CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 50


__ADS_3

“Selamat atas perceraianmu, Tia.” Sambut Cindy dengan antusias saat Tia berkunjung kerumahnya.


“Pelankan suaramu, jika tidak ingin diusir karena mengganggu ketenangan lingkungan komplek.” Protes Tia.


“Sekarang potong kuemu dulu?” Cindy mengambil kue cake berlapis coklat putih cantik.


“Hah??? Untuk apa?”


“Tentu saja untuk merayakan kebebasanmu. Cepatlah minta permohonan dulu lalu potong kue itu.”


“Tunggu satu orang lagi kalau begitu.”


“Siapa?” tanya Cindy sambil melihat kearah luar rumahnya. Saat Cindy menyipitkan matanya untuk memfokuskan pandangannya, dilihatnya pria dengan aura tampan sedang berjalan masuk kerumahnya menggunakan setelan jas yang lengkap.


“Waaauuuw . . . apa ini? Hubungan kalian berkembang begitu cepat tanpa sepengetahuanku.” Ledek Cindy.


“Jangan aneh-aneh, bukannya kamu yang memintaku mengajaknya kesini untuk pergi bersama. Kamu tidak sedang berbohong kan kalau kita akan fitting baju?”


“Iya, iya jangan marah. Aku hanya meledekmu saja.”


“Sore Cindy.” sapa Rio saat dia sudah masuk kedalam rumah Cindy.


“Selamat sore, Pak Rio. Silahkan duduk.” Ramah Cindy.


“Kue apa itu?” tanya Rio penasaran dengan kue yang sedang Cindy pegang.


“Ini adalah kue perayaan kebebasan Tia dari belenggunya, Pak. Hari ini Tia secara sah telah bercerai dengan Gilang.”


“Itu memang sepadan untuk dilakukan. Cepat buat permohonan dan potong kuemu itu sebagai perayaan.”


“Kamu juga Rio?” tanya Tia dengan sinis.


“Kenapa? Itu patut dirayakan.” Jawab Rio singkat dan dagunya sudah menunjuk kearah kue itu. Tanda agar Tia segera memotong kuenya.


“Oke, oke. Kalian berdua memang luar biasa.” Tia terdiam sebentar dan meminta permohonan seperti yang Cindy dan Rio inginkan. Dalam doanya, Tia menginginkan kebahagiaan untuk sahabat terkasihnya, Cindy. Setelah itu, Tia segera memotong kue itu dan memberikan satu suapan kepada Cindy dan setelah itu untuknya.

__ADS_1


“Aku?” tanya Rio pada Tia.


“Silahkan, ini untuk Anda.” Tia memberikan satu potong kue besar untuk Rio makan sendiri.


“Kamu tidak menyuapiku?”


“Rio, tunggulah disini sebentar, dan makan kuemu. Aku ingin mandi sebentar, rasanya tubuhku tidak nyaman.” Tia tidak merespon rengekan dari Rio.


“Tentu saja, lakukan apa yang kamu inginkan.”


“Uuuuuu . . . Pak Rio yang dingin kenapa begitu hangat didepan Tia? Rasanya seperti merasakan hangatnya matahari yang baru terbit dipagi hari.” Cindy terus meledek.


“Cindy!” panggil Rio dengan tatapan yang sudah berubah sedingin es.


“Baik, Pak. Maafkan saya.” Cindy langsung berhenti setelah mendapatkan peringatan dari Rio. Padahal Cindy bukan lagi menjadi bagian dari perusahaan, tapi entah kenapa setiap berada dihadapan Rio, mentalnya kembali seolah menjadi seorang bawahan yang takut akan atasannya, padahal sebenarnya posisi mereka sama saat bekerja. “Saya permisi menyusul Tia kedalam dulu, Pak. Permisi.” Cindy cepat-cepat kabur dari ruang tamunya sendiri.


“Cind, tolong pinjamkan baju lamamu. Aku tidak mau jika nanti mencoba gaunku dengan tubuh yang lengket karena keringat.” Ucap Tia saat tahu Cindy sudah masuk kedalam kamar dan berada didekat kamar mandi.


“Kamu mau gaun?”


“Boleh saja, jangan warna atau corak yang mencolok.”


“Terimakasih, Cindy.”


“Kembali kasih, sayang. Aku keluar dulu membuatkan minuman untuk Pak Rio.” Cindy melangkah menuju dapur membuatkan kopi panas untuk Rio.


“Silahkan diminum, Pak.”


“Terimakasih.” Ucap Rio singkat lalu mulai mencicipi kopinya.


“Bapak tidak mau mandi sekalian?”


“Saya sudah mandi tadi sebelum pulang. Apa kamu lupa jika kantor memiliki fasilitas yang sangat lengkap.”


