bukan siapa-siapa. Saya kembali ke ruangan saya dulu, Pak. Permisi.” Dera keluar dari ruangan Pak Erwin.


__ADS_2