
“Maafkan aku, Tia. Maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya jika kamu berjanji mau kembali kepelukanku, Sayang. Setelah ini kembali ke Jakarta bersamaku, ya. Aku janji akan berlaku lebih baik lagi. Aku mohon, Tia.” Balas Gilang sambil mengusap air mata yang meleleh dipipi Tia. Gilang begitu putus asa dalam kalimatnya dan mengharapkan perempuan dihadapannya itu menerimanya kembali.
“Aku sudah mempunyai suami, Lang. Aku mencintaiku suamiku. Aku mencintai Rio.” jelas Tia yang masih terisak.
Gilang yang mendengarkan penolakan dari peremuan yang dicintainya itu membulatkan kedua matanya dan amarahnya tiba-tiba saja langsung menyelimuti dirinya.
“Kamu memaafkannya dan menerimanya kembali padahal dia sudah menghianatimu, Tia?” Gilang mencengkeram rahang Tia dengan kuat, membuat Tia semakin ketakutan.
“Kalau kamu mau memaafkannya, kenapa tidak denganku! Aku juga mencintaimu, Tia! Aku menginginkamu!” teriak Gilang keras tepat dihadapan Tia.
“Kamu harus menjadi milikku, Tia. Apapun yang terjadi.” Gilang berusaha melepas pakaian yang Tia pakai. Dengan ganas Gilang merobek atasan Tia sehingga meninggalkan pakaian dalam yang Tia kenakan.
Sadar jika bajunya telah sobek, refleks Tia menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya.
__ADS_1
“Jangan Gilang, tolong, jangan seperti ini.” Tia memohon. Merasa tidak mendapatkan rasa iba dari mantan suaminya, Tia berteriak meminta tolong.
“Teriak saja, Sayang. Ruangan ini kedap suara. Jadi nanti kamu bisa puas berteriak kenikmatan saat kita menjadi satu kembali. Aku akan memuaskanmu, Sayang. Jadi serahkan dirimu padaku dan nikmatilah kehebatanku.” Setelah mengatakan kalimat menakutkan itu, Gilang langsung menyambar tubuh Tia dan mulai menciumi tubuh perempuan yang sudah menangis dan berteriak sekuat tenaga meminta Gilang untuk berhenti. Sekuat tenaga Tia melawan sentuhan Gilang, dan saat pria itu menciumnya, Tia langsung menggigit bibir Gilang sehingga darah segar keluar dari bibit bawah Gilang.
“Perempuan brengsek!” plak . . . Gilang memukul wajah Tia dengan keras sehingga perempuan itu jatuh pingsan. Gilang menyeringai, melihat perempuan dibawahnya sudah tidak berdaya. Baru saja Gilang akan melepas pakaian dalam yang masih menempel ditubuh Tia, tiba-tiba terdengar pintu kamar terbuka dengan keras.
Gilang menengok kearah suara, tapi wajahnya sudah terhantam keras sampai membuat tubuhnya jatuh tersungkur. Riolah yang menghantam wajah Gilang.
“Cepat bawa dia kekantor polisi. Aku tidak akan membiarkannya lolos kali ini!” perinta Rio kepada anak buahnya sambil berlari menghampiri istrinya yang sudah jatuh pingsan. Rio menutupi tubuh Tia dengan selimut dan jasnya dan langsung mengangkat perempuan yang dicintainya itu menuju rumah sakit terdekat.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Rio khawatir setelah dokter selesai memeriksa istrinya.
Dokter melihat sepintas hasil tes yang dimintanya dari perawat yang berdiri disebelahnya.
__ADS_1
“Kondisi istri Anda sudah baik-baik saja, Pak. Memar akibat pukulan diwajah istri Anda juga sudah diobati. Tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan, karena janin yang dikandung oleh Bu Tia baik-baik saja. Jadi Anda bisa tenang.”
“Janin, Dok? Istri saya sedang hamil?” Rio menatap serius dokter paruh baya dihadapannya.
“Kalau dari hasil tes pemeriksaan, Bu Tia sudah mengandung selama 8 minggu. Tapi kelihatannya Anda belum mengetahuinya melihat keterkejutan Anda.”
“Belum, Dok. Saya baru tahu hari ini dari Dokter.”
“Kalau begitu, selamat ya, Pak. Tolong lebih perhatikan istri Anda. Hamil ditrimester pertama biasanya masih rentan keguguran. Jaga selalu istri Anda agar terhindar dari stres.”
“Baik, Dok. Terimakasih banyak.” Rio menyalami dokter itu dengan semangat dan perasaan bahagia.
Rio kembali kesisi Tia saat dokter sudah pergi meninggalkan ruangan. Dengan perasaan sayang dia mengecup lembut kening istrinya, dan menyentuh memar disudut bibir Tia. Seketika dia merasakan amarah mengingat kejadian sore itu. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika dirinya tidak datang tepat waktu. Tak lupa Rio juga mengecup perut Tia yang masih rata.
__ADS_1
“Sehat-sehat didalam, Sayang. Papa dan Mama sudah lama menunggumu.” Ucap Rio lirih didepan perut datar Tia.