CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 96 [7 MORE EPS TO THE LAST]


__ADS_3

Tia terlelap dipelukan suaminya. Tubuhnya terasa remuk setelah perlakuan suaminya yang kasar malam itu. Sesekali Rio terjaga dan membetulkan letak selimut yang sedikit melorot dari tubuh Tia. Rio memastikan selimut itu membungkus hangat tubuh istrinya bersamaan dengan dirinya yang memeluk Tia dari belakang dengan perasaan penuh cinta. Rio sudah merancang penjelasan dalam otaknya untuk memberikan penjelasan pada Tia saat istrinya sudah bangun nanti.


Pagi saat Rio membuka matanya dia tidak mendapati Tia disisinya. Rio lansung turun dari ranjangnya dengan tergesa-gesa. Meneriakkan nama istri tercintanya disegala sudut ruangan tapi tidak ada jawaban dari sudut manapun.


Cepat dia menekan nomor asisten pribadinya selama di Singapura. Dia meminta Alan untuk cepat menuju ruangannya sekarang juga.


“Ya, Pak Rio. Ada yang bisa saya bantu, Pak.” Tanya Alan setelah pria muda itu sampai diruangan kamar Rio. Dia tahu jika sedang ada masalah dengan bosnya itu karena suara Rio terlihat tergesa-gesa saat ditelepon, tidak setenang biasanya.


“Cepat cari tau keberadaan Tia sekarang! Cari info apakah nama Tia terdaftar dinama penumpang penerbangan hari ini!”

__ADS_1


Tidak berani bertanya macam-macam, Alan langsung mengerjakan apa perintah pimpinannya. Dengan cepat Alan mengirimkan utusan untuk mencari tahu tentang keberadaan Tia. Karena menurut pengakuan pimpinannya, Tia sudah menghilang pagi ini.


Rio mondar-mandir dikamarnya sambil terus menerus menghubungi ponsel Tia. Rio sangat khawatir apalagi ini bukan di Indonesia. Rio takut jika Tia tersesat atau terkena masalah dinegara asing.


“Sudah ada laporan, Pak.”


“Cepat katakan padaku!” perintah Rio saat dia sudah duduk disofa dan menatap serius asisten pribadinya itu.


Rio memutar otaknya mencari cara untuk menemukan istrinya. “Coba cari tahu apakah Tia menggunakan kartu kreditnya hari ini. Terus pantau, jika terdeteksi Tia menggunakannya, cepat laporkan padaku!”

__ADS_1


“Baik, Pak. Saya permisi kalau begitu.” Alan pergi meninggalkan ruangan Rio karena dia harus menemui beberapa pihak untuk bisa memperoleh informasi tentang mutasi kartu kredit Tia.


“Bagaimana kamu bisa pergi dengan tubuh seperti itu, Tia? Bagaimana jika terjadi hal yang tidak di inginkan diluar sana?” gumam Rio penuh kekhawatiran. Walau malam itu Rio terpengaruh obat perangsang yang kuat, tapi dia sadar saat memperlakukan istrinya dengan kasar sampai membuat Tia lemas dan tertidur dipelukannya tanpa perlawanan.


***


Pagi-pagi sekali Tia memaksakan tubuhnya yang nyeri hampir disekujur tubuhnya untuk bangun dan membersihkan diri. Diam-diam dia melangkahkan kakinya agar Rio tidak terbangun. Dia ingin menenangkan diri atas apa yang telah terjadi kemarin malam. Walaupun Tia sedikit tahu jika Rio telah dipengaruhi obat perangsang dengan dosis kuat, tapi tidak menutup kemungkinan jika keduanya memang telah membuat janji untuk bertemu dikamar ini dan melakukan hubungan intim mengingat Rio sudah seminggu lebih tidak mendapatkan sentuhan. Tia juga sadar jika suaminya cukup menuntut dalam hubungan panas diatas ranjang. Setiap kali Tia mengingat apa yang dilihatnya malam itu, sedetik itu juga hatinya merasakan sakit yang teramat dalam. Hatinya hancur melihat suaminya sedang dalam kondisi bergairah dihadapan perempuan lain yang telanjang bulat dihadapannya.


Setelah membersihkan badan, Tia memilih mengenakan celana jeans yang dipadu padankan kemejan berwarna putih gading, Tia melangkah pergi meninggalkan Rio yang masih terlelap di atas ranjangnya. Air matanya meleleh mengiringi kepergiannya. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah kebahagiaan tidak pantas hinggap dihidupnya. Baru saja dia merasakan kebahagiaan beberapa bulan ini bersama orang yang dicintainya, tapi kembali badai menerpa keharmonisan rumah tangganya, dan lagi-lagi karena sebuah penghianatan.

__ADS_1


Sambil menunggu taksi datang, Tia mencoba-coba mencari dimesin pencari pintar diponselnya. Jujur saja jika Tia tidak tahu harus kemana saat ini dia tuju. Tia juga sudah mengajukan cuti selama dua minggu kedepan, jadi tidak mungkin jika dia kembali bekerja. Terlebih Tia ingin menenangkan diri terlebih dahulu dan tidak ingin bertemu dengan Rio. Suaminya itu akan mudah menemukannya jika dia kembali ke Jakarta.


Tia menemukan sebuah pantai indah dimesin pencarinya. Saat taksinya datang, dia menanyakan apakah bisa menjangkau pantai itu dengan menggunakan taksi, dan supir taksi itu menyanggupinya. Jadi Palawan Beach adalah tujuan Tia selanjutnya untuk menenangkan hatinya dan mengambil keputusan atas pernikahannya.


__ADS_2