“Tentu saja Bapak sudah mandi, Bapak sudah sangat menawan.”

__ADS_1


“Satu pertanyaan!” Rio meletakkan cangkir kopinya. “Apa hubungan kita? Kenapa saya harus ikut menjadi bagian dari pernikahanmu?” tanya Rio yang saat ini sudah menghadap kearah Cindy duduk.


“Saya akan jujur dengan Bapak. Posisi Bapak disini adalah sebagai pelindung Tia?”


“Pelindung?”


“Sejujurnya, teman saya yang pergaulannya tetap terjaga hanya Tia, Pak. Istilahnya, Tia bagaikan permatta diantara duri yang tajam. Dan nanti kebanyakan teman saya yang datang adalah teman-teman saya dari dunia malam, saya takut jika Tia terkena rayuan gombal para buaya darat.” Cindy memberikan bumbu kebohongan dibeberapa bagian kalimatnya.


“Tia hanya perlu tidak usah datang ke pernikahanmu.”


“Tentu saja tidak bisa, Pak. Tia itu sahabat saya satu-satunya. Walau teman saya banyak, tapi Tia berbeda. Saya ingin hari bahagia saya disaksikan dan dihadiri oleh seseorang yang selalu mendukung saya dengan sisi positifnya.”


“Tapi jika Bapak tidak bersedia, saya tidak masalah. Saya akan mencari orang lai untuk menggantikan Pak Rio.” ancam Cindy.


“Tidak! Tidak, jangan lakukan itu. Biar saya saja yang akan mendampingi Tia.”


Cindy tersenyum puas. Dalam senyumnya tersirat rasa kemenangan karena bisa membuat Rio terlibat dalam pernikahannya.


“Cindy, apakah tidak ada gaun lain selain ini?” Tia pergi kedepan dengan gaun merahnya yang hanya melilitkan tali dari atas dadanya menuju lehernya. “Aku sedang tidak ingin pergi kepantai, Cind. Kenapa aku harus memakai baju seterbuka ini?”


Cindy menghampiri Tia yang sedikit kurang nyaman dengan gaun terbukanya dan memperlihatkan punggung atasnya yang putih mulus. Sedangkan panjang rok itu tidak lebih dari selutut Tia. Rio dari ruang tamu memperhatikan Tia yang sedang protes dengan Cindy. Matanya sama sekali tidak berkedip, dan senyum tipisnya muncul disudut bibirnya. Pria itu sangat mengagumi semua yang ada pada diri Tia.


“Hanya ini baju yang sedikit pantas punyaku, Tia. Selain ini aku hanya punya baju kerja atau daster rumahan. Atau kamu mau pakai baju yang biasa aku pakai saat di club malam? Baju itu lebih terbuka dann menggoda.”


“Tidak! Aku tidak mau baju itu. Lebih baik pinjami saja aku dastermu. Pantas saja kamu memberikan bra tanpa tali, ternyata ini memang rencanamu.” Tia sedikit marah pada sahabtnya.


“Aku sungguh-sungguh, gaunku yang lainnya lebih parah dari ini. Sekarang duduklah didepan Pak Rio, temani dia, aku akan mengganti bajuku.” Cindy mendorong Tia untuk duduk didepan Rio.


“Maaf, Rio. Penampilanku mungkin tidak nyaman untuk dipandang.”


“Cantik. Kamu cantik. Apapun yang kamu pakai, semuanya terlihat cantik.” Rio mengucapkannya dengan tatapan mata yang begitu intens dan suara yang begitu halus.


Deg . . . deg . . . deg . . . deg . . . jantung Tia tiba-tiba berdegup kencang, Tia bingung kenapa dia bisa berdebar hanya karena Rio mengatakan kalimat sederhana itu.


“Jangan menatapku terus, Rio. Nanti wajahku bisa terbakar karena tatapanmu.”

__ADS_1


“Oh, maafkan aku. Beri peringatan padaku jika aku mulai kurang ajar padamu.”


“Tentu saja akan aku lakukan!” jawab Tia tegas. Dihadapan Rio, Tia mulai menyentuh rambutnya dan mengumpulkannya kebelakang. Tia menguncirnya sedikit keatas dan mengikatnya dengan karet rambut miliknya. Rambut panjangnya menjuntai dan bergerak berirama saat angin dari luar menerpanya. Rio tidak sadar memperhatikan Tia lagi dengan tanpa berkedip, pria itu memperhatikan leher jenjang Tia yang begitu memikat baginya. Terbesit dipikirannya untuk menyentuh dan mengecup leher itu segera. Tapi kesadarannya cepat dia kembalikan sebelum pemilik leher itu menangkap basah dirinya dan mulai memberikan peringatan kembali.


__ADS_2