CHOICE IN MY LIFE

CHOICE IN MY LIFE
BAGIAN 47


__ADS_3

“Maaf, Bu Tia, apakah saya boleh duduk disebelah ibu?” tanya Ilham sedikit ragu. Siang itu kantin kantor sedikit lebih ramai sehingga tidak banyak lagi kursi yang kosong, dan Ilham adalah pegawai baru dibawah kepemimpinan Tia, jadi dia memberanikan diri untuk bertanya kepada Tia.


“Tentu saja, silahkan. Ini milik umum, bukan hanya milikku.” Tia mempersilahkan.


“Terimakasih, Bu.” Ilham duduk dan meletakkan piring makanannya dimeja. Tidak membuang-buang waktu, Ilham langsung melahap makanannya dengan cepat sehingga membuatnya tersedak.


Uhuk . . . uhuk . . . uhuk . . . Ilham terbatuk-batuk. “Maafkan, uhuk . . . maafkan saya, Bu.” Ilham memaksakan meminta maaf pada Tia disela batuknya.


“Tak apa, pelan-pelanlah, apa yang membuatmu begitu terburu-buru. Minumlah, ini sama sekali belum kusentuh. ” Tia memberikan satu gelas air putih miliknya yang belum sempat diminumnya.


“Terimakasih, Bu.” Ilham menerima gelas itu dan langsung meminumnya perlahan, detik berikutnya dia sudah bisa menghirup nafas lega.


“Pelan-pelanlah, jangan sampai kamu tersedak lagi.”


“Saya takut tidak bisa menyelesaikan pekerjaan saya karena waktu makan saya yang terlalu lama, Bu. Saya ingin segera menyelesaikannya, saya tidak mau membuat Bu Tia kecewa. Saya takut tidak bisa menyelesaikan pekerjaan saya tepat waktu karena saya pegawai baru.”


“Berapa usiamu?” tanya Tia.


“Saya? Usia saya tahun ini 20 tahun.”


“Semangatmu itu sangat bagus, Ham, tapi jangan lupakan istirahat. Bekerja keras itu sungguh bagus untuk saat ini dan masa depan, tapi semua itu tidak akan ada artinya jika kamu tidak mementingkan kesehatanmu. Istirahat kita hanya 90 menit, jadi manfaatkan waktu istirahatmu itu sebaik mungkin. Makanlah, minumlah, dan bergaulah dengan yang lainnya. Bahagiakan dirimu, karena jika perasaanmu bahagia maka pekerjaanmu juga akan sempurna.”


“Terimakasih, Bu Tia! Saya akan lebih bekerja keras lagi.” Ucap Ilham dengan penuh semangat. Tapi entah kenapa Ilham seperti merasakan aura yang kelam sedang menatapnya. Dia menoleh untuk mencari tahu apa yang terjadi, dan betapa terkejutnya dia karena Rio sedang memandangnya dengan tajam dari kejauhan.

__ADS_1


“Sa. . . sa. . . saya pamit dulu, Bu. Saya ingin makan dengan teman lainnya karena sudah ada kursi yang kosong dibagian sana.” Ilham berpamitan dengan suara yang terbata-bata.


“Hmm? Kenapa tidak melanjutkan disini saja?”


“Tidak, Bu. Saya permisi.” Ilham cepat-cepat pergi dari meja Tia. Hal itu membuat Tia merasakan ada sesuatu yang aneh, laki-laki yang tadinya sudah bersemangat tiba-tiba ketakutan seolah melihat iblis disiang bolong.


Saat Tia melanjutkan makannya, kursi didepannya bergeser dan ada seseorang yang duduk didepannya.


“Ini dia iblisnya.” Ucap Tia sepelan mungkin setelah melihat Rio sudah duduk didepannya dengan membawa secangkir kopi panas dan air putih hangat.


“Apa?” Rio bertanya karena tidak mendengarkan kalimat Tia.


“Tidak, bukan apa-apa. Kenapa kamu duduk disini?”


“Terserah padamu saja.” Tia menyerah untuk memulai perdebatan.


“Minumlah ini, jangan minum punyamu tadi. Sudah tidak higienis.” Rio menyingkirkan gelas bekas Ilham.


“Bagaimana bisa kamu membuat laki-laki yang berumur 20 tahun begitu ketakutan?”


“Apa aku ketahuan?”


“Siapa lagi yang bisa melakukannya jika bukan kamu?” Tia kehilangan selera makannya dan meletakkan sendoknya. Kini mereka berdua bisa mengobrol dengan lebih santai karena beberapa minggu ini digunakan Rio untuk terus mencoba mendekati Tia dengan cara berteman.

__ADS_1


“Aku hanya melihatnya saja dari jauh, dan tentunya mengisyaratkan untuk pergi menjauh darimu. Tapi harusnya aku tahu jika dia masih begitu muda, jadi aku tidak perlu khawatir.” Rio memberikan senyumannya yang sangat langka.


“Kenapa? Aku juga penyuka laki-laki yang lebih muda dariku. Mereka begitu manis saat berusaha mencari perhatianku.” Ucap Tia dengan santai. Kini senyuman Rio sudah lenyap kembali dari bibirnya.


“Apa perhatianku kurang manis padamu?” tanya Rio dengan serius.


“Sudahlah, Rio. Aku hanya bercanda, jangan memulai berdebat denganku. Aku kembali keruanganku dulu.” Tia berdiri dan bersiap pergi dari mejanya, tapi baru satu langkah, Rio sudah menahan tangan Tia agar dia berhenti. Dan karena hal itu membuat semua karyawan yang berada dikantin kantor mengarahkan pandangannya kepada dua manager itu.


“Lepaskan tanganku, Rio. Aku tidak mau menjadi pusat perhatian!”


Rio tidak mendengarkan protes dari Tia, Rio lebih memilih membawa Tia keluar dari kantin dan masuk keruangan tangga darurat.


“Aku tidak suka kamu membicarakan laki-laki lain dihadapanku, walaupun itu bercanda, Tia.”


“Apa? Rio! Kita tidak punya hubungan apapun, dan tidak akan pernah. Sekarang lepaskan aku.” Tia mencoba melepaskan tangannya tapi genggaman Rio lebih kuat karena tangan besarnya.


Rio menarik tangan Tia untuk menyentuh dadanya, dia ingin perempuan pujaan hatinya mengetahui detak jantungnya yang berdetak lebih keras saat didekatnya. Tia terkejut dan berusaha keras menariknya tapi tetap saja upayanya tidak membuahkan hasil.


“Apa kamu tidak bisa merasakan detak jantungku? Perasaanku ini nyata, Tia. Aku sungguh-sungguh.”


“Tapi kamu tidak bisa begini, Rio. Kamu memaksaku, kamu menyakitiku.”


Rio menarik tubuh Tia dengan paksa dan memeluknya dengan erat. Tia terus saja meronta ingin melepaskan pelukan Rio tapi lagi dan lagi usahanya tidak membuahkan hasil.

__ADS_1


__ADS_2