CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 70


__ADS_3

“Ahhh . . . sesak.” Keluh Tia saat matanya masih terpejam. Pagi ini dia ingin bangun dari tidurnya tapi terhalang oleh sesuatu.


Saat dia membuka matanya dengan berat untuk melihat sekelilingnya, betapa terkejutnya dia karena tepat dihadapannya ada wajah Rio yang masih tertidur pulas.


“Rio!” teriaknya tanpa sadar.


“Hmmm . . . ini masih pagi, Tia. Jangan teriak-teriak.” Rio mengencangkan pelukannya.


“Bagaimana bisa kamu berada didalam kamarku?”


“Ini juga milikku karena berada didalam rumahku. Jadi kamu harus mulai terbiasa jika aku tiba-tiba ada didalam kamarmu.”


“Lepaskan! Sesak!” Tia melepaskan pelukan Rio dengan susah payah.


Rio terbangun dan terduduk dihadapan Tia, “Bagaimana caranya kamu masuk kedalam kamarku?”


“Aku punya kunci seluruh pintu dirumah ini.”


“Tapi ini kamarku, Rio.”


“Ini kamar istriku. Bukan hal terlarang jika suami ingin tidur bersama dengan istrinya.”


“Rioooooo . . .”


“Aku ingin berlaku selayaknya seorang suami, Tia. Apa kamu tidak mengijinkanku bertindak sebagai seorang suami? Aku hanya ingin tidur denganmu dan terbangun masih berada disisimu.”


“Tapi . . . tapi . . . aku . . . ”

__ADS_1


“Baiklah jika kamu melarangku untuk berada disisimu. Aku akan pergi.” Rio keluar dari kamar Tia dengan perasaan kecewa. Diwajahnya tergambar jelas bahwa pria itu memendam kekecewaan yang mendalam.


Tia memperhatikan Rio saat suaminya itu pergi meninggalkan kamarnya, karena ekspresi itu, membuat Tia merasa bersalah telah menyakiti Rio


“Apa aku terlalu kejam? Kenapa wajahnya seperti itu?” tanya Tia pada dirinya sendiri. “Aiiihhh . . . sampai pusing kepalaku rasanya punya suami sukanya merajuk.” Kesalnya dalam hati.


Sabtu pagi ini sebenarnya ingin Tia gunakan untuk bermalas-malasan dikamarnya, tapi ekspresi Rio mengganggu pikirannya. Dia putuskan untuk melakukan rutinitas paginya dengan mandi dan membuat sarapan pagi, dia menanti kedatangan Rio yang tak kunjung turun menemuinya didapur.


“Rio? Kamu ada didalam?” tanya Tia didepan pintu kamar suaminya. Tia menunggu beberapa saat didepan kamar Rio, tapi tetap belum ada jawaban.


“Rio, aku masuk, ya.” Tia membuka pintu pelan-pelan dan mendapati Rio masih berada diatas tempat tidur.


“Kenapa kamu tidak menjawabku?” tanya Tia saat duduk disamping Rio yang masih berbaring.


“Aku merasa itu tidak perlu. Untuk apa hanya aku yang berusaha mendekatimu, tapi dirimu selalu saja menjaga jarak dariku.”


“Tidak. Aku hanya mencoba untuk berlaku sesuai keinginanmu.”


“Bukan itu maksudku. Kamu mengejutkanku pagi ini, jadi pasti aku tidak sengaja menolakmu.”


“Apanya yang tidak sengaja. Kamu terus-terusan saja menolakku! Ini sudah hari kelima kita setelah menikah, jangankan berbuat yang iya-iya, menciummu saja aku belum pernah.” Rio menolak penjelasan Tia.


“Turunlah dan sarapan bersamaku.”


“Tidak. Makanlah dulu, aku akan makan setelah kamu selesai.”


Walau sedang marah, tapi Rio terlihat begitu menggemaskan dimata Tia. Dihadapannya ada seorang pria dewasa yang sedang memprotesnya karena jarak yang diciptakannya. Jantung Tia berdegup kencang saat terus-terusan memperhatikan wajah seseorang yang sekarang sama sekali tidak mau memandangnya.

__ADS_1


Tia menangkup wajah Rio dengan kedua tangannya. Hal itu membuat Rio terkejut dan langsung memandang perempuan cantik yang ada didepannya.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Rio penasaran. Dan seketika matanya terbelalak saat Tia dengan lembut mengecup bibirnya.


“Apa sekarang kamu sudah bisa sarapan bersamaku, Tuan?”


“Bi . . . bisakah kamu mengulanginya sekali lagi? Ini ciuman pertama kita, tapi aku belum tersadar penuh saat kamu melakukannya.”


“Kamu bisa mendapatkannya nanti setelah kita makan. Perutku sudah keroncongan.”


“Betulkah? Kamu tidak membohongiku?” Rio bertanya dengan antusias.


“Kamu bisa membuktikannya, nanti. Ayolah, Riooo! Jangan merajuk. Tak pantas untuk umurmu.” Tia menarik tangan Rio agar pemiliknya mau bangun.


“Salah siapa terus menolakku. Aku akan menjadi anak kecil saat berhadapan denganmu.” Jelas Rio saat dia mengikuti keinginan Tia untuk turun kebawah dan memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh Tia.


“Sekarang, mari kita makan. Kamu membuatku kelaparan saat menunggumu tak turun dari lantai atas.”


“Terimakasih.” Ucap Rio dengan senyum lebar dibibirnya.


“Untuk?”


“Untuk kecupan tadi. Walau hanya sebentar, tapi aku sangat bahagia karena kamu yang memulainya.” Rio melipat bibirnya, mencoba merasakan kembali lembutnya bibir Tia.


“Sudahlah, ayo makan. Jangan marah lagi padaku. Rasanya aku seperti tinggal dengan anak usia 6 tahun, bukan dengan seorang suami.”


Rio tersenyum malu karena ucapan Tia yang secara terang-terangan.

__ADS_1


__ADS_2