
“Gilang, bagaimana jika kalian pergi kedokter untuk periksa kesuburan kalian?” kata Tante Meri saat Gilang ikut bergabung duduk diruang keluarga.
“Gilang yakin jika Gilang sehat, Tante.” Jawab Gilang pasti.
“Justru itu. Jika kamu menemukan masalah pada Tia, kamu bisa segera meninggalkannya. Buat apa rumah tangga tanpa keturunan.” Tante Meri memberikan pendapatnya.
“Kami menikah karena mencintai, Tante. Bukan anak prioritas kami.” Jawab Gilang setenang mungkin.
“Kamu yakin? Apa kamu tidak memikirkan masa tuamu? Lalu untuk apa kamu bekerja keras jika tidak punya anak. Harta tidak dibawa mati, Lang. Jadi untuk keturunanmu nanti lah hartamu saat ini.”
“Sudah . . . sudah, Meri. Biarkan Gilang tenang dulu. Lama kelamaan, dia pasti menyadari betapa pentingnya seorang anak.”
Malam itu Gilang cukup memikirkan apa yang dikatakan oleh tantenya. Dia sangat mencintai istrinya, tapi perkataan tante Meri juga tidak ada salahnya. Gilang memperhatikan Tia yang tertidur pulas disebelahnya. Wajahnya sangat tenang. Gilang menyingkirkan pikiran kalutnya dan ikut tertidur disebelah Tia.
“Mas, kemarin aku mencoba untuk menarik uang cash dari mesin ATM, tapi tidak bisa karena saldo yang tertera didalamnya hanya tinggal empat puluh sembilan ribu. Bukankah seharusnya dua hari yang lalu, bunga dari deposito keluar?” tanya Tia saat suaminya sedang bersiap-siap berangkat kekantor.
“Benarkah? Apakah kamu sudah bertanya pada bagian informasi bank?”
“Sudah. Tapi mereka tidak bisa memberikan info apapun karena akun itu bukan atas namaku.”
“Sudah bertanya dengan mama?”
“Aku tak berani, Mas. Takut mama tersinggung.”
“Ayo ikut denganku. Kita tanyakan ke mama.” Ajak Gilang.
__ADS_1
Mereka berdua mencari mamanya yang ternyata berada diteras depan. Sedang duduk bersama Gaby menikmati teh hangat dan mengobrol dengan santai.
“Ma, apakah ada pemberitahuan dari bank ke nomor Mama? Karena Tia tidak dapat menarik uangnya karena saldonya kosong.” Tanya Gilang pada mamanya.
“Apa Mama belum cerita?”
“Ada apa, Ma?” tanya Gilang penasaran.
“Bulan lalu, pas tanggal jatuh tempo deposito, Mama mengambil uang itu dan menginvestasikannya dengan teman arisan Mama.”
“Apa, Ma!!! Kenapa Mama tak bilang terlebih dahulu dengan Tia?” Tia terkejut atas perkataan mertuanya.
“Untuk apa Mama bilang dulu sama kamu. Itu kan memang ada ditabungan Mama!”
“Apa??? Uangmu??? Kalian berdua sudah menikah. Artinya uang Gilang, uangmu juga, dan uangmu adalah uang Gilang juga. Jika itu uang Gilang, berhak dong Mama menggunakannya.” Mama Ratna menjawabnya dengan ketus.
“Tapi, Ma, terus bagaimana nanti dengan keperluan kita?” mata Tia berkaca-kaca.
“Mas, bantu Tia dong ngomong sama Mama. Mama seenak hati menggunakan uang itu.” Tia menarik tangan Gilang meminta bantuan.
“Apa kamu bilang!!!” Plakk . . . tangan mama Ratna meluncur ke pipi kiri Tia dengan cepat. Hal itu membuat Tia terkejut dan membuatnya terdiam tak percaya.
“Mama sudah bilang, Mama menggunakannya untuk investasi. Artinya uang itu tetap akan kembali. Setelah uang itu kembali, akan Mama kembalikan semua uangmu.” Teriak Mama.
“Sudah cukup, Ma. Tia ayo sekarang ikut aku.” Gilang menarik tangan Tia disaat perempuan itu masih memegangi pipinya yang terasa nyeri.
__ADS_1
“Kenapa Mas diam saja?” tanya Tia dengan terisak saat sudah masuk kedalam kamarnya.
“Ini juga salahmu, kenapa kamu tadi mengatakan itu didepan mama?”
“Salahku, Mas? Apa Mas bercanda? Jelas-jelas Mama yang memakai uangku tanpa bertanya dulu padaku. Dan disaat aku memerlukannya, aku tidak bisa menggunakannya.”
“Apa kamu sekarang menyalahkan Mama?”
“Bukan menyalahkan, Mas. Tapi ini memang salah mama!”
“Cukup Tia! Aku mau bekerja, aku tak mau hariku diawali dengan pertengkaran kita.”
“Lalu bagaimana dengan keperluan kita, Mas? Aku perlu untuk belanja, membayar air dan listrik. Aku juga perlu untuk panti asuhan.”
“Aku akan mentransfer sejumlah uang untuk belanja bulanan, air dan listrik biar aku yang membayarnya. Tapi untuk panti asuhan, aku tak bisa memberikannya. Bilang saja kepada mereka bahwa kamu berhenti untuk memberikan sumbangan.”
“Tapi, Mas. Kamu tahu jelas arti panti asuhan itu untukku.”
“Lalu aku harus bagaimana, Tia! Apa aku harus bekerja pekerjaan lainnya setelah pulang kerja? Apa itu maumu!”
“Tidak, Mas. Tapi . . . “
“Cukup! Aku mau berangkat kerja dulu. Kita akhiri pembicaraan ini.”
Gilang meninggalkan Tia yang semakin menangis didalam kamarnya. Apa yang ditakutkannya selama ini akhirnya terjadi. Semua hasil jirih payahnya hilang sia-sia.
__ADS_1