
“Apa montirnya sudah datang?” tanya Tia saat dia menyusul Rio kedepan setelah selesai memasak.
“Aku tidak memanggil montir, ternyata setelah kuperiksa dan mengencangkan beberapa kabel, langsung bisa. Mungkin ada yang terlepas atau kendor semalam.”
“Kamu yakin mobil ini berfungsi dengan baik? Hati-hati dengan arus kelistrikannya.”
“Ya. Dan sudah bisa kuhidupkan. Lihatlah.” Rio menunjukkan bahwa mobilnya saat ini sudah bisa nyala.
“Untuk sekelas mobilmu ini, sungguh disayangkan jika terjadi kerusakan seperti itu.”
“Sekarang mobilku sudah baik-baik saja. Dan aku pastikan tidak akan rusak seperti semalam.” Janji Rio.
Dan tentu saja bahwa sebenarnya dari awal mobilnya baik-baik saja. Kemarin malam Rio keluar rumah secara diam-diam melalui pintu belakang dan mencabut beberapa kabel dengan sengaja. Hal itu dia lakukan karena ingin lebih dekat dengan Tia dan membuat perempuan cantik itu menginap dirumahnya. Tapi hukuman telah Rio dapatkan secara instan, dia harus menahan segala hasrat yang muncul secara tiba-tiba karena berada didekat perempuan pujaannya.
“Mobil sudah beres, apa aku sudah bisa mencicipi masakanmu?”
“Tentu saja. Ayo kita masuk dan sarapan.” Tia mengajak Rio untuk masuk dan langsung menuju ke meja makan yang berada diantara dapur dan ruang keluarga.
“Aku hanya memasak omlet telur sayuran dan nasi goreng. Di sini, ada tumis daging sapi cabai hijau, nanti untuk makan siangmu.” Tia menunjukkan satu piring penuh dengan daging dan cabai hijau yang ditutupinya dengan tudung saji seukuran piring itu.
“Dan ini, kopi Anda, Tuan. Kopi pahit tanpa gula. Persis yang kamu pesan setiap pagi saat dikantor.”
“Wahhh . . . kamu memasak semua ini dengan bahan yang ada dikulkasku? Dan tentang kopiku, aku tidak menyangka kamu mengingatnya.”
“Betul. Semakin aku mencari kedalam kulkasmu, aku banyak menemukan harta karun terpendam yang bisa kupakai untuk memasak, aku yakin jika kamu tidak pernah menyentuhnya. Aku juga sudah memilah bahan masakan yang masih bisa digunakan dan membuang yang hampir busuk. Makanlah sarapanmu.” Tia mempersilahkan Rio untuk mulai menyentuh sarapannya, begitu juga dirinya.
“Aku suka pagi ini. Aku sangat menyukai suasana hari ini. Rasanya seperti terbangun setiap pagi diranjang yang sama dengan orang yang dicintai dan juga memakan masakan istri tercinta.”
“Kamu pasti bisa merasakannya nanti, setelah menemukan seseorang yang pas untukmu.”
“Aku sudah menemukannya, tapi orang itu menganggapku kurang pas untuknya.”
__ADS_1
“Kamu harus lebih berjuang lagi untuk mengikuti keinginan orang itu, Rio. Mungkin saat ini orang itu belum siap untuk menjalin sebuah hubungan baru, tapi masa depan siapa yang tahu.” Jelas Tia yang sadar jika dirinyalah yang dimaksud oleh Rio.
“Benarkah? Apa menurutmu aku masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkannya?” tanya Rio dengan penuh semangat.
“Kita lihat saja nanti. Cepat makan! Makananmu mulai dingin.” Perintah Tia.
“Siap. Aku akan memakan habis makanan yang sudah kamu masakkan untukku.” Jawab Rio dengan sikap kekanak-kanakannya. Hampir tidak mungkin Rio menunjukkan sifat seperti itu didepan umum, tapi entah kenapa selama bersama dengan Tia, dia menghapus semua ketegangan diwajahnya.
“Kalau rumah ini belum pernah kedatangan tamu, berarti selama ini saat kamu berkencan dengan seseorang, kalian selalu berada diluar rumah?” Tia membuka kembali obrolan saat mereka masih mengunyah makanan.
