CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 83


__ADS_3

“Pagi.” Ucap Rio saat Tia mulai membuka matanya secara perlahan karena silau cahaya matahari yang mulai mengintip dari balik tirai.


“Tidurmu nyenyak?” tanya Rio kembali.


Tia menganggukan kepalanya pelan dan mendekati tubuh Rio, memeluknya lagi. “Aku masih ngantuk.”


“Tidurlah lagi. Tadi malam kamu sudah bekerja sangat keras.” Goda Rio.


Tia langsung membelalakkan kedua matanya dan terduduk diatas tempat tidur. Selimut tebal dibalutkan melingkari tubuhnya yang masih belum menggunakan apapun.


“Tadi malam aku . . . aku . . .” Tia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rio yang memperhatikan istrinya sedang malu-malu tertawa keras dan ikut duduk dihadapan Tia.


“Kenapa kamu malu? Bukannya tadi malam kamu begitu liar. Kenapa sekarang malu-malu. Semalam kamu sadar penuh kan? Tidak mabuk kan?” Rio mencoba membuka tangan Tia dan terus saja menggoda istrinya.


“Lepaskan, aku malu Rio. Anggap saja semalam aku sedang kesetanan.”


“Betulkah? Bukalah dulu tanganmu itu, ada yang harus aku tanyakan.”


Tia membuka kedua tangannya, baru saja dia membuka tangannya tapi langsung menutup wajahnya lagi dengan kedua tangannya saat matanya tertuju kebagian bawah Rio.


“Rio!”

__ADS_1


“Hahahaha . . . kenapa lagi kamu menutup wajahmu.”


“Kenapa kamu tidak mengenakan apapun dibawah. Paling tidak tutupi dulu adikmu itu. Bagaimana bisa kamu tidak tahu malu membuatnya terbuka seperti itu.”


“Hahahahahahaha, Tia . . . Tia.” Rio tertawa keras karena sikap menggemaskan istrinya.


“Kenapa kamu masih malu? Bukannya kamu sudah pernah beberapa kali melihatnya? Kamu kan juga sudah pernah menyentuhnya dan merasakannya. Untuk apa lagi kamu malu.”


“Tapi . . . tapi kan, dulu itu kondisi kamar gelap. Jadi tidak terlihat jelas.”


Rio menarik tangan Tia yang menutupi wajahnya, “Mulai sekarang biasakanlah untuk melihatnya. Karena mulai hari ini dan masa mendatang, kamu akan sering berjumpa dengannya. Bersiaplah.”


Rio mencium bibir Tia pagi ini dan kedua tangannya menarik tubuh Tia untuk lebih mendekat dengannya, tangannya sudah mencari jalan untuk masuk kedalam selimut yang membungkus tubuh Tia.


“Ada apa?”


“Apa kamu tidak mendengar jika diluar sudah mulai ramai.”


“Lalu kenapa? Biarkan saja yang lainnya memulai aktifitasnya.” Rio mencoba mencium Tia lagi, tapi perempuan itu menutup mulut Rio dengan tangannya.


“Kita harus segera bangun dan bergabung dengan mereka. Aku tidak mau mereka berfikir yang aneh-aneh karena kita belum keluar pondok sampai sekarang.”

__ADS_1


“Biarkan saja mereka berfikir dengan keinginan mereka. Kita suami istri, tidak ada yang salah walaupun kita tidak keluar dari pondok ini sampai besok.”


“Riooooo . . .” rengek Tia yang hampir putus asa.


“Oke . . . oke, kita bersiap-siap sekarang dan keluar, biar kekhawatiranmu itu tidak terjadi.” Rio turun dari tempat tidurnya dengan dongkol. “Ada-ada saja! Kenapa aku juga harus memusingkan apa yang akan mereka pikirkan.”


Tia tersenyum karena melihat suaminya menggerutu. “Mandilah dulu. Aku setelahnya.”


“Kalau kamu mau kita keluar dari pondok ini, kamu harus mau menuruti keinginanku.” Rio berjalan kesisi ranjang tempat Tia duduk, dan tubuh kekar itu mengangkat tubuh Tia dengan mudah.


“Rio! Apa yang kamu lakukan! Cepat turunkan aku!” perintah Tia yang sudah berada diatas gendongan Rio.


“Bukannya kamu menyuruhku mandi?”


“Iya. Tapi kenapa kamu menggendongku.”


“Karena aku ingin mandi denganmu. Ayo kita mandi dan membersihkan diri dikamar mandi berdua.” Suara Rio begitu menggoda dengan senyuman jahilnya. Rio membawa Tia masuk kedalam kamar mandi dan meninggalkan selimutnya tergeletak dilantai kamar.


“Riooo! Kamu sungguh keras kepala.” Terdengar suara protes Tia dari dalam kamar mandi.


“Tapi kamu menyukainya kan?” balas Rio.

__ADS_1


Sedetik kemudian, kamar mandi itu menjadi tenang dan hanya terdengar suara ricikan air yang turun dari shower. Sesekali terdengar desahan yang tak tertahankan dari dalam kamar mandi karena permainan yang sedang Rio dan Tia lakukan.


__ADS_2