CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 43


__ADS_3

“Selamat pagi, Bu Tia.”


“Selamat pagi.” Jawab Tia dengan ramah dan senyum manis dibibirnya. Sepanjang perjalanan Tia menuju ruangannya, semua orang yang ditemuinya menyapanya dengan ramah. Sudah terhembus kabar tentang kehebatan Tia, maka dari itu tidak ada satupun yang bergosip dibelakangnya tentang kembalinya dia bekerja diperusahaan.


Sudah lama rasanya Tia tidak mengenakan baju kerjanya, baju itu tetap muat ditubuh Tia karena perempuan cantik itu tetap menjaga berat badannya. Tia melangkah pasti dengan sepatu hak tinggi yang baru saja dibelinya kemarin setelah meninggalkan Cindy dikantor. Rambut hitamnya ia gulung ke atas bak pramugari, menampakkan garis leher yang begitu indah.


Tia menempati ruangannya yang dulu karena Rio memilih untuk berpindah keruangan Cindy. dan betapa mengejutkannya karena ruangan itu sudah dibersihkan dari semua barang Rio.


“Selamat pagi, Bu Tia. Kami sangat senang Bu Tia bergabung kembali dengan kami.” Seluruh anggota tim Tia terdahulu maupun anak baru masuk keruangan Tia dan mengucapkan selamat.


“Terimakasih, semuanya. Kalian mau menerima kehadiran saya kembali dengan hangat.”


“Saya sampai tidak bisa tidur semalaman karena sudah tidak sabar untuk bekerja kembali dibawah kepemimpinan Bu Tia.” Ucap salah satu anggota termuda di tim itu.


“Apa? Bukannya kalian berada di bawah kepemimpinan Pak Rio?”


“Kemarin setelah Pak Rio tahu jika dulu ibu yang menempati ruangan ini dan akan kembali keperusahaan, sebelum kami pulang beliau mengadakan rapat mendadak dengan tim kami dan juga tim Bu Cindy. Pak Rio mengembalikan kami kepada Bu Tia, sedangan beliau akan berada diatas tim Bu Cindy.”


“Betulkah?” tanya Tia seakan masih belum percaya.


“Betul, Bu. Bahkan Pak Rio mewanti-wanti kepada kami agar lebih baik bekerja dengan Bu Tia.” Tambah karyawan laki-laki kali ini.


“Apa Bu Tia berteman baik dengan Pak Rio?” tanya yang lain.


“Tidak. Saya tidak kenal Pak Rio. Kemarin saya baru saja bertemu dengan Pak Rio.” Jawab Tia.


“Tapi kenapa Pak Rio . . .”


“Baiklah, nanti saya akan menemui Pak Rio dan mengucapkan terimakasih karena sudah membuat saya kembali dengan tim ini. Terimakasih semuanya.” Ucap Tia cepat.


“Terimakasih kembali, Bu. Kami pamit kembali kemeja kami dulu ya, Bu. Kami menunggu untuk perintah dari Bu Tia.” Ucap Devi.

__ADS_1


Karena tau Tia sedikit bingung, ada yang menambahkan informasi yang dimaksud oleh Devi. “Maksud Devi, tentang proyek yang sebelumnya bermasalah itu, Bu. Saya dengar jika Bu Tia yang mengambil alih proyek itu.”


“Ah, betul. Saya hampir lupa. Beri saya waktu untuk mempelajari proposalnya lebih lanjut. Setelah itu saya akan memanggil kalian untuk rapat.”


“Baik, Bu.” Jawab mereka serentak. Binar-binar kebahagiaan terpancar jelas dari mata semua anggota tim. Karena selama bekerja bersama dengan Rio, mereka merasakan tekanan yang begitu hebat karena Rio begitu disiplin dan penjunjung tinggi kesempurnaan dari hasil sebuah pekerjaan.


Tok . . . tok . . . tok . . . tok . . . Tia mengetuk pintu kaca ruangan Rio.


