
“Mau kuantar?” tanya Rio pada Tia saat perempuan itu sedang menunggu bis.
“Tidak, terimakasih.”
“Aku tidak akan memaksamu, tapi ini sudah terlalu sore, akan sulit untukmu mendapatkan bis. Tapi jika kamu keberatan, aku tak masalah. Aku duluan.”
“Tunggu! Baiklah aku ikut, tapi apa tidak masalah jika harus mengantarku kerumah. Emmm . . . rumahku cukup jauh dan mungkin itu berbeda arah dengan rumahmu.” Tia bertanya dengan ragu.
“Tidak masalah. Aku akan mengantarmu sampai rumah dengan aman.” Rio turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Tia.”Masuklah.” Rio mempersilahkan dengan nada suara super lembut. Nada suara yang tidak pernah didengar oleh orang lain selain Tia.
Tia masuk kedalam mobil itu dengan anggun, Tia harus sedikit menundukkan kepalanya karena mobil sporty yang Rio kendarai sedikit rendah tapi memiliki kenyaman yang tidak ada tandingannya. Dengan yakin Rio mulai menancap gasnya dengan perlahan, pria itu ingin berlama-lama berada ditempat yang sama dengan pujaan hatinya.
“Kenapa kamu pindah ketempat yang lumayan jauh? Lalu lebih aman jika menggunakan taksi dari pada bis umum.”
“Menggunakan bis umum juga aman karena banyak orang didalamnya, dan tentunya aku bisa lebih berhemat.”
“Bagaimana dengan rumah itu?”
“Alasannya sama dengan bis yang akhir-akhir ini aku tumpangi, tujuannya sama agar aku bisa berhemat.”
“Untuk apa kamu melakukannya?”
“Tentu saja untuk meneruskan dan memperbaiki kehidupanku, Rio. Walaupun aku sebagai manager, tapi aku merangkak lagi dari bawah. Aku harus menyusun kembali hidupku yang sempat berantakan. Aku tidak perlu menceritakannya secara detail karena kamu pasti sudah mendengar desas desusnya dikantor.”
“Kenapa kamu tidak memperjuangkan hakmu itu.” Tanya Rio dengan penuh empati.
“Aku terlalu lelah untuk terlibat dalam masalah jika aku memperjuangkan milikku dulu. Yang aku mau hanya lepas dari masa laluku secepatnya. Aku tidak mau terbelenggu.”
Pandangan mata Tia terlihat kosong saat dia menatap keluar cendela mobil. Hidupnya begitu berat tapi dia tetap harus bangkit dari keterpurukannya dan berkat dukungan dari Cindy, Tia mampu melewati hari-hari beratnya.
“Terimakasih, Tia.” Ucapan Rio membuyarkan lamunan Tia.
“Hah? Untuk apa?”
“Karena kamu mau menceritakan keluh kesahmu padaku. Aku bersyukur kamu mau terbuka padaku, dan maafkan aku karena selama ini aku terus memaksa untuk bisa dekat denganmu.”
Tia terdiam, dia sendiri tidak percaya bisa bercerita panjang lebar dengan pria pemaksa disebelahnya. Sebenarnya tanpa disadarinya sosok Rio sudah terasa selalu ada disisinya, dimanapun dia berada saat dikantor, Rio selalu ada didekatnya. Dan saat dirumah, Rio sering mengiriminya pesan singkat ataupun meneleponnya walau hanya sekedar menanyakan kabar atau bertanya apakah Tia sudah makan apa belum.
__ADS_1
Perjalanan mereka sedikit memakan waktu lebih banyak, 90 menit mobil Rio baru memasuki komplek perumahan yang Tia tinggali.
“Turunkan saja aku didepan gang, mobil tak kan muat masuk kedalam.”
“Bisakah aku memarkirnya disana?” Rio menunjuk rumah kosong yang memiliki halaman cukup luas.
“Untuk apa?”
“Aku akan mengantarkanmu sampai kedepan rumah, dan setelah itu aku akan langsung pulang.”
“Tidak usah, kamu pasti lelah. Cepatlah pulang dan beristirahat.”
“Akan lebih bagus jika aku tahu dimana rumahmu. Yahh . . . paling tidak jika ada sesuatu yang urgent aku bisa langsung menghampirimu.”
“Kamu melakukan hal ini padaku sebagai apa untuk saat ini?” tanya Tia serius.
“Bagaimana kalau kita mulai sebagai teman? Aku tidak akan menarik perkataanku jika aku tertarik padamu, tapi aku bisa menjadi temanmu untuk saat ini. Ceritakan semua padaku tentang masalahmu, aku akan menjadi pendengarmu yang setia, katakanlah padaku jika kamu memerlukan bantuan. Bukankah itu fungsi teman?”
