CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 56


__ADS_3

‘Pesta Pernikahan Cindy’


“Selamat atas pernikahannya, Bu Cindy.” ucap beberapa karyawan S&D Group yang Cindy undang.


“Terimakasih kalian semua mau datang.” Balas Cindy dengan senyum lebarnya yang setia berada disisi Yose.


“Pasti lah, Bu. Kami dulu kan pernah bekerja dibawah naungan Bu Cindy, kami sangat suka karena Bu Cindy selalu membimbing kami dengan sabar. Tidak seperti Pak Rio yang super kejam.” Gerutu lainnya.


“Apa kalian tidak bersyukur bekerja dengan Pak Rio?”


“Tentu saja kami semua bersyukur, tapi saat Pak Rio sudah berada pada mode gila kerjanya, hari-hari kami seakan dineraka, Bu. Untung saja ada Bu Tia yang terkadang membuat perasaan Pak Rio kembali bagus tanpa disengaja, itu sangat membantu kami semua.”


“Memang hanya Tia yang bisa menjinakkan Pak Rio.” Jawab Cindy.


“Betul, betul itu, Bu.” Jawab mereka serempak.


“Nikmati pestanya. Saya akan berkeliling menemui tamu lainnya.”


Pesta Cindy diadakan diluar ruangan tepat ditaman besar yang berada disebelah gereja kecil tempat pemberkatan Cindy dan Yose. Hari ini matahari tidak terlalu terik karena adanya beberapa mendung, tapi untuk saat ini mendung itu tidak memberikan adanya tanda-tanda akan turun hujan. Namun jika hujan turun, maka kru wedding organizer sudah bersiap untuk memindahkan semuanya kedalam ruangan.


“Rio! Apa kabar?” sapa Reza yang merupakan wakil direktur dari sebuah perusahaan percetakan.


“Hai, apa kabar juga, bro!” balas Rio.

__ADS_1


“Kamu mengenal Cindy juga rupanya.”


“Dia hanya teman sekantorku saja. Tapi kamu?”


“Ohh, dia teman clubingku setiap malam.” Lalu Reza mendekatkan wajahnya ketelinga Rio, “Dia juga sudah pernah tidur denganku, dia bagai kuda liar saat berada diatas ranjang. Kapan-kapan kamu harus mencobanya.” Bisik Rio sepelan mungkin.


Rio yang mendengar kata-kata menjijikkan itu hanya membalasnya dengan senyuman tipis. “Dia sudah bersuami, bro. Jadi hilangkan pikiran kotor itu dari otakmu.”


“Hahahahaha . . . jangan munafik, Rio. Aku tahu jika kamu baru satu tahun kembali ke Indonesia, dan aku yakin jika budaya baratmu pasti masih melekat bukan?”


“Lalu . . . siapa perempuan cantik disebelahmu ini?” Reza menatap Tia dari ujung rambut hingga ujung kepala dengan tatapan yang membuat kurang nyaman.


“Jaga mata dan sikapmu itu!” Perintah Rio dengan masih menggunakan suara setenang mungkin.


“Kalau kamu sudah bosan dengan Rio, datanglah padaku. Aku tak kalah hebat jika berada diatas ranjang, cantik.” Reza berbisik sambil menyentuh pinggang Tia dan naik keatas menyusup melewati punggung Tia yang terbuka. Tia berusaha menghindar tapi ditarik paksa oleh Reza.


“Lepaskan!” Tia berteriak.


“Auwwww!!! Lepaskan tanganku, Rio!” Reza berteriak keras saat Rio memelintir tangannya dan membuatnya melepaskan Tia, dan karena hal itu, membuat semua orang memandang kearah mereka.


“Aku sudah bersabar untuk tidak langsung menyumpal mulutmu dengan tanah dipesta ini. Tapi rupanya kamu tidak sadar dan sengaja memprovokasiku. Sejak kita berteman dari kecil dulu, aku selalu menekankan jangan pernah menyentuh apa yang menjadi milikku. Terutama dengan tangan kotormu itu!” Rio melepaskan tangan Reza dengan keras, membuat pemiliknya terhuyung kedepan dan jatuh.


“Kamu memilih perempuan itu dibanding pertemanan kita? Sampai kamu mempermalukanku seperti ini!” teriak Reza.

__ADS_1


“Kamu harus bersyukur karena tidak kupatahkan tanganmu saat ini juga. Dan perlu digaris bawahi, jika kita hanya berteman saat SMP, bukan lebih.”


“Kurang ajar kamu, Rio. Awas saja, aku akan membalasmu atas penghinaan ini.” Reza pergi dengan cepat dari kerumanan yang sudah mengelilingi mereka.


“Kamu tidak apa-apa, Tia?” tanya Rio khawatir. Dan setelah memastikan jika Tia baik-baik saja, Rio berbalik kearah Cindy yang sudah berada disebelahnya, “Maafkan aku, Cindy. Aku sudah sangat berusaha agar tidak merusak pestamu.” Sesal Rio.


“Saya tidak apa-apa, Pak Rio. Lebih baik Bapak bawa Cindy untuk masuk kedalam ruangan untuk menenangkan diri. Disana lebih hangat.”


“Baiklah, kuharap pesta ini bisa berlanjut seperti semula.”


“Tentu. Semuanya baik-baik saja, Rio.” Timpal Yose.


“Ikutlah denganku, Tia.” Rio membawa Tia untuk meninggalkan pesta itu.


“Mau kemana kita?” tanya Tia bingung karena Rio mengarahkannya masuk kedalam hotel yang berada tepat diseberang jalan.


“Diamlah. Aku tidak bisa menunggu lama.” Rio membawa Tia menuju meja resepsionis.


“Berikan aku kamar yang paling bagus, sekarang!” perintah Rio pada pegawai resepsionis. Rio juga memberikan tanda pengenalnya dan menggesekkan kartu kreditnya untuk membayar tagihan kamar sebesar dua juta permalam itu.


“Ini Pak, silahkan.” Petugas resepsionis itu memberikan kunci untuk kamar mereka.


“Untuk apa kita masuk ke hotel ini, Rio?” tanya Tia khawatir.

__ADS_1


“Kamu harus segera membuka bajumu didalam kamar itu, atau aku akan membukanya didepan umum dan mengganti bajumu dengan paksa.” Jawaban Rio terdengar sangat mengerikan karena pria itu masih diliputi emosi.


__ADS_2