
Tia menekan nomor suaminya yang tersimpan saat dia sudah duduk didalam mobilnya. Perlu waktu cukup lama untuk Gilang mengangkatnya. Tapi Tia tidak pernah marah jika Gilang tidak dapat mengangkatnya dengan cepat disaat dia bekerja. Tia tahu sesibuk apa pekerjaan di S&D Group.
“Iya, sayang. Maaf tadi aku sedang rapat.” Jawab Gilang saat bisa mengangkat telepon dari Tia.
“Lang . . . kurasa tabunganku telah habis. Hari ini aku berbelanja keperluan dapur, dan hanya habis 1,5 juta karena masih ada beberapa bahan dirumah. Tapi aku tidak bisa memakainya karena ternyata isinya hanya sisa lima ratus ribu saja.”
“Bagaimana bisa kamu tidak mengetahui saldo tabunganmu sendiri sampai kehabisan, hm?” tanya Gilang.
“Mungkin aku lupa untuk mengecek transaksi terakhirku.”
“Jadi kamu batal untuk belanja hari ini?”
“Tidak, aku berhasil membayarnya dengan sisa-sisa uang yang ada didompetku. Bahkan aku menggunakan koin untuk melengkapi pembayaranku. Aku sangat malu karena akhirnya menimbulkan antrian yang panjang.” Nada suara Tia cemberut.
“Hahahahaha . . . maafkan aku, sayang. Bulan depan aku akan memberikanmu belanja lebih.”
“Bulan depan? Tapi sekarang uangku sudah habis, Lang. Bagaimana nanti jika ada keperluan mendadak dirumah?”
“Kita bahas nanti, ya. Sekarang kamu pulang dulu dan beristirahatlah. Kamu pasti capek.”
“Oke. Sampai ketemu dirumah. Muach . . . nanti hati-hati saat jalan pulang, ya.” Tia berpamitan pada suaminya.
“Kamu juga hati-hati, sayang. Love you.”
“Love you more.”
__ADS_1
Tia mengendarai mobil sedannya menembus jalanan ibu kota yang mulai padat merayap. Dengan terampil Tia mengendalikan setir bundarnya.
“Dari mana saja kamu, Tia? Kenapa kamu lama sekali?” mama Ratna memarahi Tia karena merasa Tia terlalu lama meninggalkan rumah.
“Jalanan sudah mulai macet, Ma. Jadi tadi Tia pelan-pelan.” Setelah itu Tia menceritakan kejadian saat disupermarket pada mamanya.
“Apa!!! Jadi uang tabungan kamu sudah habis? Terus bagaimana nanti dengan keperluan bulanan kita. Kamu tahu sendiri jika gaji Gilang tidak cukup untuk keperluan rumah ini.”
Tia terdiam sesaat, dia mengira bahwa mamanya akan bersimpati padanya, tapi kenyataannya malah sebaliknya. Mama Ratna hanya mementingkan bagaimana kehidupan mereka berjalan jika uang yang Tia miliki telah habis.
“Nanti Tia coba lebih irit lagi deh, Ma.”
“Caranya?” tanya Mama Ratna yang sekarang sudah mulai menegangkan wajahnya.
“Ya . . . mungkin kedepannya Tia akan mengurangi untuk memasak daging sapi dan menggantinya dengan dagim ayam atau telur ayam. Dan jika terlalu mendesak, Tia bisa berbelanja di pasar tradisional lagi, Ma.” Jelas Tia.
“Atau kamu mulai bulan ini berhenti saja untuk memberikan sumbangan untuk panti asuhan itu. Kamu sudah tidak punya kewajiban untuk mengurus mereka. Mereka sudah mendapat bantuan dari pemerintah. Keluarga kita juga membutuhkan uang itu.” Usul mama Ratna.
“Tia hanya memberikan sedikit, Ma, bukan banyak. Itu semua karena Tia merasa berhutang budi karena mereka telah tulus membesarkan Tia sejak kecil. Dan bantuan dari pemerintah terkadang tidak masuk dalam setiap bulannya, Ma.”
“Lalu, kamu mau bagaimana?”
“Emmm . . . boleh tidak jika uang yang Gilang berikan pada Mama setiap bulannya Tia pinjam dulu untuk keperluan rumah tangga. Nanti jika Tia sudah ada penggantinya, Tia akan kembalikan pada Mama.”
“Tidak bisa!!! Walaupun kamu berjanji akan menggantinya, Mama tidak mau. Enak saja kamu mau pakai uang Mama.”
__ADS_1
“Tia tidak minta, Ma. Tia hanya pinjam. Lagi pula dulu juga uang itu kan yang Mama pakai untuk keperluan sehari-hari.” Tia mencoba berbicara sepelan mungkin agar mertuanya tidak semakin marah.
“Betul, tapi sekarang ada kamu dirumah ini. Paling tidak, tunjukkan dong kalau kamu menantu berbakti dengan menanggung semua keperluan dirumah ini.”
“Ada apa ini? Kenapa Mama sampai teriak?” tanya Gilang saat dia memasuki rumah dan mendapati mamanya mengeraskan suara saat berbicara dengan istrinya.
“Tanya saja dengan istrimu ini. Baru saja satu bulan lebih jadi menantu, sudah ngelunjak. Gara-gara tabungannya habis, masa mau pakai uang Mama yang kamu kasih.”
“Bener, Tia?”
“Bukan, Lang. Aku hanya meminjamnya. Dan jika uangku sudah terkumpul lagi, aku akan kembalikan ke Mama. Hanya untuk sementara saja.”
“Memangnya kamu bisa mendapatkan uang lagi dari mana selain dari Gilang, hah!” tanya Mama Ratna dengan sinis.
“Dengan menghemat, Ma. Tia nanti bisa menabung setiap bulannya. Tia meminjam hanya untuk sisa bulan ini saja?”
“Mama tetap tidak mau. Bagaimana ini, Gilang. Istrimu sudah tak tahu diri.” Kata mama Ratna dengan kejam. Sering dari perkataan yang keluar dari mulut mama Ratna, terkadang membuat hati Tia tergores.
“Bagaimana jika kamu jual saja apartemenmu, sayang. Toh kamu juga sudah tinggal disini.” Gilang memberikan saran.
“Apa?” Tia terkejut dengan saran yang diberikan Gilang.
“Oh, betul itu. Jual saja Tia, trus depositokan uangnya. Nah bunga tiap bulannya kan bisa kamu pakai untuk keperluan sehari-hari. Jadi uangnya utuh, bunganya masih bisa dipakai. Jual sekalian mobilmu, biar lebih besar yang didapat.” Ekspresi Mama Ratna tiba-tiba berubah. Mama Ratna begitu bersemangat saat mendengarkan saran dari Gilang dan cepat-cepat menyetujuinya.
“Tapi, Ma. Mobil Tia pakai kemana-mana jika Gilang tidak ada dirumah.”
__ADS_1
“Ah, gampang itu, nanti kamu bisa beli motor baru sebagai pengganti mobilmu. Jangan manja harus dengan mobil kemana-mana, sudah punya keluarga harus mau berkorban.” Jawab mama dengan suara penuh penekanan pada kata berkorban.
“Sudah-sudah. Gilang mau mandi dulu ya, Ma. Kita lanjutkan nanti lagi. Yuk Tia, masuk. Ada yang mau aku bahas didalam.” Gilang menggandeng tangan Tia dan pergi meninggalkan mamanya.