CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 89


__ADS_3

“Bunda dan Ayah pamit ya, Sayang.” Bunda Ajeng memeluk anak semata wayangnya itu, dan setelahnya memeluk hangat menantu satu-satunya.


“Baik-baik dirumah dengan Rio, Tia. Ingat! Kalau Rio macam-macam dan membuatmu menangis, cepat lapor sama Bunda. Bunda akan langsung terbang ke Indonesia.” Bunda Ajeng memberikan penekanan dibeberapa bagian kalimat.


“Anak kandung Bunda siapa si? Kenapa rasanya Rio seperti ternistakan disini?”


“Hahaha . . . kamu cemburu dengan perhatian kami kepada Tia, Rio?” tanya Ayah Rio.


“Tentu saja tidak, Yah. Rio justru sangat bersyukur karena Bunda dan Ayah sangat baik memperlakukan Tia. Terutama untuk kemarin juga. Terimakasih banyak.”


“Sudah seharusnya orang tua membela anaknya yang berada dijalan kebenaran, Rio. Mana mungkin Bunda diam saat Tia dihujat oleh orang lain.” Jawab Bunda Ajeng dengan serius.


“Kamu tenang saja, Tia. Bunda sudah pesankan obat yang bagus dari Amerika. Nanti kalau sudah datang, rutin diminum, ya. Semoga kalian berdua cepat diberikan momongan. Bunda sudah nggak sabar dipanggil Oma. Ya kan, Yah.” Ucapan Bunda Ajeng didukung oleh anggukan pasti dan senyum dari suaminya. Bunda Ajeng tidak tahu jika ucapannya sedikit membuat perasaan Tia tertekan. Dia menyadari jika kedua mertuanya itu pasti menginginkan cucu darinya, karena ia adalah istri dari anak semata wayangnya.


Tia memaksakan senyumnya, tapi pria disebelahnya sadar betul jika istrinya sedang sedih dan merasa khawatir karena ucapan yang tidak disengaja dari Bunda dan Ayahnya. Tapi Rio tidak menyela ucapan orang tuanya, karena dia memaklumi kalau memiliki cucu adalah keinginan setiap orang tua dari anaknya yang sudah menikah.


Bunda Ajeng melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10.00, yang artinya mereka berdua harus segera checkin dan masuk keruang tunggu sebelum boarding pass. Sekali lagi mereka berpamitan dengan anak dan menantunya. Dengan senyuman, Rio dan Tia melepas kepergian orang tuanya untuk kembali ke Amerika.


***


Selepas dari bandara, Tia tetap terdiam sesampainya dirumah. Dia memilih untuk duduk dibangku panjang taman belakang rumah agar bisa menghirup udara segar karena taman yang dipenuhi oleh tanaman dan pepohonan rimbun dan berusaha menenangkan pikirannya.


“Hei, apa yang kamu pikirkan?” Rio muncul dengan dua gelas coklat hangat dan ikut duduk disebelah Tia.


Tia hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat suaminya sudah duduk disebelahnya sembari merengkuh tubuh Tia.

__ADS_1


“Cerita saja. Apa yang membuatmu sedih setelah kita mengantarkan Bunda dan Ayah di bandara?” Rio mencoba meminta Tia untuk membuka hatinya.


“Aku tidak apa-apa, Rio. Aku hanya kelelahan karena pesta kemarin.” Tia memberikan alasan.


“Aku tahu jika kamu sedang tidak baik-baik saja. Apa kamu marah pada Bunda?”


“Marah? Kenapa? Bunda tidak melakukan kesalahan apapun padaku.”


“Aku tahu jika kamu berubah sedih sejak Bunda mengatakan jika beliau menginginkan cucu dari kita. Tolong maafkan orang tuaku, mereka tidak tahu jika hal itu bisa membuatmu bersedih.”


“Tidak, tidak, tidak, Rio.” Tia cepat-cepat membantahnya. “Bunda tidak salah sama sekali. Itu harapan yang pasti diinginkan saat mengetahui jika putranya telah menikah. Apalagi kamu adalah anak satu-satunya. Yang diinginkan Bunda dan Ayah itu sangat lumrah, Rio. Hanya saja aku yang sangat takut. Aku takut mengecewakan mereka karena tidak bisa mewujudkan keinginan mereka untuk menimang cucu.”


“Berapa lama kamu dulu menikah dengan Gilang?”


