
Pagi berikutnya, seperti biasa Cindy diterpa mual yang begitu hebat. Membuatnya harus memuntahkan semua yang ada didalam perutnya. Tapi pagi ini berbeda, dirumah itu sudah ada Tia yang mengurusnya. Tia membuatkan air putih hangat untuk meredakan mual yang Cindy rasa. Tubuhnya lemas setelah menguras isi perutnya.
“Masih ingat perkataanmu dulu? Yang dengan sombongnya berkata bahwa akan mengurusnya sendiri. Sekarang lihatlah dirimu, begitu lemah dan tak bertenaga.”
“Yah, aku akui, aku memang salah. Aku tidak pernah menduga akan hamil secepat ini. Dan badanku ternyata tidak sekuat kemampuanku dalam meminum alkohol.”
“Itu artinya Tuhan telah mengingatkanmu untuk tidak berbuat hal seperti itu lagi. Bersyukurlah dengan karunia-Nya. Dengan adanya janin dikandunganmu, kamu bisa menjadi lebih baik lagi.” Tia menatap sahabatnya yang terbaring lemah diatas tempat tidur. Tia terus menggigiti bibirnya jika ragu akan sesuatu dan Cindy menyadari itu.
“Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan. Aku tak akan marah.”
“Siapa ayahnya? Bayi yang kamu kandung itu.” Tanya Tia cepat.
“Aku tidak tahu, Tia. Aku sendiri juga bingung. Tapi terakhir kali aku berhubungan dengan bule yang aku temui di club beberapa minggu yang lalu. Kami sama-sama mabuk dan melakukannya begitu saja.”
“Berapa minggu tepatnya?”
“Entahlah. Mungkin hampir dua bulan.” Jawab Cindy sedikit ragu.
__ADS_1
“Kamu masih berkomunikasi dengannya sekarang?”
“Masih. Dan dia tahu jika aku hamil.” Jawab Cindy dengan lemas.
“Lalu? Bagaimana reaksinya?”
“Dia ingin bertanggung jawab dengan kehamilanku. Dia terus saja meyakinkanku jika aku harus memberikannya kesempatan untuk menebus kesalahannya malam itu.”
“Bukankah itu bagus, Cindy. Dia bersedia bertanggung jawab dengan anak yang ada pada kandunganmu.”
“Tapi bisa saja itu memang anaknya, Cindy. Apalagi tadi kamu mengatakan jika melakukannya terakhir kali dengannya beberapa minggu yang lalu.”
“Entahlah, Tia. Aku ragu akan hal itu.”
“Berikan dia kesempatan, Cindy. Berikan juga kesempatan pada dirimu untuk bersandar pada seseorang. Kamu tidak akan mungkin berdiri sendiri sampai nanti. Jangan sampai kamu menyesal, Cind.”
“Aku tidak mau jika nanti menikah, lalu akan berakhir seperti dirimu. Maaf, Tia, bukan maksudku untuk menyinggungmu. Aku hanya terlalu takut pada sebuah komitmen.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Cind. Pernikahanku memang telah berakhir, tapi masa depan tidak ada seorangpun yang tahu. Buruk untukku, bukan berarti akan buruk untukmu. Apalagi pria itu bersedia untuk menerimamu.”
Cindy terdiam mendengarkan saran yang Tia ucapkan. Semua yang Tia ucapkan selama ini memang selalu benar jika menyangkut kehidupan Cindy, dan Cindy mengetahui itu. Hanya saja Cindy selalu berupaya untuk tidak mendengarkan karena terlalu takut pada hal yang dinamakan pernikahan.
“Temui dia sore ini, undanglah pria bulemu itu kerumah ini nanti sore. Aku akan memasak untuk kalian berdua. Tapi sebelum itu, siang ini pergilah bersamaku kedokter kandungan. Aku sudah membuat janji dengan dokterku dulu.”
“Terimakasih, Tia.”
“Sama-sama, sayang. Tapi aku penasaran bagaimana caramu masuk kantor dengan kondisi seperti ini?”
“Aku akan baik-baik saja setelah jam delapan pagi. Jadi aku akan bersiap sekuat tenaga sebelum itu, dan pergi menggunakan taksi online. Aku akan sehat kembali saat perjalanan kekantor.”
“Akalmu memang dari dulu selalu bisa di andalkan. Good Cindy.”
“Terimakasih sekali lagi atas pujiannya. Bisakah mengambilkan minyak kayu putih dimeja depan? Kurasa perutku mulai mual lagi.”
“Tentu, tunggu sebentar.” Tia berlari keluar kamar untuk mengambil minyak kayu putih yang Cindy perlukan.
__ADS_1