“Aku punya Cindy, Rio.”
“Yup, kamu betul.”
“Jadi sekarang kita teman?” tanya Rio penuh harap. Pertanyaannya dibalas anggukan dan senyuman manis yang melengkung melalui bibirnya. Rio menahan keinginannya untuk berteriak kegirangan karena wanitanya mau menerimanya walaupun hanya sebatas teman untuk saat ini, dia menahan lonjakan kebahagiaan yang memuncah dari dalam dirinya.
“Turunlah, aku akan mengantarkanmu sampai depan rumah.”
Tia dan Rio berjalan beriringan melewati gang kecil menuju rumah kontrakan Tia. Disana mereka melewati sekelompok pemuda yang sedang duduk diatas motor yang mereka parkir dipinggir jalan.
“Mbak Tia, baru pulang, Mbak?” tanya laki-laki dengan kepala plontosnya.
“Iya, Mas. Permisi.” Jawab Tia singkat dengan senyum tipisnya.
“Uihhh senyumnya Mbak Tia, bikin hati deg deg-an.” Balas salah satu pemuda yang ikut berkumpul disana.
“Bodinya itu lo bikin nafsu, goyangannya saat jalan aduhaiii. Nggak kebayang kalau dia ada dikekuasaanku, uhhh . . . rasanya.” Kata pemuda lainnya dengan suara sedikit dipelankan
“Ssssttt . . . jangan keras-keras, anjing disebelahnya nanti bisa marah.” Sahut pemuda satunya dengan suara yang sama, tapi sebenarnya telinga Tia dan Rio dengan jelas bisa mendengarnya. Rio sudah ingin membalik badannya dan menghantam beberapa remaja, tapi langsung ditahan oleh Tia.
__ADS_1
“Jangan pernah lakukan apa yang ada dipikiranmu sekarang. Teruslah berjalan seolah kamu tidak mendengarkan apa-apa.”
“Bagaimana mungkin aku menahan tidak memukul mulut kurang ajar itu, apa setiap hari kamu mendengarkan mereka mengucapkan kalimat yang tak pantas?”
“Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa membungkam mulut mereka satu persatu. Dan aku juga perlu ketenangan saat tinggal disini, aku tidak mau mencari gara-gara dengan mereka.” Tia dan Rio sudah sampai didepan rumah kontarakan Tia.
“Ini rumahmu?” Rio memperhatikan sekeliling rumah yang Tia tinggali, pria itu melakukan pengecekan sepintas memastikan semuanya aman.
“Sementara ini, iya ini rumah kontrakanku.”
“Tinggalah bersamaku, Tia.” Pinta Rio dengan penuh rasa khhawatir.
“Kamu sudah lupa apa yang baru saja kita sepakati?”
“Oke . . . oke, maaf aku salah. Jika tidak, bagaimana jika aku mencarikan rumah yang lebih layak dan lebih aman dari pada disini? Kamu bisa membayarku nanti jika kamu sudah mempunyai uang.” Rio memberikan saran dengan sedikit mengecilkan suaranya, dia tidak mau kalimatnya terkesan meremehkan lingkungan dan warga sekitarnya, Rio tidak ingin membuat masalah baru untuk Tia.
“Aku akan aman disini. Percayalah.”
“Jadi inikah alasanmu mengubah gaya berpakaianmu?”
“Kamu memperhatikannya?” tanya Tia heran.
“Tentu saja, tapi aku turut senang. Laki-laki lain tidak akan lagi membelalakkan matanya saat melihatmu.
“Berarti kamu juga seperti itu dulu saat melihatku!”
“Tentu saja tidak. Pandanganku padamu memiliki arti yang berbeda. Jangan samakan aku dengan laki-laki lainnya.”
“Iya, iya. Sekarang cepatlah pulang. Maaf aku tidak menawarkan untuk masuk kedalam, aku tidak mau membuat masalah disini.”
“Aku tahu itu. Masuklah dulu, dan aku akan pulang setelahnya.”
“Sampai jumpa, hati-hati dijalan.” Tia melambaikan tangannya dan masuk kedalam rumahnya.
Rio berbalik untuk kembali menuju mobilnya, saat melewati kumpulan pemuda tadi, wajah Rio sudah berubah 180o , wajahnya yang semula tenang berubah menjadi begitu dingin dengan tatapan mata yang tajam. Tidak ada satupun yang berani mengucapkan kata, mereka merinding merasakan aura yang begitu menusuk, pandangan Rio begitu mengintimidasi.
Rio harus menahan amarahnya demi menjaga keamanan Tia sementara selama dia berada dirumah itu. Dia tidak ingin wanitanya mendapatkan masalah karena ulahnya, Rio terlalu takut jika Tia akan menjauh darinya lagi.
__ADS_1