“Hm? Kenapa kamu menanyakan itu.”


“Satu tahun kalau tidak salah. Aku menikah dengan Gilang hanya bertahan selama satu tahun.”


“Sampai kamu keluar dari rumah, apakah hubungan ranjang kalian masih berjalan dengan baik?”


“Tidak. Sejak Gilang berselingkuh dengan Dera, dia sangat jarang menyentuhku.”


“Jadi dengan pernikahan yang baru saja berjalan selama satu tahun, dan hubungan ranjang kalian yang tidak seintens itu, bagaimana bisa kamu menganggap dirimu tidak bisa mempunyai anak, Tia? Bukankah hasil tes mu bagus dan kondisi rahimmu baik-baik saja.”


“Iya. Hasilku baik-baik saja. Tapi orang tua Gilang dan adiknya terus saja meneriakiku sebagai perempuan mandul karena belum juga hamil.”

__ADS_1


“Sekarang lihat aku.” Rio meminta Tia untuk fokus memandanganya. “Hal itu tidak bisa dikatakan jika kamu perempuan mandul, Tia. Dokter saja mengatakan jika kamu baik-baik saja. Yang berarti memang belum waktunya saja kamu hamil.” Rio menangkup wajah Tia dengan kedua tangannya, “Jadi mulai hari ini bebaskan beban pikiranmu ini. Jika kamu mau ada janin yang bersemayang dirahimmu, yang paling utama kamu harus membuat dirimu bahagia dulu, Sayang. Bebaskan bebanmu itu dan teruslah bahagia. Aku yakin jika jiwamu bahagia, maka ragamu juga akan merasakannya.”


“Tapi jika kita tetap belum diberikan momongan?”


“Ada banyak cara dibidang ilmu kedokteran yang bisa membantu kita. Jadi tenanglah mulai sekarang. Kita juga bisa menunggu obat dari Bunda sampai. Aku akan bersamamu meminum obat itu. Kita akan berjuang bersama-sama.”


“Terimakasih, Rio. Ucapanamu selalu bisa menenangkan hatiku setiap kali aku dilanda kegelisahan.” Tia memeluk erat suaminya.


“Itu sudah tugasku sebagai suamimu, Sayang. Aku tidak boleh membiarkan istri cantikku berlarut-larut dalam kesedihannya.” Rio menghujani kening Tia dengan kecupan kecil.


“Bagaimana jika kita mulai dari sekarang?”


“Apanya?”


“Berusaha untuk menghamilimu secepatnya. Ini kan malam pertama kita karena kemarin kita tidak bisa melakukan apa-apa karena banyaknya keluarga didalam rumah utama.”


“Apa? Malam pertama???” Tia terkejut dengan ucapan Rio yang mengada-ada. Keterkejutannya tidak bisa berlanjut karena Rio sudah membopongnya dengan mudah.


“Tentu. Ini malam pertama kita sebagai suami istri yang sah secara agama dan negara. Bagaimana jika kita mulai dengan membersihkan diri dulu dikamar mandi berdua. Aku mulai menyukai sensasi ditempat lain selain diatas ranjang. Aku suka permainan kita tempo hari di pondok resort.”


“Tidak, tidak, tidak, Rio. Cepat turunkan aku.” Tia berusaha memberontak dari atas.


“Kenapa? Bukannya tempo hari kamu menikmatinya?”


“I . . . iya, aku juga menyukainya. Tapi kalau sore ini kita sudah melakukannya, nanti malam . . . akkkkhhhh, besok aku harus sudah masuk kerja, Rio. Aku tak mau jika sampai susah bangun karena kecapean.” Tia sudah takut akan bayangan ronde berikutnya yang pasti akan diminta Rio nanti malam.

__ADS_1


Tanpa mendengarkan protes dari istrinya, Rio menaiki anak tangga menuju kekamarnya dan tersenyum penuh arti saat melihat istrinya sudah ketakutan karena akan kewalahan meladeni kenakalannya.


“Tenang saja, Sayang. Kamu itu nyonya bos. Tak akan ada yang berani menegurmu walau kamu tidak masuk kantor selama beberapa minggu sekalipun.” Ucapnya memastikan. Tak ingin mendengarkan ocehan Tia selanjutnya, Rio langsung mencium mesra bibir istrinya yang masih diatas gendongannya itu dan masuk kedalam kamarnya.


__ADS_2