
“Aku harus pulang, Dera. Lepaskan aku.” Pinta Gilang
“Jangan Pak . . . menginap saja dirumah Dera.” Pinta Dera dengan manja. Dera melingkarkan tangannya diperut Gilang dan memeluknya dengan erat diatas ranjangnya. Tubuh mereka berdua hanya terbalut selimut.
“Tia akan mencariku. Dari tadi ponselku terus saja bergetar.”
“Biarkan saja dia. Yang penting Pak Gilang tetap disini menemani Dera. Pak Gilang mencintaiku, kan?” tanya Dera dengan manja. Tangannya mulai meraba perut Gilang. Dimulai dari dada dan perlahan turun kebawah.
“Aku akan menjawab dengan kepuasan yang akan aku berikan padamu, gadis nakal!” gemas Gilang pada gadis yang sengaja memancing gelora apinya. Untuk kesekian kalinya, dua insan itu berbuat dosa.
***
“Baru pulang, Mas?” tanya Tia tiba-tiba ditengah kegelapan kamarnya, hal itu membuat Gilang terkejut karena dia berfikir bahwa istrinya sudah pasti tertidur.
“Kamu mengagetkanku, Tia. Kenapa kamu duduk dikursi dengan lampu yang padam?” Gilang menyalakan lampu kamarnya dan mendekati istrinya, berusaha menyentuhnya.
“Menjauh dariku! Jangan menyentuhku sebelum menjawab pertanyaanku, Mas!” ucap Tia dengan tatapan mata yang tajam. Gilang terperanjat, tidak pernah ditemuinya sosok Tia yang dia hadapi saat ini.
“Apa lagi alasan malam ini? Lembur? Atau kamu sedang memeluk gadis kecilmu?”
Gilang berdiri dari duduknya, dia marah karena merasa tidak dipercaya. “Kamu mencurigaiku? Kamu tidak percaya padaku? Bukankan kamu dulu selalu berkata jika akan selalu mempercayaiku?”
__ADS_1
“Kamu pantas mendapatkan kecurigaan itu, Mas. Lihat saja kelakuanmu beberapa minggu ini. Aku penasaran dengan istri orang lain. Apakah masih bisa setenang diriku?”
“Dan tolong jangan terlalu terang-terangan jika berselingkuh dibelakangku, paling tidak sembunyikan ****** yang ada dilehermu itu.” Tatapan mata Tia begitu menakutkan.
Gilang langsung menutup lehernya dengan tangannya, “Kenapa kamu tiba-tiba memancing pertengkaran denganku? Ini . . . ini hanya gatal karena digigit nyamuk, lagipula ini juga sudah jam tiga subuh, Tia. Harusnya kamu sebagai istri yang baik, lebih memperhatikan suamimu yang kelelahan karena bekerja.” Gilang mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Gilang tahu siapa yang dimaksud Tia dengan gadis kecil.
“Aku? Memancing pertengkaran?” Tia memutar matanya seakan tak percaya, “Lihatlah ponselmu? Berapa kali aku menghubungimu, Mas? Berapa kali aku mengirimkan pesan singkat padamu? Apakah ada satu saja yang kamu balas? Tidak, Mas!” Tia berteriak. Dia tidak perduli lagi jika mertua dan adik iparnya mendengar jeritannya.
“Kamu tahu apa yang aku lalui hari ini? Hari ini begitu berat untukku.” Tia berhenti sejenak untuk mengatur emosinya agar tidak meledak lebih besar, “Kamu tahu? Adik dan mama kesayanganmu dengan terang-terangan menyudutkanku, mereka memperlakukanku seperti sampah dirumah ini. Tapi semua itu aku terima karena ada kamu disisiku, Mas. Tapi lihatlah. Saat aku membutuhkanmu, kamu bahkan tidak bisa kugapai.” Air matanya mulai menetes.