“Tia? Apa yang membawamu kesini? Masuklah?”


“Maaf aku mengganggumu, Rio. Ini hanya sebentar. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih, atas ruangan dan juga anggota timku.”


Rio tersenyum melihat Tia yang berbicara dengan sangat ramah, walaupun diketahui ada sedikit keterpaksaan ditatapan matanya.


“Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu dari ucapan terimakasihku?”


“Tidak, tidak. Aku hanya senang melihatmu berbicara santai denganku.”


“Kamu yang memintanya terlebih dahulu. Dan jika aku memanggilmu dengan namamu, rasanya kurang pas jika aku menggunakan sapaan ‘saya dan Anda’ bukan?”


“Tapi kenapa kamu menolak Cindy saat dia mencoba memanggilmu?”


“Kemarin aku sudah memberikan jawaban. Jika hanya kamu yang bisa memanggilku secara langsung. tidak dengan orang lain yang berada dikantor ini.”


Tanpa mereka sadari, beberapa karyawan diruangan luar melihat interaksi antara Tia dan Rio. Ruangan Rio yang terbuat dari kaca bening membuat semua aktifitas didalamnya terpampang jelas jika pemiliknya tidak menutupnya dengan gorden.


Group chat rahasia:


A: Kalian tahu apa yang baru saja aku lihat? Pak Rio yang bermuka sedingin es itu, tersenyum manis dihadapan Bu Tia!!!”


B: Benarkah? Uhhhh . . . aku pingin lihat keduanya.

__ADS_1


A: Aku sangat bersyukur bisa bekerja dibagian yang sama dengan mereka. Aku rasa batu es sudah mulai mencair.


C: Benarkan dengan Bu Tia? Padahal Bu Caren yang secantik dan sebohai itu, yang terang-terangan mendekati, ditolak mentah-mentah oleh Pak Rio.


B: Tetap Bu Tia juaranya dong. Mari kita kawal kapal mereka sampai menikah!!!


Toni : Hey, kalian! Jangan mengawal kapal haram, dong. Bu Tia itu punya suami, dia juga ada didalam group chat ini, tau!!!


D: Sebentar lagi kapal Bu Tia dan Pak Rio akan segera halal, bukankan Bu Tia akan segera bercerai? Lihat saja kelakuan temanmu itu yang kemarin terciduk berciuman sama anak magang yang kegatelan itu. Sungguh tidak tahu malu.


B: Biar tahu rasa si Gilang. dapat istri cantik dan baik malah diselingkuhin. Baru tau rasa kan sekarang, biarkan Bu Tia mendapat yang lebih baik.


A: Aku sangat sedih jika Pak Rio berpaling keperempuan lain, tapi kalau untuk Bu Tia, aku akan ikhlas.


C: Ceilah, Pak Rio juga gak akan ngelirik kamu.


A: Sirik aja, lu pada.


‘Gilang left’


C: Eh . . . eh, ada yang keluar dari group say.


A: Kepanasan nampaknya. Biarin aja, emangnya dia pikir dia doang yang bisa dapat gebetan lagi. Bu Tia dong lebih hebat sabetannya.


Toni: Udah cukup! Nanti aku laporin kalian kekepala bagian kalian masing-masing.


A: < emoticon marah >


 


“Sekali lagi saya ucapkan terimakasih, Rio. Saya kembali keruangan saya dulu.” Ucap Tia, dan dia berdiri dari kursi yang sedari tadi didudukinya.

__ADS_1


“Jika ada yang kamu perlukan, aku siap melakukannya.”


“Aku rasa itu tidak perlu.” Tia membuka pintu ruangan Rio dan keluar dari ruangan itu. Saat Tia berjalan kembali keruangannya, beberapa karyawan memanndangnya sambil tersenyum dan menyapanya. Tia merasakan ada yang aneh dari senyuman karyawan yang lainnya. Tapi Tia tidak memusingkannya dan memanggil anggota timnya untuk rapat diruangannya setelah itu.


__ADS_2