
“Sayang!!! “ panggil Gilang saat Tia melewati ruang keluarga saat menuju kamarnya.
“Ia, Mas.” Tia menghampiri suaminya yang duduk diruang keluarga lengkap dengan mama dan adiknya disana.
“Mas baru dapat kabar dari agen properti. Apartemenmu sudah ada calon pembelinya.” Jelas Gilang saat Tia sudah duduk disebelahnya.
“Betulkah? Cepat sekali mereka mendapatkan pembeli. Padahal baru dua minggu kita mendaftarkan apartemenku ke agen properti itu, Mas.”
“Bukankah tambah bagus, Tia. Berarti kamu sudah tidak akan kesusahan lagi untuk keperluan kita. Gilang juga bisa bernafas lega karena kamu bisa membantunya tanpa kamu harus bekerja diluar rumah.” Tambah mama Ratna.
“Laku berapa, Kak, apartemen Kak Tia?”
“Menurut informasi mereka, laku dengan sesuai permintaan Tia. 9XX juta lebih. Hampir ke 1M.” jelas Gilang pada adiknya.
“Wahhhh . . . apartemen Kak Tia rupanya sangat mahal.”
“Kak Tia mendapatkan apartemen itu dengan bekerja keras, Gaby. Perlu pengorbanan besar untuk mendapatkannya.” Jelas Tia.
“Bagus, berarti dengan penjualan mobil kemarin, totalnya hampir 1,3 M. Bagaimana jika Mama yang bantu untuk simpankan uang kalian?” tanya mama Ratna.
“Emmmm . . . itu, Tia . . .” Tia ragu dengan saran dari mama mertuanya. Dia memikirkan bagaimana caranya menolak saran dari mamanya tanpa harus menyinggung perasaannya.
__ADS_1
“Nanti depositonya atas Mama saja, tapi untuk kartu ATM yang terdapat bunga yang didapat tiap bulannya, bisa kamu yang pegang. Mama hanya membantu agar kalian tidak menggunakannya untuk keperluan yang tidak-tidak. Mama hanya membantu untuk menyimpankan saja, semuanya tetap milik kalian. Bagaimana?” Mama Ratna terlihat bersemangat saat mengutarakan pendapatnya.
“Aku rasa saran Mama cukup bagus, sayang.” Jawab Gilang.
“Tapi, Mas, itukan hasil penjualan apartemen dan mobilku, jadi rasanya lebih bagus jika kita yang menyimpannya. Maaf ya, Ma.” Tia meminta maaf pada mamanya.
“Apa kamu masih menganggap Mama bukan orang tuamu sendiri? Sehingga membuatmu harus lebih berhati-hati dan tidak percaya dengan Mama!” mama Ratna tersinggung karena Tia menolak saran darinya.
“Bukan begitu, Ma. Tapi . . .”
“Biarkan Mama saja yang membantu untuk menyimpannya, Tia. Niat Mama bagus kok, Mama tidak akan bertindak macam-macam dengan uang itu. Toh nanti kartu ATM nya tetap kamu yang memegangnya.” Gilang mencoba menjadi penengah dan mencairkan suasana yang mulai menegang.
Tia terdiam beberapa saat, menimbang keputusan apa yang harus dia ambil. Bagaimanapun semua yang terjual adalah kerja kerasnya dalam beberapa tahun. Disisi lain dia ingin tetap menghormati mama mertuanya. Begitu delima yang dia rasakan.
“Baiklah anakku sayang. Mama akan membantu menyimpankan uang itu.” Mama Ratna tersenyum sangat lebar saat Tia menerima saran darinya. “Gilang, besok minta agen properti untuk mentrasnfer uangnya ke rekening baru Mama. Besok pagi Mama akan pergi ke Bank untuk membuat akun baru.
“Baik, Ma.”
Malam itu Tia tidak dapat tidur dengan cepat. Entah kenapa hatinya tidak tenang sesaat setelah pembicaraan yang dia lakukan diruang keluarga. Dia membalikkan badannya kekanan dan kekiri untuk mencoba tidur. Tapi matanya selalu terjaga.
“Kamu kenapa, sayang? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Gilang saat menyadari istrinya resah.
__ADS_1
Tia bangun dari tidurnya dan duduk diatas tempat tidur. “Entah kenapa hatiku tak tenang, Mas. Masalahnya itu bukan uang yang kecil. Aku mendapatkan semua itu dari kerja kerasku bertahun-tahun.” Tia mencurahkan kekhawatirannya kepada Gilang.
“Apa kamu tidak percaya dengan mama?” Gilang mengikuti Tia dan duduk disebelah istrinya dengan wajah yang cukup serius.
“Bukan begitu, Mas. Tapi . . .”
“Apakah begitu sulit kamu merelakan uang itu untuk mama pegang? Lagi pula uang itu tidak akan dipakai apa-apa dengan mama. Beliau hanya membantu untuk menyimpannya saja. Itu semua demi kita, Tia.”
“Tapi coba Mas bayangkan jika berada di posisi Tia. Apakah Mas juga akan dengan mudah melepaskannya?”
“Uang itu tidak diminta oleh Mama, Tia! Uang itu hanya kita simpan di akun Mama. Hanya itu!” suara Gilang mulai meninggi.
Dan saat Tia tahu bahwa suaminya mulai terbakar emosi, dia menyudahi pembicaraan itu. Tia tidak mau harus bertengkar dengan suaminya. Tia juga merasa jika dia bersalah karena bagaimanapun juga dia menyinggung dari orang tua suaminya.
“Maafkan aku, Mas. Aku hanya terlalu takut. Karena aku pernah berada diposisi tidak punya apa-apa. Aku tahu bagaimana rasanya ditindas dan dikucilkan hanya karena tidak punya apa-apa.”
“Kamu punya aku. Kamu punya Mama dan juga Gaby. Apalagi yang kamu takutkan? Apa kamu benar-benar menganggapku sebagai suamimu?”
“Maafkan aku, Mas.” Tia memeluk tubuh suaminya yang duduk disebelahnya.
Gilang membelai rambut Tia dengan lembut. “Sekarang sudah malam, tidurlah.” Gilang membaringkan tubuh Tia secara perlahan dan menyelimutinya.
__ADS_1
Walaupun kekhawatiran dihatinya belum reda, Tia memutuskan untuk melupakannya sejenak dan tertidur dipelukan orang yang dicintainya.