“Anggap saja jika hari ini kamu memang lembur, tapi sesibuk apapun itu, tak dapatkah memberikan kabar kepada istrimu dirumah, Mas! Tapi yang kurasakan jika kamu sudah mulai menghianatiku, Mas. Kamu selingkuh!”
“Itu karena kamu!” bentak Gilang.
“Karena kamu yang tak bisa memberikan aku keturunan. Kamu tak bisa memberikanku anak. Kamu perempuan mandul!”
Ngiiiiiinngggg . . . kepala Tia tiba-tiba berdenging hebat karena ucapan yang baru saja dia dengarkan. Perkataan Gilang telah meluluhlantahkan semua pertahanannya. Hatinya merasa sakit yang teramat. Seseorang yang dulu dicintainya, sekarang telah berbalik menyerangnya.
“Ternyata seperti itu penilaianmu padaku. Kamu tak ada bedanya dengan mereka, Mas. Dan kamu telah mengakui bahwa kamu telah berselingkuh dibelakangku.” Tia mencoba menahan tangisnya yang ingin mengalir lagi. Dia tidak rela air matanya jatuh untuk seseorang yang sudah tidak menghargainya.
“Benar! Aku telah menjalin hubungan dengan Dera. Kami juga sudah berhubungan badan selayaknya suami istri. Dia lebih menawan. Dera lebih memikirkan kepuasanku dengan cara . . .”
__ADS_1
“Cukup, Mas! Aku tak ingin mendengarkan kisah menjijikkan itu. Simpan hal itu untuk kalian berdua. Aku rasa kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Tapi aku ingin bertanya untuk yang terakhir kali.”
“Kamu memilih untuk kembali padaku dan meninggalkan perempuan itu, atau memilih mengakhiri pernikahan kita.” Tia memberikan pilihan.
“Aku tidak bisa meninggalkan Dera, dia sudah memberikan segalanya untukku.” Jawab Gilang dengan tenang.
“Lalu aku? Apakah aku tidak memberikan segalanya untukmu, Mas?”
Gilang tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Tia. Dia hanya terdiam sambil menundukkan wajahnya.
“Aku sudah tahu pilihanmu. Jadi lebih baik kita berpisah.” Tia melangkah menuju lemari bajunya, dia menurunkan kopernya dan memasukkan semua baju yang ada didalam lemari itu.
“Mau kemana kamu?” tanya Gilang.
Tia berhenti sejenak dan berbalik menghadap Gilang, “Kamu tidak berfikir jika aku akan tetap disini bukan, setelah apa yang baru saja terjadi.” Tia melanjutkan pekerjaannya lagi.
“Tetap dirumah ini dan jangan kemana-mana.” Perintah Gilang.
Walau hatinya teramat sakit, tapi masih ada setitik harapan jika Gilang akan meminta maaf dan memilihnya dari pada perempuan selingkuhannya. Bagaimanapun juga Gilang merupakan cinta pertamanya yang ia perjuangkan sepenuh hati.
“Nanti pagi, kita temui mama. Kamu harus berpamitan dengan mama.”
__ADS_1
Selesai sudah. Setitik harapan itu telah mati diterpa kenyataan. Kekasih yang dulu sangat menginginkannya, sangat menjunjung tinggi dirinya, sekarang dengan mudah menyerah pada janji suci yang telah mereka ucapkan. Pernikahan Gilang dan Tia hanya mampu bertahan ditahun pertama karena godaan yang tidak mampu Gilang halang.
Gilang keluar dari kamarnya, dia sama sekali tidak berusaha untuk membujuk istrinya untuk tetap tenang dan tetap tinggal disisinya. Tia merasakan nyeri hebat dikepalanya. Setelah menyelesaikan mengepak semua barangnya, Tia memilih untuk berbaring sebentar diatas tempat tidurnya sebelum pagi menjelang. Dia memerlukan tenaga dan akal sehat untuk menghadapi mertua dan adik iparnya besok pagi.