CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 20


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu, Tia melewati hari-harinya seperti biasa. Dia menghidupi keluarga itu dengan sebagian uang yang Gilang berikan dan juga dari bunga deposito. Dari sumber itu, Tia berbelanja kebutuhan bulanan rumah itu, pengeluaran yang tak terduga, juga Tia masih bisa memberikan sumbangan untuk panti asuhan yang telah menaunginya dulu saat kecil sampai dia dewasa.


Kring . . . kring . . . kring . . . nama Cindy terpampang di layar ponsel Tia.


“Halo . . .”


“Halo, sayangku. Apa yang kamu kerjakan hingga tak menghubungiku sama sekali beberapa bulan ini?” protes Cindy dari seberang sana.


“Aku hanya menjadi ibu rumah tangga, Cindy. Mana mungkin aku sesibuk itu.” Jawab Tia.


“Benarkah? Tapi rasanya kamu lebih susah dihubungi dibandingkan dulu saat kamu menjadi salah satu manager dikantor.”


“Begitukah menurutmu? Hahahaha . . . aku hanya menjalankan peranku sebagai seorang istri. Aku menginginkan semua yang terbaik untuk suami dan keluargaku.”


“Sampai kau melupakan sahabat karibmu? Jika iya, kamu sungguh keterlaluan Tiara Nandita!”


“Tentu saja tidak. Aku tetap menyayangimu. Maafkan aku karena aku terhanyut akan peran baruku.”


“Ceritakan semuanya nanti padaku. Ayo kita bertemu siang ini saat jam istirahat.”


“Emmmm . . . aku lihat dulu apakah bisa. Aku harus memasak untuk makan siang.”


“Lihat! Kamu sudah tidak menganggapku sahabatmu?”


“Bukan begitu. Jika aku tidak memasak, tidak akan ada makanan dirumah ini. Gaby sekarang tidak pernah masuk kedalam dapur untuk memasak. Sedangkan mama Gilang sudah lama tidak memasak apalagi semenjak aku masuk kedalam keluarga ini.”


“Apa kamu pembantu?”


“Tentu saja bukan. Aku hanya berbakti, sayang. Nanti aku hubungi lagi kapan aku bisa menemuimu. Tapi kalau untuk jam makan siang, aku pastikan sulit untuk keluar menemuimu.”

__ADS_1


“Ok. Aku tunggu kabar darimu. Aku sudah merindukanmu, sayangku . . . “ Cindy mengeluarkan suara terimutnya.


“Baiklah . . . baiklah, tunggu kabar dariku. Bye honey.” Tia mengakhiri panggilannya dan melanjutkan kegiatannya seperti biasa. Menyiapkan bahan untuk makan siang yang akan ia masak nanti.


‘Cafe R’


“Akhirnya kita bisa bertemu.” Ucap Cindy saat Tia sudah duduk dihadapannya. “Kamu tahu? Kesibukanmu sudah seperti Ibu Negara kita.” Gerutu Cindy.


“Aku masih bersyukur bisa menemuimu setelah mendapat izin dari Mas Gilang.”


“Mas Gilang???” ekspresi Cindy seakan tak percaya atas apa yang baru saja dia dengar.


“Yah, aku memutuskan memanggilnya seperti itu setelah kami menikah. Aku harus menghormatinya.”


“Hahahaha . . . boleh juga panggilan barumu itu. Lagi pula kalau sampai dia berani tidak mengijinkamu untuk menemuiku, akan kubunuh mas Gilangmu itu!”


“Tenang saja, jika kamu menjadi janda, aku akan mencarikanmu suami yang lebih baik dari pada Gilang.”


“Cindy . . . ku mohon. Dia suamiku, jadi tolong jaga bicaramu.” Protes Tia.


“Ok, maafkan aku. Aku lupa kalau kamu menjadi sensitif jika berhubungan dengan Gilang.”


“Mau pesan apa, Kak?” tanya pelayan di cafe itu sambil menyodorkan buku menu keatas meja.


“Orange jus, dan . . . kamu mau es americano, Tia?” tanya Cindy pada sahabatnya. Dan dijawab dengan anggukan pasti dari Tia. Cindy selalu ingat apa minuman kesukaan sahabatnya itu.


“Ok. Orange Jus satu, es americano satu, dan waffle coklat kacangnya dua. Terimakasih.” Cindy mengembalikan buku menu kepada pelayan.


Pelayan itu pergi setelah mencatat dan mengulangi pesanan dari Cindy dan Tia.

__ADS_1


“Ada kabar baru diperusahaan?” tanya Tia penasaran.


“Maksudmu kabar suamimu?”


“Bukan. Aku benar-benar menanyakan perusahaan. Apa ada hal baru yang menarik?”


“Seperti biasa, perusahaan selalu terdepan dalam beberapa proyek. Dan kamu tahu kabar yang paling hot saat ini dikantor? Ada manager baru yang menggantikan posisimu. Namanya Pak Rio. Umurnya sudah 30 tahun tapi masih singgel. Dia sangat tampan dan badannya, emmmm . . . ingin rasanya aku melepas semua pakaian yang menempel dibadannya.” Jelas Cindy yang menggebu-gebu.


“Sssttt! Pelankan suaramu. Semua orang mulai memperhatikan meja ini karena pikiran mesummu.”


“Lebih baik kamu cepat menikah agar khayalan kotormu itu bisa segera tersalurkan.” Tambah Tia.


“Ada beberapa cara untuk menyalurkan hasratku ini, Tia. Dan itu tidak membutuhkan komitmen pernikahan.” Jawab Cindy dengan pasti.


“Tapi pernikahan adalah pilihan yang tepat dan legal apabila dalam hubunganmu itu timbulnya yang dinamakan seorang anak, Cind.”


“Jika sampai itu terjadi, aku bisa merawat dan membesarkannya sendiri. Aku tidak mau terikat pernikahan, terlalu merepotkan. Dan tenang saja, aku selalu memakai pengaman setiap kali melakukannya.”


“Gila kamu!” cemooh Tia.


“Yah, beginilah aku. Tapi aku tetap teman yang baik karena tidak menyeretmu dalam pergaulan bebasku.”


“Kamu memuji diri sendiri?” Tia keheranan dengan sifat sahabatnya itu.


“Beginilah aku.” Cindy membanggakan dirinya.


“Dengan senang hati aku mendoakan ada seorang laki-laki yang bisa mengubahmu.” Sambil memberikan nasihat, Tia meminum es americanonya setelah pelayan menyajikan minuman dan makanan kemeja dua wanita itu.


“Dengan senang hati aku akan menunggu laki-laki itu.” Jawab Cindy singkat.

__ADS_1


__ADS_2