
“Kamu sudah dirumah rupanya. Dari tadi aku menghubungimu, Tia.” Rio merasa khawatir karena tidak bisa menghubungi Tia setelah acara makan-makan perusahaan selesai.
“HP ku ada dikamar, dan sedang di cas.” Tia menjawab sambil terfokus kepada acara yang ditontonnya.
“Emmm . . . apa kamu tidak ingin bertanya padaku.” Jawab Rio ragu.
“Tak perlu kutanyakan karena kamu memang berhutang penjelasan padaku, Tuan Wakil Direktur!” ucap Tia ketus.
“Tia, dengarkan aku.” Rio menggenggam kedua tangan istrinya dan memintanya untuk menatapnya, “Sungguh aku tidak ada niatan untuk berbohong padamu, aku ingin mengatakannya padamu semuanya jika kurasa waktunya sudah tepat, tapi tidak pernah kusangka Raka akan memanggilku didepan semua karyawan pada rapat siang tadi.”
Dia menatap kedua mata Tia dan perempuan cantik itu masih terdiam dihadapannya.
“Sungguh, Tia. Aku tidak ada niatan untuk menipumu, kumohon jangan marah padaku.” Pinta Rio dengan putus asa.
Tia melepaskan genggaman tangan Rio dan memeluk pria yang duduk dihadapannya. “Tidak perlu merasa bersalah seperti itu, aku tidak menyalahkanmu, Rio. Aku tahu kamu bersungguh-sungguh dengan ucapanmu.” Setelah mencoba menenangkan Rio, Tia melepaskan pelukannya.
“Kamu percaya padaku? Kamu tidak marah padaku?”
“Tentu saja aku marah padamu, tapi aku akan percaya padamu. Aku merasa jika beberapa bulan ini cukup bagiku untuk menilai kepribadianmu. Kamu tidak pernah berbohong dihadapanku. Paling tidak itu yang aku tahu. Walaupun kamu menempati posisi sebagai manager selama ini, aku tahu jika kamu benar-benar bekerja dengan baik.”
__ADS_1
“Bagaimana kamu tahu jika aku bekerja dengan baik?”
“Kamu kira selama ini anggota tim mu tidak pernah mengeluh dibelakangmu? Mereka mengeluhkan sakitnya bekerja dibawah kepemimpinanmu.”
“Apa aku seperti itu?”
“Mungkin saja. Dan aku pastikan seluruh karyawan yang mengetahui bagaimana kinerjamu akan ngeri karena mendapat atasan baru sepertimu.”
“Apa aku harus merubah cara kepemimpinanku?” tanya Rio yang mulai menyukai berbagi pendapat dengan Tia.
“Jangan. Jangan mengubah apa yang sudah menjadi jati dirimu. Hanya saja lebihlah peka dengan karyawan yang ada dibawahmu. Jangan terlalu memaksakan semuanya atas keinginanmu. Tapi jika pekerjaan itu sangat urgent, mau dikata apa.”
“Terimakasih, Tia. Terimakasih kamu mau mempercayaiku dan memberikanku saran untuk menjadi seorang pemimpin yang lebih baik dimasa mendatang.”
“Kamu betul sekali.” Rio membentangkan kedua tangannya kearah Tia.
“Stop! Apa yang mau kamu lakukann?”
Rio masih mengangkat kedua tangannya diudara, “Aku ingin memelukmu lagi.” Jawab Rio dengan polos.
__ADS_1
“Turunkan tanganmu.” Tia membantu menurunkan kedua tangan Rio. “Aku tidak mengijinkanmu untuk memelukku.”
“Apa? Tapi . . . tapi baru saja kamu memelukku terlebih dahulu.” Protes Rio.
“Iya, karena memang aku yang menginginkannya.”
“Apa aku harus mendapatkan izin untuk menyentuh istriku sendiri?”
“Yup! Betul sekali.” Goda Tia.
“Tia! Aku laki-laki dewasa yang sudah berumur 31 tahun saat ini. Aku bukan remaja yang harus meminta izin dulu jika ingin menyentuh milikku!” protes Rio semakin gencar.
“Jika kamu keberatan, kita bisa membahasnya sekarang juga.” Balas Tia dengan wajah seriusnya.
“Tidak . . . tidak, maafkan aku. Aku akan menurutimu. Kamu menang.” Wajah Rio sudah tidak bisa dikondisikan lagi karena takut Tia akan meninggalkannya.
“Hahahaha . . . kamu memang suami idaman, Rio. Cepat naik dan mandi. Ini sudah malam.”
“Baiklah . . . “ jawab Rio ogah-ogahan.
__ADS_1
Tia yang melihat suaminya seperti itu, cekikian sendiri saat Rio sudah naik dan masuk kekamarnya.
“Tidak pernah kuduga, pria sedingin dia bisa berlaku seperti itu saat dihadapanku.” Guman Tia sambil tertawa kecil.