
“Sudah selesai menata semua barangmu?” tanya Rio saat dia memasuki kamar Tia yang berada tepat disebelah kamarnya.
“Sudah. Semuanya sudah beres. Aku harus merapikannya saat ini juga karena besok sudah harus kembali bekerja.”
“Oh, iya. Terimakasih atas semua perabotan yang telah kamu bayar untuk kamarku. Aku ingat jika kamu menyombongkan uangmu yang lebih banyak dari perkiraanku, jadi aku tidak akan sungkan.”
“Aku tidak menyombong, tapi memang itu kenyataannya. Jadi mintalah semuanya padaku. Atau kamu tidak perlu bekerja dan bergantung saja padaku.”
“No . . . no . . . no, aku sudah pernah melaluinya dulu, dan sekarang aku harus merangkak lagi dari bawah. Aku juga menyadari jika aku begitu menyukai pekerjaan ini. Aku perempuan mandiri, Rio. Jadi aku tidak ingin sepenuhnya bergantung padamu.”
“Yah . . . kamu memang wanita mandiri. Tapi sesekali bergantunglah padaku agar aku bisa menjalankan peranku sebagai suami.” Bujuk Rio.
Tia yang mendengar kalimat itu meluncur dari mulut Rio menjadi tertawa kecil, “Apa yang membuatmu begitu berbeda saat dihadapanku dan dihadapan orang lain?”
“Karena aku mencintaimu.” Balas Rio cepat.
“Maaf, aku belum bisa membalas perasaanmu saat ini.”
“Tidak apa. Aku masih punya waktu dua bulan. Waktu itu kurasa akan cukup untuk membuatmu mencintaiku. Bersiaplah, aku akan melancarkan genjatan senjata.”
“Hahahaha . . . jangan menakutiku dengan ancamanmu itu. Sekarang cepatlah keluar, aku ingin mandi dan bersiap tidur. Ini sudah malam.”
“Apa kamu yakin tidak ingin tidur sekamar denganku? Bukankah kamu sudah nyaman dengan kamar tidurku?” Rio mulai menggenggam kedua tangan Tia berusaha membujuk perempuan yang saat ini sudah menjadi istrinya.
“Aku juga ingin berperilaku sebagai seorang suami mulai hari ini, setelah kita sah menjadi suami istri.” Tambah Rio dengan wajah yang menggemaskan.
“Begitukah???” goda Tia.
Rio dengan semangat menganggukan kepalanya dengan semangat dan merasa jika Tia akan mengabulkan permintaannya.
“Ayo!” ajak Tia.
“Kemana?” tanya Rio penasaran.
“Keluar dari kamar ini, aku akan mengantarkanmu sampai depan pintu kamarku.”
__ADS_1
“Hufft. . . kamu sungguh perempuan jahat!” Rio bangun dari atas tempat tidur dan berjalan keluar dengan malas.
“Seharusnya kamu tahu sebelum memutuskan untuk menikahiku.” Tia sudah bersiap menutup pintu kamarnya. “Apa kamu menyesal sekarang?” tanyanya pada suaminya.
“Tidak! Aku tidak akan menyesal karena menikahimu.”
“Baguslah kalau begitu. Selamat malam, Rio.” Tia menutup pintu dan menguncinya.
“Waahh . . . dia sampai mengunci pintunya. Padahal kemarin saja dia tenang tidur seranjang denganku. Sejak kapan dia pandai berdebat denganku?” Rio masuk kekamarnya dengan gontai.
***
“Habislah Dika kena marah Pak Rio. Lihatlah diruangan Pak Rio, sampai-sampai Dika tidak bisa mengangkat kepalanya.”
“Salah siapa bermalas-malasan saat bekerja, apalagi dia berada dibawah pimpinan Pak Rio.” Jawab beberapa karyawan yang sedang bergosip sambil berpura-pura bekerja dimeja masing-masing.
“Eh . . . lihat, lihat, Bu Tia masuk keruangan Pak Rio!” mata mereka semua tertuju pada ruangan Rio yang bersekat kaca bening.
“Lihat, lihat, wajah galak Pak Rio langsung berubah gitu saat bu Tia masuk keruangannya.”
“Dika keluar, Dika keluar. Cepat panggil dia kesini.”
“Apa yang Pak Rio katakan?”
