
Tia mengimbangi ciuman yang Rio berikan. Tangannya sudah melingkar dileher suami tampannya itu, sedangkan Rio telah merekatkan pelukannya sehingga membuat kedua tubuh itu tiada jarak.
Ciuman keduanya begitu mendampa, Rio bahkan tidak memberikan jeda sedikitpun untuk Tia mengambil nafas panjangnya, Rio secara perlahan menyisipkan tangannya kedalam kaos yang Tia pakai, tangan besar itu tanpa bimbingan berjalan-jalan menjelajahi setiap lekukan tubuh indah kekasih pujaannya.
“Rio!” lengkuh Tia saat dia tak mampu menahan setiap sentuhan yang Rio berikan.
“Tolak aku jika kamu tidak menginginkannya, Tia. Dorong aku menjauh jika kamu menolaknya.” Ucap Rio disela ciumannya.
“Rio, jangan . . . “ Tia mencoba menolak. Tapi selanjutnya Tia harus memaki dirinya sendiri, walau otaknya melarang untuk menerima sentuhan dari Rio, akan tetapi tubuhnya lebih jujur memberikan reaksi jika sebenarnya dia juga menginginkan laki-laki yang saat ini sudah menjadi suaminya.
“Aku mencintaimu, Tia.” Desah Rio saat ciumannya beralih turun keleher Tia. Tangannya sudah berhasil melepaskan kaitan bra yang Tia kenakan. Sedangkan Tia berusaha sekuat tenaga untuk menahan gelora yang bergejolak didalam dirinya.
“Rio.” Panggil Tia sekali lagi, tapi kali ini suara Tia jauh lebih lembut dan membuat Rio lebih bergairah.
“Ya, sayang. Panggil terus namaku. Pikirkan diriku, jangan ada yang lain dihatimu.” Rio telah berhasil melepas semua yang menutupi tubuh perempuan miliknya. Dengan lembut Rio mulai menyentuh bagian tiap bagian area sensitif ditubuh Tia.
“Ahhh . . .” desah Tia tak tertahankan saat Rio menyentuh dan menciumi tubuhnya.
“Bolehkah, sayang?” Rio meminta izin untuk memastikan jika tindakan yang akan dia lakukan berikutnya mendapat persetujuan dari istrinya.
Tia menganggukan kepalanya dengan pasrah karena pikirannya sudah dipenuhi oleh Rio. Otaknya tak mampu lagi melawan keinginan tubuhnya untuk menerima Rio secara penuh. Mendapatkan persetujuan dari istrinya, dengan cepat Rio menanggalkan semua pakaian yang digunakannya dan mulai kembali menyentuh tiap-tiap bagian tubuh Tia yang begitu disukainya.
Tia memeluk Rio dengan erat saat keduanya bersatu. Kedua insan itu bercinta ditengah hujan deras yang sedang mengguyur Ibu Kota. Dinginnya cuaca tidak menghentikan mereka berdua untuk mengeluarkan butir-butir keringat. Rio tak mampu lagi menahan geloranya dan menumpahkan semuanya kepada seseorang yang saat ini benar-benar telah menjadi miliknya seutuhnya. Penyatuan keduanya begitu manis dan menyenangkan.
***
“Aku hanya menjanjikanmu sebuah ciuman, tapi kenapa kamu meminta lebih?” tanya Tia yang saat ini masih didalam pelukan tubuh kekar Rio.
__ADS_1
“Aku tak mampu menahannya lagi. Aku begitu menginginkanmu.” Jawab Rio sembari mengecup lembut kening Tia. “Aku mencintaimu, Tia.”
“Aku belum terlalu yakin dengan perasaanku saat ini. Aku takut jika perasaanku hanyalah pelampiasan karena perasaan tersakiti dimasa lalu.”
“Aku akan menunggumu menyadari perasaanmu padaku. Terimakasih sudah mengijinkanku untuk melangkah lebih dekat denganmu.”
“Bagaimana juga ini adalah kewajibanku sebagai istrimu. Kalau tidak hari ini, pasti suatu hari aku juga akan melakukannya.”
“Terimakasih, Sayang.” Rio mengecup kening Tia sekali lagi. “Bagaimana dengan tubuhmu? Apakah sangat sakit? Maaf tadi aku tidak bisa menahannya untuk lebih lembut padamu.”
“Aku baik-baik saja. Aku memakluminya karena pasti sulit menahannya selama ini.”
“Aku sungguh bekerja keras untuk itu.” Rio menyombongkan kemampuannya.
“Bagaimana caramu untuk menahannya?”
“Saat itu juga?” Tia mengangkat kepalanya untuk memandang Rio.
“Bagaimana aku tidak tergoda disaat kamu hanya mengenakan kaos atasanku saja. Kaos itu terlihat biasa saja saat aku yang mengenakannya, tapi saat melekat ditubuhmu, itu suatu godaan yang hebat untukku.”
“Aku kira telah gagal karena tidak ada reaksi darimu. Malam itu aku sengaja melakukannya!”
“Apa???”
“Aku ingin menghukummu karena aku tahu jika kamu diam-diam melepas kabel mobilmu malam itu.”
“Kamu tahu? Dan diam saja?”
__ADS_1
“Tentu saja aku tahu. Mana mungkin mobil sekelas itu bisa dengan mudah rusak, padahal sebelumnya baik-baik saja. Aku cukup tahu cara tipu muslihat para kaum laki-laki. Lagi pula aku juga ingin memastikan sesuatu.”
“Apa itu?”
“Kesungguhanmu.”
“Kamu tidak takut jika kuserang? Malam itu aku hampir saja lepas kendali.”
“Aku tahu jika kamu tidak akan melakukannya. Dan kamu mendapatkan nilai lebih untuk itu. Itu salah satu pertimbanganku untuk menerimamu.”
“Ohh, Tia. Aku begitu tergila-gila padamu.” Rio mencumbu bibir lembut Tia untuk kesekian kalinya.
“Lepaskan!” Tia mendorong wajah Rio, “Apa kamu tidak melihat jika bibirku sudah bengkak karena ciumanmu yang menggebu-gebu?”
“Kalau begitu aku akan mencium yang lainnya.” Rio menurunkan kepalanya menuju leher Tia.
“Ahh . . . Rio, apa yang kamu lakukan?”
“Aku sedang menyerangmu, sayang.”
“Lagi???”
“Tidak ada kata cukup untuk melakukan hal ini bersamamu.” Sesuatu milik Rio sudah kembali menegang, Tia yang merasakannya dibalik selimut menggelinjat karena terkejut.
“Rio! Cukup! Ahh . . .” Tia tak mampu menahan suaranya keluar dari mulutnya saat kedua tangan Rio meremas daerah sensitifnya.
Tak mampu menolak keinginan suaminya yang masih dilingkupi gairah yang menggebu, akirnya Tia memutuskan untuk mengikuti dan menikmati setiap sentuhan yang Rio lakukan untuk yang kesekian kali.
__ADS_1