CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 28


__ADS_3

“Eh, denger-denger kantor kita beberapa bulan lagi akan ada promosi besar-besaran. Banyak karyawan yang akan dapat promosi naik jabatan.” Kata Toni teman dibagian yang sama dengan Gilang.


“Betulkah? Kira-kira nama calonnya sudah ada belum, ya?” Ciko penasaran apakah dia ada dalam daftar promosi jabatan.


“Sudah, lebih baik kalian kembali bekerja dan jangan berkerumun dimejaku. Aku ingin bekerja dengan tenang.” Protes Gilang.


“Iya . . . iya, yang namanya muncul didaftar yang akan dapat promosi. Kamu mah enak, Lang. la kita?” Toni sewot.


“Tau dari mana kalau namaku masuk dalam calon yang akan menerima promosi jabatan?”


“Aku pernah curi-curi dengar dari ruangan Pak Erwin saat aku mengantarkan berkas laporan. Beberapa manager berkumpul di ruangan Pak Erwin untuk rapat.” Toni kali ini mengecilkan suaranya agar karyawan yang lain tidak ikut heboh atas info yang ia peroleh.


“Tapi itu semua tergantung dengan pimpinan tertinggi kita, Pak Raka.” Jawab Gilang.


“Udah deh, kamu santai aja. Pasti naik.” Tambah Toni.


“Namaku, Ton?” tanya Ciko penasaran.


“Manager aja ndak pernah sadar keberadaanmu, Ko . . . Ciko. Hahahahaha.” Toni memukul temannya sambil beranjak pergi dari ruang Gilang.

__ADS_1


“Sialan, lo!” Ciko mengikuti Toni pergi dari meja Gilang.


Gilang yang sedari tadi terdiam dan hanya sedikit menanggapi obrolan kedua temannya, sebenarnya dalam hatinya sangat berbunga-bunga. Ada harapan yang sangat besar tentang berita promosi jabatan yang akan diadakan perusahaannya dalam beberapa bulan kedepan. Gilang mencoba setenang mungkin menyembunyikan senyumnya. Dia tidak mau di anggap aneh karena senyum-senyum tak jelas dalam ruangannya.


“Selamat ya, Pak.” Sapa Dera pada mentornya. Dera masuk keruangan Gilang setelah Toni dan Ciko pergi.


“Hmmm?” Gilang kebingungan.


Dera mendekati Gilang yang duduk ditempatnya. Tiba-tiba Dera mendekatkan wajahnya ke arah Gilang. Tapi dengan reflek Gilang mundur karena terkejut dengan yang Dera lakukan.


“Kamu mau apa, Dera?”


“Saya hanya mau membisikkan kata-kata, Pak. Kelihatannya kabar itu belum resmi, jadi saya ingin memberikan selamat pada Pak Gilang karena akan naik jabatan.” Jelas Dera dengan suara yang cukup pelan.


“Tapi saya selalu berdoa agar Bapak mendapat apa yang di inginkan.” Ucap Dera dengan senyum yang cerah dibibirnya. Dera pelan-pelan menyentuh tangan Gilang di atas meja.


“Dera apa lagi ini?” Gilang menarik tangannya dengan cepat.


“Maafkan saya, Pak. Saya sangat mengagumi Pak Gilang.”

__ADS_1


“Sudah, lanjutkan pekerjaanmu. Agar kita tidak lembur lagi.”


“Baik pak.” Dera pergi dari ruangan Gilang dengan senyum manisnya.


Sikap Dera akhir-akhir ini sebenarnya cukup mengganggu pikiran Gilang. Semenjak beberapa hari bersama saat lembur, gadis 21 tahun itu mulai berani untuk menyentuhnya ataupun memberikan perhatian yang lebih untuknya.


Awalnya Gilang merasa risih dengan sikap yang Dera tunjukkan, tapi berjalannya waktu, Gilang mulai terbiasa dan menganggap memang begitu cara gadis itu bergaul.


Hari itu tidak diduga ada tambahan pekerjaan yang harus Gilang selesaikan hari ini juga, dan selepas jam makan siang pekerjaan itu baru saja diberikan Pak Erwin padanya. Sejak laporan yang belum selesai itu dia terima, Gilang sama sekali tidak meninggalkan mejanya. Tanpa dia sadari, rekan kerjanya satu persatu sudah meninggalkan gedung tempatnya bekerja karena telah lewat jam pulang kantor.


“Pak, Dera pulang dulu, ya.” Pamit Dera pada Gilang.


“Hati-hatilah di jalan.” Jawab Gilang tanpa melihat ke arah Dera karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


“Bapak tidak pulang?” tanya Dera kembali.


“Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini. Mungkin sampai malam baru selesai.”


“Kalau begitu, Dera bantu ya, Pak. Agar bisa cepat selesai.”

__ADS_1


“Tidak usah. Lebih baik kamu pulang saja, nanti kalau kemalaman susah dapat taksi.” Jawab Gilang yang masih terfokus dengan laptopnya.


“Tidak, Pak. Saya akan menemani dan membantu Pak Gilang.” Dera duduk didepan Gilang dan meletakkan tasnya. Tanpa diperintah, Dera mengambil beberapa lembar laporan yang belum tersentuh oleh mentornya itu.


__ADS_2