
“Kak Ajeng?” mata Tante Kumala mengisyaratkan ketidak percayaannya akan tamparan yang baru saja dia dapatkan. Tia sampai membelalakkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena terkejut.
“Apa kamu sudah cukup menghina menantuku? Aku sudah mengatakan untuk menghentikan perdebatan kalian. Tapi kamu terus menghina Tia didepan umum seperti ini. Tia itu anak perempuanku, jika kamu menghinanya sekali lagi, aku tidak akan segan-segan menghancurkan seluruh kehidupan keluargamu. Apa kamu sudah tidak sayang dengan harta yang kamu rasakan saat ini?” ancam Bunda Ajeng dengan raut wajah begitu serius.
“Apa Kak Ajeng yakin? Tidak mungkin Kak Ajeng dengan mudah bisa menghancurkan keluargaku, Kak.”
“Kamu masih belum percaya?” Bunda Ajeng memberikan jeda untuk kalimat berikutnya, “Raka!” teriak Bunda Ajeng memanggil keponakannya yang memiliki kuasa penuh didunia bisnis.
“Ya, Tante. Raka selalu berada dibelakang Tante Ajeng.” Jawab Raka dengan pasti dibarisan belakang para tamu. Disebelahnya berdiri Ara yang sudah menggendong bayi kecilnya yang baru saja ia lahirkan dua minggu yang lalu.
Tante Kumala yang semakin ketakutan karena ada Raka yang ikut menjadi Jenderal dimedan perang malam itu memilih untuk pergi dari pesta itu. Tak lupa digelandangnya putri bungsunya yang sudah merasakan aura kejam didalam pesta itu. Siapa saja pasti masih mengingat tentang Hendra, sepupu Raka yang berhasil dibunuh dengan kejam oleh Raka karena telah menciptakan sebuah masalah besar untuknya dan Ara. Bukan artian pembunuhan dengan menghilangkan nyawa, Raka lebih suka dengan membunuh seseorang secara finansial. Dia melenyapkan semua sumber pendapatan mereka dan menutup semua akses perusahaan besar agar tidak ada yang bisa dan mau menolong. Raka mempunyai peran cukup penting didunia bisnis. Cara membunuhnya ini membuat orang yang berurusan dengannya merasa seperti di neraka.
“Maafkan atas kekacauan ini. Silahkan kalian melanjutkan menikmati pesta ini. Tolong cukup kita yang mengetahui apa yang terjadi malam ini. Jangan sampai berita ini menjadi konsumsi publik. Kalian pasti tahu apa yang akan terjadi jika sampai berita ini keluar dari ruangan ini.” kata Ayah Rio dengan melebarkan senyum hangatnya, tapi mereka semua sadar jika dalam kalimatnya yang halus itu ada sebuah ancaman. Malam ini pasangan suami istri memasang pelindung yang kuat untuk anak menantunya.
“Terimakasih, Bunda.” Tia memeluk perempuan paruh baya itu yang masih berdiri disebelahnya. “Bunda mau membela Tia sampai seperti ini.”
“Ish . . . jangan dipikirkan, Sayang. Bunda memang sudah lama ingin mengerem mulut licin Kumala, hanya saja Bunda belum dapat moment yang tepat. Dan malam ini Bunda bisa melakukannya. Mulut orang itu memang sudah seharusnya diikat rapat-rapat agar tidak menyakiti perasaan orang lain.” Bunda Ajeng mengurai pelukannya dan menyentuh pipi Tia yang sudah menghangat kembali.
__ADS_1
“Kamu tidak apa-apa, Tia?” tanya Bunda khawatir.
“Tia tidak apa-apa, Nda. Jangan khawatir dan terimakasih sekali lagi.”
“Tentu saja sayang. Jangan sungkan.” Bunda Ajeng menepuk ringan lengan Tia. “Rio, Bunda dan Ayah kembali menyapa kerabat yang lain, ya.”
“Oke, Bunda. Terimakasih, Nda. Bunda dan Ayah sangat hebat malam ini.” Rio mengacungkan kedua jempolnya.
