CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 41


__ADS_3

Tia mengikuti Cindy masuk kedalam ruangannya. Diperjalanan Tia banyak menerima ucapan selamat dari beberapa karyawan. Ada beberapa karyawan juga yang berusaha menguatkan Tia karena mereka mengetahui permasalahan rumah tangganya. Perlu waktu untuk mencapai ruangan Cindy karena mereka harus terhenti oleh beberapa orang.


“Wahhh . . . teknologi memang sangat menakutkan. Secepat itu mereka mengetahuinya.” Tia takjub.


“Begitulah teknologi. Jika kita tidak pandai mengelolanya, dia akan menjadi racun untuk kita.” Jawab Cindy yang sedang duduk di kursinya.


“Baiklah, Bu Cindy. Anda berhutang penjelasan kepada saya. Begitu banyak kejutan yang Anda berikan.” Tia ikut duduk dikursi depan Cindy.


Cindy tersenyum saat temannya sudah menggunakan bahasa formal kepadanya.


“Jika aku mengatakannya sejak awal, kamu pasti tidak mau kembali lagi. Kamu pasti mengira jika aku keluar karena dirimu, Tia.”


“Tapi memang seperti itu keadaanya.” Nada bicara Tia berubah sendu.


“Tidak. Ini bukan agar kamu bisa mendapatkan posisimu kembali. Aku tahu jika kamu mampu untuk posisi ini.”


“Aku mundur karena keadaanku memang tidak memungkinkan. Kamu tahu sendiri, tubuhku semakin lama semakin lemah. Belum lagi nanti jika perutku mulai membesar. Dan aku sudah setuju untuk ikut Yose kembali ke Amerika nanti. Yose tidak bisa mengubah izin tinggalnya di Indonesia. Jadi aku yang harus mengikutinya.”

__ADS_1


“Kamu menyembunyikannya dariku semalam.” Tia merajuk.


“Aku takut kamu akan melarangku.”


“Tentu saja tidak! Aku akan mendukung setiap keputusanmu, apalagi jika itu membuatmu bahagia.”


“Terima . . .”


“Cukup, Cindy. aku tidak mau lagi mendengar ucapan terimakasih mu.”


Cindy tersenyum mendengar perintah dari sahabatnya. “Kurasa kamu juga mulai melupakan laki-laki brengsek itu.”


“Pasti karena perlakuan buruknya dan keluarganya saat dulu. Kamu bisa dengan mudah melupakan rasa cintamu karena ingatan rasa sakit yang selalu diberikan. Lagipula buat apa kamu berlarut-larut meratapi nasip sedihmu, dia tidak pantas mendapatkan kesedihanmu. Lupakan dan kembalilah maju, Tia.” Cindy memberikan semangatnya yang tulus kepada Tia.


“Tentu. Aku akan perlahan bangkit kembali. Tak akan aku biarkan laki-laki seperti dia merusak hidupku lagi. Cukup sekali dia membuatku remuk tak bersisa.”


“Betul. Untuk apa mempertahankan seseorang yang sama sekali tidak menghargai dan mencintai kita. Lebih baik lupakan dan tinggalkan.”

__ADS_1


“Aku akan keluar sekarang. Selesaikan sisa pekerjaanmu. Aku akan menjemputmu jam empat nanti.” Tia berpamitan pada  Cindy. Saat dia membalikan badannya dan akan melangkah pergi, tiba-tiba terdengar suara benturan dan sesuatu barang terjatuh kelantai. Tia menabrak seseorang yang sudah masuk keruangan Cindy dan menjatuhkan map yang dipegang oleh orang itu.


“Maaf, maafkan saya.” Tia mengambilkan map berisi laporan itu kepada seseorang yang masih berdiri didepannya.


“Silahkan, map Anda.” Tia menyodorkan map itu, tapi pria didepannya hanya memandangnya tanpa membalas uluran tangan Tia.


“Maaf, Pak. Ini map Anda.” Tia mengulangi kalimatnya lagi.


“Pak Rio!” bentak Cindy membuyarkan tatapan intensnya kepada Tia.


“Siapa kamu?” tanya Rio pada Tia.


“Perkenalkan saya Tiara Nandita. Saya akan bergabung dengan perusahaan mulai besok, Pak.”


“Oh, jadi kamu orangnya.” Jawab Rio dengan tetap memperhatikan Tia. Tia mulai tidak nyaman dengan perhatian yang diberikan oleh Rio.


“Pak Rio, terima dulu berkas Bapak yang sudah diberikan oleh Tia.” Ucap Cindy.

__ADS_1


Pria tampan dengan tubuh tegap itu menerima map yang sedari tadi disodorkan oleh Tia. Rahangnya yang tegas memancarkan ketampanannya yang begitu maskulin. Semua perempuan ingin mendapat perhatiannya termasuk Cindy, tapi tidak pernah mereka dapatkan karena Rio menutup diri. Tapi kali ini, pria itu memperhatiakan perempuan cantik didepannya tanpa berkedip.


__ADS_2