CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 7


__ADS_3

“Hallo, Bagas.” Sapa Tia melalui panggilan telepon.


“Ada apa Tia?”


“Bisa membantuku membuatkan janji dengan Pak Raka? Aku ingin mengajukan surat resign.”


“Apa!!! Apa ada masalah, Tia?”


“Tidak . . . tidak, Gas. Cukup menolongku saja untuk bertemu dengan Pak Raka.”


“Pak Raka saat ini sedang mengosongkan jadwalnya karena akan menemani istrinya berkunjung ke dokter kandungan, tapi aku bisa mencobanya untuk menanyakan apakah bisa menemuimu dulu.”


“Tolong, Bagas. Aku akan menunggumu.”


“Baiklah, aku akan mengabarimu sebentar lagi. Aku tutup dulu teleponnya.”


Setelah lima menit Tia menunggu, dia mendapatkan pesan dari Bagas yang mengabarkan jika Pak Raka bisa menemuinya sebentar. Dengan langkah pasti Tia naik kelantai atas untuk menemui pimpinan utama diperusahaan yang saat ini dia naungi. Setelah diantar oleh Bagas menuju keruang direktur, Tia berhasil duduk dihadapan Raka dengan perasaan yang berdebar. Karena baru kali ini dia memasuki ruangan direktur sendirian.


“Selamat siang, Pak?”

__ADS_1


“Siang, Tia. Kita langsung saja karena saya tidak bisa lama-lama. Kenapa kamu ingin resign dari perusahaan saya? Apa gajimu kurang besar?”


“Tidak, Pak. Gaji saya sangat besar.”


“Lalu apa?” Raka bertanya dengan wajah serius.


“Emmm . . . saya akan menikah, Pak. Jadi saya ingin resign dan fokus untuk keluarga baru saya.” Jawab Tia dengan yakin.


“Siapa pria beruntung yang mendapatkan gadis tangguh seperti kamu?” pertanyaan Raka membuat Tia merona karena dipuji oleh pimpinan yang ketampanannya tidak ada yang mengalahkan diperusahaan.


“Dia Gilang, Pak. Karyawan bidang pemasaran diperusahaan bapak.” Jawab Tia malu-malu.


“Tapi ini kemauan dari calon suami dan keluarganya, Pak.”


“Berarti ini bukan keinginanmu?”


“Ini sudah menjadi keinginan dan keyakinan saya, Pak. Saya mohon, Pak. Terimalah surat pengunduran diri saya.”


“Kamu yakin, Tia? Saya beri bocoran jika kamu menjadi salah satu kandidat yang akan mendapatkan promosi jika proyek yang kamu pegang saat ini sukses.”

__ADS_1


Informasi yang baru saja ia dapatkan mampu membuatnya berfikir keras dengan keputusannya yang sudah sejak semalam ia ambil. Posisi tinggi dengan perekonomian yang stabil tentu selalu menjadi impiannya sejak dia merasakan betapa beratnya tinggal dipanti asuhan yang minim akan kecukupan. Saat dia hampir merubah keputusan, muncul bayangan Gilang yang semalam merasa sangat bahagia akan keputusannya untuk resign dari perusaahaan.


“Saya yakin untuk resign, Pak.” Jawab Tia pada akhirnya.


“Baiklah, surat resign kamu saya terima. Karena proyekmu sedang berjalan, saya harap kamu dapat menyelesaikannya dulu dengan penuh rasa tanggung jawab. Setelah itu, silahkan hubungi HRD dan bagian gaji untuk mendapatkan hak mu. Bagas nanti yang akan meneruskan informasi ke mereka.”


“Terimakasih, Pak.” Tia berdiri dan menjabat tangan Raka.


“Saya harus pamit dulu. Istri saya sudah menunggu terlalu lama. Senang bisa bekerja sama denganmu, Tia. Perusahaan akan selalu menerimamu kapan saja jika kamu berubah pikiran. Saya tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang berbakat dan yang mau bekerja diperusahaan saya.”


“Terimakasih atas tawarannya, Pak.”


Raka pergi terlebih dahulu dari ruangannya karena tidak mau membuat istrinya menunggu terlalu lama. Disusul oleh Tia yang keluar dari ruangan Raka. Saat dia turun dan sampai dilantai ruangan kerjanya, dia sudah disambut beberapa karyawan lainnya yang sudah mendengar kabar jika dia akan resign. Memang group chat perusahaan kecepatannya mengalahi kecepatan cahaya.


“Bu Tia, kenapa Ibu mau resign dari perusahaan ini? Bagaimana dengan kami?” tanya beberapa anggota Tim yang Tia pimpin.


“Kalian akan tetap bisa maju diperusahaan ini dengan penggantiku nanti. Tolong beritahu semua tim jika aku akan mengadakan rapat dalam 30 menit lagi.”


“Baik, Bu.” Jawab seseorang dengan serentak setelah Tia memberikan perintahnya. Setelah itu Tia masuk kedalam ruangannya untuk menyiapkan bahan yang akan dia gunakan untuk rapat.

__ADS_1


__ADS_2