Bunda Ajeng dan Ayah Gunawan pergi meninggalkan kedua pengantin itu dan kembali kepada beberapa kerabat lainnya. Tidak ada yang mempermasalahkan tindakan Bunda Ajeng, karena hampir semua keluarga tidak menyukai Tante Kumala.
“Tante Ajeng dari dulu memang sangat hebat. Usia tak memakan keganasannya dalam membela kebenaran.” Tambah Raka saat pria itu mendekati Rio dan Tia berada bersama istri dan anaknya.
“Hai, Kak Ara.” Balas Tia. “Selamat malam Pak Raka.” Sapa Tia pada Raka yang berdiri disamping Ara yang menggendong bayi perempuan mungil.
“Panggil saja aku Kak Raka. Jangan memanggilku dengan sebutan ‘Pak’ jika kita diluar perusahaan. Kamu sudah menjadi bagian keluarga ini dengan sah.”
“Tapi . . .” belum selesai Tia menyelesaikan kalimatnya, tapi Ara sudah memegang lengan Tia pelan. “Lakukan saja, Tia. Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini.” Ara menambahkan.
__ADS_1
“Kak Ara sudah melahirkan? Kenapa tidak memberikan kabar, Kak?” Rio mengalihkan pembicaraan sebelum tangis Tia pecah karena rasa haru. Rio juga takjub melihat bayi perempuan yang terlihat cantik dan memiliki wajah khas Raka.
“Kamu kan pasti sangat sibuk karena Raka tidak ada diperusahaan. Kakak sudah meminta Raka untuk kembali keperusahaan setelah Naya lahir. Tapi dia masih ingin lebih berlama-lama dengan putri kecilnya.
“Tidak apa, Kak. Kak Ara lebih membutuhkan Raka. Perusahaan aman bersamaku. Lagipula aku juga bisa mendapatkan gaji ganda yang bisa kupakai untuk membeli saham nanti.” Rio tersenyum penuh arti.
“Wah . . . luar biasa adik Kakak ini.” Ara memuji adik ipar sepupunya itu.
“Apa yang perlu dibanggakan? Dia hanya selalu mengejar uang alih-alih membantuku.” Protes Raka pada istrinya.
“Tentu saja. Jaman sekarang mana ada yang gratis. Lagipula aku juga sudah mempunyai istri dan akan memiliki anak kelak. Itu semua tetap membutuhkan uang kan.” Balas Rio tak mau kalah dari Raka.
Diam-diam Tia merasakan nyeri di ulu hatinya. Baru saja dia mendengar jika Rio juga menginginkan seorang anak kelak, dia takut jika harapan Rio akan sulit terwujud karena dia sulit untuk mempunyai keturunan. Rio yang menyadari jika kata-katanya berimbas pada Tia yang sudah terdiam disebelahnya.
“Tia . . . mau menggendong Naya?” tanya Rio pada Tia. Dia ingin mengalihkan rasa sedih istri cantiknya karena kesalahannya menyinggung anak didepan Tia.
“Apa boleh?” Tia dengan cepat merubah wajah murungnya kemode penuh harap.
__ADS_1
“Tentu saja boleh.” Balas Ara cepat. Dia mengambil Naya dari gendongan Raka dan memberikannya pada Tia pelan-pelan.
Tia sedikit takut menggendong bayi mungil itu, tapi saat sudah berada digendongannya, Tia merasa takjub melihat bayi mungil yang saat ini sudah tenang berada digendongannya. Bayi itu terlihat tenang dan nyaman dalam gendongan Tia. Sesekali mulut kecilnya menguap karena masih mengantuk. Kedua sudut mata Tia sudah mengeluarkan bulir-bulir bening karena rasa haru. Direlung hati yang paling dalam dia sangat menginginkan malaikat kecil itu bersemahyam dirahimnya. Tapi tak henti-hentinya dia berdoa agar Yang Maha Kuasa bisa mengabulkan doanya suatu saat nanti.