
“Selamat siang, Bu. Ada yang bisa kami bantu.”
“Saya mau bertemu dengan Tiara Nandita.”
“Apa Ibu sudah pernah ada janji sebelumnya?”
“Belum.” Jawabnya dengan ketus.
“Mohon tunggu sebentar, saya akan menghubungi ruangan manager untuk menanyakan keberadaan Bu Tia, karena ini sudah jam makan siang.”
“Dimana biasanya semua karyawan berkumpul dijam-jam seperti ini.”
“Biasanya semuanya berkumpul dikantin kantor, Bu.”
“Kalau begitu, biar saya mencari Tia disana saja. Permisi.”
Resepsionis tidak dapat menghalang Bu Ratna karena dia langsung menaiki lift yang sudah terbuka dan menuju kekantin kantor yang berada dilantai empat. Mama Gilang tahu letak kantin perusahaan karena dulu pernah menemui Gilang disana.
Sesampainya dilantai empat, Mama Gilang melihat sekitar dan mencari keberadaan Tia. Ruangan itu hampir dipenuhi seluruh karyawan S&D Group yang sedang melepas penat karena pekerjaan. Saat dia menemukan wajah yang dicarinya, Mama Gilang langsung menuju tempat Tia sedang duduk bersama Devi dan langsung menggebrak meja yang ditempati keduanya.
Brakk . . . meja itu sampai bergetar, “Tia!” bentak Mama Gilang.
“Tante Ratna?” Tia berdiri dari duduknya.
“Tante? Ternyata kamu sadar diri juga untuk mengubah panggilanmu kepadaku.”
“Tentu saja, Tante. Tidak mungkin saya memanggil Tante dengan sebutan Mama lagi, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.”
“Ada apa, Bu Tia?” Devi terlihat kebingungan dan khawatir disebelah Tia.
“Kamu duduk saja, Devi. Saya bisa menanganinya.” Jawab Tia tenang.
“Mari Tante, kita keruangan saya, agar tidak . . .”
__ADS_1
“Tidak perlu!” Mama Gilang menangkis tangan Tia, “Biar semua orang tahu kamu perempuan seperti apa.” Suara Mama Gilang membuat semua orang dikantin memperhatikannya.
“Harusnya aku tahu dari lama jika kamu adalah rubah yang licik, berani-beraninya kamu kembali kesini dan membuat hidup Gilang semakin menderita.”
“Apa Tante sudah lupa? Siapa disini yang sebenarnya lebih menderita.”
“Gara-gara kamu! Pasti gara-gara kamu, promosi jabatan Gilang dibatalkan. Kenapa kamu belum cukup membuat hidup Gilang menderita, Tia! Kamu perempuan mandul yang tidak bisa memberikan anak untuk Gilang.”
“Cukup, Tante! Tante sudah keterlaluan. ” Wajah Tia mulai menegang.
“Aku? Keterlaluan? Kamu yang lebih keterlaluan, Tia.”
“Lebih baik Tante pergi dari ruangan ini daripada Tante lebih malu nanti. Dan tolong pikirkan anak laki-laki Tante yang bekerja disini. Dia akan merasa sangat malu karena tindakan Tante ini. Saya yakin jika Gilang tidak tahu jika Tante kesini hari ini.”
“Apa katamu?” Mama Gilang tengah marah besar.
“Dengar semuanya, perempuan yang sekarang berdiri dihapanku ini, adalah perempuan yang tidak benar. Dia menipu suaminya dengan merekayasa hasil kesehatanan reproduksinya, dia perempuan mandul tapi tidak mau mengakuinya. Dia juga sudah membuat Gilang, anakku, menderita karena harus menikahinya. Dan sekarang setelah mereka berpisah, perempuan kotor ini masih saja menggentayangi hidup Gilang dengan bekerja disini.”
Semua orang tercengang dengan kalimat yang keluar dari mulut Mama Gilang, ada yang berbisik-bisik, dan ada juga yang terheran-heran. Senyum kemenangan tersungging diwajahnya karena merasa puas dengan ekpresi yang ditunjukkan oleh beberapa karyawan. Dia bertekad untuk menghancurkan mantan menantunya kali ini.