“Habis aku kena semprot Pak Rio, sampai sakit leherku karena tak berani mengangkat kepalaku.” Jelas Dika.
“Salahmu sendiri malas kerjakan laporan.”
“Yaelah, itu kan kerjaan masih bisa dikerjakan sampai minggu depan. Eh . . . tapi kalian tau nggak, saat Bu Tia masuk untuk menyerahkan berkas, wajah bengisnya Pak Rio langsung berubah lembut. Aku sampai mengucek kedua mataku kalau-kalau aku salah lihat, tapi senyum yang tak pernah muncul dikantor ini, langsung keluar seketika saat Bu Tia menyapanya.”
“Berarti yang kami lihat tadi juga tidak salah. Berarti Pak Rio dan Bu Tia sudah berbaikan? Ini kabar yang bagus, gengs. Ayo kita kabarkan kelainnya kalau kapal kita akan berlayar kembali.”
“Sudah-sudah, jangan heboh dan jangan sampai ketahuan. Aku kembali dulu kemejaku.” Dika pergi dari kerumunan pencari gosip terhangat itu.
Dan seperti biasanya, group chat mereka begitu heboh karena kabar yang tersebar dari divisi manager.
__ADS_1
“Gilang, Gilang, kamu harus baca ini?” Toni menunjukkan isi chat group. Gilang membacanya dengan teliti dan mulai terpancing emosi.
“Berani-beraninya dia masih mencoba mendekati Tia.”
“Sabar, Gilang. Kamu tidak boleh terbakar emosi. Kamu harus merebut hati Bu Tia dengan kepala dingin. Saat ini mungkin Bu Tia sedang dekat dengan Pak Rio, tapi ingat jika kamu pernah menjadi bagian dari dirinya.”
“Tapi aku dulu pernah menyakitinya, Ton. Aku menghianatinya.” Sesal Gilang.
“Kamu memang salah, tapi siapapun berhak mendapatkan kesempatan kedua, Lang. kamu harus berjuang jika ingin membuat Bu Tia kembali kepelukanmu.”
“Terimakasih atas semangatmu, teman.”
“Tak masalah. Apa kamu tak ingin masuk kembali kedalam group kantor?”
“Tidak. Aku tidak tahan mereka merendahkanku seperti tempo hari.”
“Baiklah, jika ada kabar lainnya, aku akan segera memberitahukanmu.”
“Terimakasih.” Balas Gilang.
Gilang tidak dapat melanjutkan pekerjaannya dengan baik. Fokusnya terpecah saat mendengar Tia sudah kembali berinteraksi dengan Rio secara hangat. Dia tak lagi menemukan bagaimana caranya untuk memperbaiki hubungannya dengan mantan istrinya itu.
Saat Gilang sedang pusing memikirkan cara untuk kembali mendekati Tia, telepon genggamnya mendapatkan notifikasi pesan dari admin perusahaan yang memberitahukan jika lusa akan diadakan rapat tahunan sekaligus pengumuman nama-nama karyawan yang akan mendapatkan promosi untuk naik jabatan. Dan seluruh karyawan disemua divisi diminta untuk mengikuti rapat tersebut di ruang rapat terbesar yang S&D Group miliki.
***
“Aku bisa menunggumu diluar gedung saat jam pulang, Tia. Apakah kita juga harus berangkat kekantor secara terpisah?” keluh Rio saat Tia baru saja sampai rumah menggunakan taksi.
“Lalu apa gunanya aku meminta untuk merahasiakan pernikahan kita jika kita terlihat setiap hari berangkat dan pulang bersama, Rio?”
“Kenapa banyak sekali batasannya?”
“Tolong bersabarlah.” Tia membelai pipi Rio. “Oke?”
“Baiklah, aku akan bersabar.” Jawab Rio dengan patuh pada akhirnya.
__ADS_1
“Suami yang baik. Aku keatas dulu.” Tia menepuk lembut pipi Rio yang sekarang sedikit tumbuh bulu karena belum bercukur.
Rio tidak sadar jika sedang diperbudak oleh perasaan cintanya, “Kenapa rasanya seperti habis ditipu ya? Kenapa rasanya sangat sulit untuk menolak permintaannya?” gumam Rio sendiri. “Tia, kamu memang perempuan kejam.” Desahnya karena baru tersadar.