“Aku selama 5 tahun terakhir ini belum pernah berkencan dengan siapapun.”
“Sama sekali?”
“Tidak juga. Dulu saat aku SMA, aku harus pindah ke Amerika bersama dengan orang tuaku. Dan dua tahun semenjak kepindahanku, pergaulanku mulai tak sehat. Amerika negara yang besar, jika tidak hati-hati, kita bisa terjerumus disana. Saat itu aku sempat menggunakan narkoba, alkohol, sekolahku terbengkalai, dan juga free s*x dengan beberapa teman perempuan.”
“Free s*x???”
“Sekarang?”
“Tenang saja, sudah 10 tahun lalu aku berhenti dengan itu semua dan kembali menata hidupku. Kuliah dan hidup sehat.”
“Kenapa kamu sampai pada keputusan untuk berhenti dengan barang-barang itu?”
“Aku hampir saja kehilangan nyawaku saat narkoba menguasai tubuhku. Aku merasakan nyeri dada yang begitu hebat karena jantung dan paru-paruku gagal berfungsi dengan baik, nafasku tersengal-sengal, badanku bergetar hebat, disaat itu aku melihat bundaku yang menangis kencang dan sangat sedih karena melihat anaknya berada diambang kematian. Sejak saat itulah aku berjanji pada diriku sendiri, jika aku selamat, maka aku akan memperbaiki diriku. Dan sekarang beginilah aku.”
“Aku tidak membenarkan pergaulan bebasmu itu, tapi aku akan memberikanmu apresiasi untuk niat dan kesungguhanmu untuk sembuh dari semua barang haram itu.”
“Betul. Saat itu adalah titik balikku.”
“Berarti setelah itu kamu berkencan dengan aman? Bukankah kamu bilang baru 5 tahun terakhir tidak berkencan?”
__ADS_1
“Yup, setelah itu aku mengencani beberapa teman kuliahku. Tapi karena aku menghindari hubungan badan, mereka semua meninggalkanku karena menganggapku tak mencintai mereka. Tapi memang benar, dari semua hubungan yang kujalin, tidak ada perasaan cinta didalamnya. Entah kenapa rasanya kosong. Maka dari itu aku selalu menutup diri agar tidak menyakiti perempuan lain.”
“Mulai sekarang, mulailah membuka hatimu dan temukan pasanganmu.”
“Tentu saja aku akan melakukannya.” Jawab Rio setelah melahap suapan terakhirnya.
“Berikan padaku piringmu, aku akan mencucinya, dan bersiap pulang setelah itu.” Tia turun dari kursi dan memasukkan piring-piring kotor itu kedalam mesin pencuci piring.
“Kamu bisa menggunakannya?”
“Bisa. Tadi aku mempelajarinya sebentar di yo*tube. Tadi aku gunakan untuk mencuci teflon dan wadah lainnya yang kotor.”
“Kamu sungguh perempuan yang pandai.” Puji Rio.
“Satu informasi penting, Tia!” tambah Rio.
“Hmmm? Apa itu?”
“Walau dulu aku pernah melakukan free s*x dengan siapapun, tapi kondisi tubuhku sehat sampai saat ini. Dan aku tidak mengidap penyakit menular apapun.”
“Aku tidak menanyakannya padamu, Rio. Karena itu adalah prifasimu.”
“Tidak, tidak. Kamu harus tahu tentang hal itu. Aku tidak mau kehilangan poin bahkan tidak untuk seperempatnya.”
“Ok. Sudah selesai semua. Aku akan naik keatas dan mandi. Nanti jika ada yang mengantarkan paket bajuku, tolong diterima jika aku masih mandi, ya. Aku tadi sempat memesan secara online dan akan segera diantar. Aku tidak bisa memakai gaunku semalam dan juga bajumu ini. Mereka semua sama-sama terlalu terbuka.”
“Baiklah, aku akan segera mengantarkannya keatas jika paketmu sudah sampai.”
“Terimakasih, Rio.” Tia meninggalkan Rio yang masih meminum kopi hangatnya.
“Oh, iya. Bajunya sudah kubayar, kamu tidak perlu membayarnya lagi nanti.” Teriak Tia dari lantai atas.
__ADS_1
“Oke!” jawab Rio dengan volume suara yang sama.