“Bagaimana Ibu bisa melimpahkan kesalahan anak Ibu kepada orang yang tidak bersalah?” tambahnya lagi dengan geram.
“Siapa kamu? Berani-beraninya kamu ikut campur dengan urusanku.” Celetuk Mama Gilang.
“Masalahnya Anda sendiri yang membuat kegaduhan dikantor kami, dan saya tahu betul bagaimana pribadi Bu Tia karena saya sudah bekerja lama dengan beliau.”
“Betul, itu. Saya juga tahu kebaikan Bu Tia.” Beberapa orang menyetujui pendapat Sinta.
“Dan bukankah Anda yang sudah menipu Bu Tia dengan membawa uang hasil penjualan apartemen dan mobilnya?” ucap Sinta keras-keras.
“Apa? Betulkah? Separah itu?” beberapa komentar terus saja terdengar dari kerumunan penonton.
Mama Gilang yang mendapatkan serangan dari Sinta menjadi salah tingkah dan gelagapan karena saat ini semua mata tengah tertuju padanya. Jiwa penyerangnya dengan tiba-tiba berubah kemode bertahan. Dengan cepat Mama Gilang berusaha mencari alasan untuk menyanggah kenyataan yang baru saja tercuat keluar.
__ADS_1
- - -
“Gilang, kamu harus cepat kekantin!” Toni menghubungi Gilang.
“Ada apa, Ton? Pekerjaanku sedang banyak.”
“Apa kamu tidak mendengar keramaian ini? Mamamu datang kesini dan melabrak, Bu Tia!”
“Apa!!!” aku akan segera kesana.”
- - -
“Sinta, cukup ya. Sudah, jangan berdebat lagi.” Tia berusaha menenangkan Sinta yang sudah ikut tersulut emosi. Tia tidak mau semua masalah rumah tangganya yang lalu terekspos keluar karena bagaimanapun Tia masih mengasihani Gilang.
“Kamu . . . ka . . . kamu mendengarnya dari siapa?” tanya Mama Gilang pada Sinta.
“Siapa lagi kalau bukan dari Dera, selingkuhan anak Anda tersayang. Dia begitu membanggakan calon mertuanya yang dengan sukses memoroti harta mantan menantunya. Dan perlu Anda ketahui, jika Bu Tia kembali keperusahaan ini karena memang mendapatkan penawaran khusus dari ditektur utama.”
Mama Gilang mulai merasakan tekanan karena beberapa orang secara frontal mulai ikut berkomentar dan menyerangnya.
“Kalian tahu semua? Bu Tia keluar dari rumah itu hanya membawa baju dan tidak membawa lainnya. Tapi betapa mulianya hati pimpinan timku ini, karena saat sidang, Bu Tia sama sekali tidak mempermasalahkan uang yang tidak sedikit itu.”
“Sinta, sudah-sudah. Jangan memperburuk keadaan. Darimana kamu mengetahui hal sedetail itu?” tanya Tia penasaran.
“Seperti yang saya beritahukan tadi, Bu. Dera yang menceritakannya semua. Dia menyombongkan hal itu. Tapi kenapa Bu Tia diam saja sejak tadi direndahkan oleh orang lain? Maaf Bu Tia, saya harus mengungkapkan semua yang saya tahu kelainnya, biar mereka semua tahu siapa yang baik dan siapa yang busuk disini.”
“Kamu tidak punya sopan santun anak muda!” bentak Mama Gilang.
“Bagaimana saya bisa sopan dengan Anda? Sedangkan sikap Anda sendiri saja tidak pantas untuk dihormati.”
“Mama! Apa yang Mama lakukan disini?” Gilang berlari menghampiri mamanya.
“Kamu harus bawa pergi Tante dari sini, Lang. sebelum semuanya menjadi tak terkendali.”
__ADS_1
“Ayo, Ma. Kita keluar.”
“Huuuuuuuuuu . . . “ sorakan dari seluruh penghuni kantin saat Gilang merangkul mamanya menuju lift dan turun.